Lelaki Berkaos Oblong
Cari Berita

Advertisement

Lelaki Berkaos Oblong

Rabu, 03 Januari 2018

Ketika Presiden Joko Widodo menggunakan kaos oblong (foto : Sriwijaya Post - Tribunnews.com)
Indikatorbima.com - Senyum di kulum wajah sumringah gaya ndeso. Berjalan santai diantara sibuk yang sangat. Kaos oblong warna merah paduan celana gelap pada peresmian kereta. Di dampingi pengawal yang berlarian dan pembesar negara berdasi.

Tak ada yang bisa dibanggakan dari orang biasa ini. Tapi selalu di elukan pada setiap kunjungan. Rakyat berkumpul, tumpah ruah seperti pasir mengitari magnet. Pidatonya tanpa retorika. Suaranya datar tanpa intonasi apalagi bergaya ala deklamasi atau orator para habaib dan ulama-ulama juru pidato kenamaan.

Tak mudah membuat prediksi siapa memenangi Pilpres 2019. Ada banyak calon yang ingin menjadi orang momor 1 di negara paling eksotik di dunia. Puluhan partai sekaligus puluhan orang-orang terbaik di negeri ini rela mengantre untuk sekedar mendapat tiket menjadi capres mendatang. Bahkan ada beberapa yang sudah kesusu 'macak presiden'.

Saya bukan pendukung apalagi memilihnya pada Pilpres tahun lalu. Tapi melihat jejaknya saat menjabat dia adalah sosok menarik, banyak disuka dan di dukung banyak orang. Dia bukan sosok sempurna seperti halnya calon lainnya, ada banyak kekurangan dan sedikit kelebihan. Dan sedikit kelebihan itu adalah disuka banyak orang. Rakyat kecil mencintainya lebih dari yang kita berikan untuknya.

Itu yang membuat lawan politiknya ketakutan dan membuat banyak berita hoax untuk menjadikannya buruk. Berbagai cara ditempuh untuk membuatnya terpuruk, mulai dari test DNA karena darahnya di duga mengandung unsur PKI. Bukan anak dari ibunya. Antek Neo-lib, turunan China seberang, hingga pemecah belah umat. Dan terpenting dia dianggap bukan dari golongan Islam, entah Islam yang mana.

Tapi ia tetap shalat, puasa dan bayar zakat. Beberapa kali haji dan umrah. Meski sebagian orang bilang pencitraan. Ia bergeming dan terus melangkah ringan, tak pernah membalas setiap keburukan yang diterima dari pembencinya dan sesekali berkata pendek. Siapa yang bisa menyebutkan Pancasila dengan urutan yang benar akan diberi hadiah sepeda ontel. Sepeda ontel kendaraan masa rakyat.  
Siapapun kita boleh bersetuju atau tidak bersetuju, ini negara demokrasi, dimana suara seorang Imam besar umat Islam, ayatullah atau seorang ketua partai sekalipun dihargai satu biting suara.

Lelaki itu ... semakin memikat banyak orang dan terutama wong cilik karena orang ini berkata-kata seperti yang mereka katakan dan berpakaian dengan pakaian yang mereka pakai bukan jubah atau gamis dari tanah negeri seberang.

Ahh laki laki itu ... 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar