Kisah Pilu Pedagang Terompet
Cari Berita

Advertisement

Kisah Pilu Pedagang Terompet

Selasa, 02 Januari 2018

Ilustrasi pedagang terompet (foto : Pojokpitu)
Indikatorbima.com - Di negara-negara teluk : Abu Dhabi, Uni Emirat, Shabah, Quwait dan Qatar perayaan tahun baru Masehi jauh lebih mewah dan meriah dari negeri Eropa. Di negeri dimana para pangeran dan syaikh royal membelanjakan hartanya untuk klub-klub sepak bola Eropa, sirkuit balapan mobil dan industri fashion.

Di Uni Emirates, gedung paling tinggi di dunia megah berdiri. Pantai mewah memanjang dengan ribuan pengunjung mengenakan bikini. Sirkuit termewah, lapangan bola termegah. Pesawat jet pribadi termahal. Hotel-hotel super mewah diatas berbintang ta'dzim melayani para pengunjung. Dan banyak lagi. Pendek kata semua simbol kemoderenan dan kemajuan Eropa di boyong.

Jangan heran kalau kemudian perayaan tahun baru di negara-negara teluk jauh lebih fantastis dibanding negara-negara rumpun Romawi apalagi dibanding negara kita Indonesia. Ratusan ribu kembang api di bakar, ratusan ribu terompet menyambut tahun baru di tiup ditambah genderang dan pesta semalaman. Ratusan ribu penduduk negeri yang mayoritas memeluk Islam dan menjadikan Hijriah sebagai kalender resminya, justru menjadi negara paling royal merayakan tahun baru Masehi. Di Burij Khalifah Dubai perayaan tahun baru super mewah di gelar.

Jutaan penduduk negara teluk berkumpul di mall, Plaza dan tempat-tempat umum lainnya. Di Jumeerah et Tihaad, hiburan dengan DJ super mahal digelar. Makanan termahal disuguh. Musik jazz dan rock ditabuh. Semua tersedia. Dubai pun dinobatkan sebagai penyelenggara perayaan tahun Masehi terbaik, termewah dan termahal dengan ratusan juta penonton.

Di Indonesia, kang Sedjo pedagang terompet berebut napas dengan para ustadz dan kyai yang mengharamkan terompet yang ditengarai tashabbuh. Gencarnya larangan membeli dan meniup terompet pada tahun baru terasa seperti halilintar menyambar di siang bolong.

Pagi itu kang Sedjo bersama isteri dibantu dua putrinya yang masih imut sibuk menggunting, melipat dan menggulung kertas kardus yang dibeli dari toko kelontong di pasar. Seperti tahun baru sebelumnya Kang Sedjo menjajakan terompet yang sudah dihias indah, sekitar dua sampai tiga ratus terompet laku terjual.

Anehnya meski para pem-fatwa haram tashabbuh bagi peniup terompet dan perayaan tahun baru masehi tak berasa di tangannya erat menggenggam Gadget, bermain Fb dan wa sambil meng-upload gambar selfi-nya di ig yang juga buatan orang Yahudi dan Nasrani. Entah berapa pulsa dan paket internet sudah ia beli, satu lagi perusahaan Yahudi di untungkan. 

Ribuan pedagang terompet dan kembang api kolaps tak sedikit yang digerebek sebelum di musnahkan, sementara ratusan milyar rupiah mengalir ke Telkomsel, Indosat dan geogle perusahaan besar milik orang-orang kafer.

Dubai tak sepenuhnya salah. Tahun baru hanya soal industri bagaimana menarik wisatawan datang. Jadi tak ada hubungannya dengan soal iman suatu agama. Pun dengan simbol-simbol kemoderenan yang diboyong dari Eropa juga tak dipersepsi sebagai tashabbuh. 

Meski Islam adalah agama resmi negara dan Hijriah menjadi kalender resminya tak menghalangi mereka merayakan tahun baru masehi. Sungguh fantastis ... dan Kang Sedjo pedagang dan pembuat terompet itu ada baiknya pindah ke Uni Emirat atau negara teluk lainnya, insya Allah saya yakin usahanya bakal maju pesat.

Terinspirasi tulisan Prof Habib Ahmad 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar