Ketika IL Meraih Juara Satu Untuk Ibu dan Bapak, Pahlawan IL
Cari Berita

Advertisement

Ketika IL Meraih Juara Satu Untuk Ibu dan Bapak, Pahlawan IL

Selasa, 09 Januari 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Jam yang telah di tetapkan untuk melakukan pengumuman semakin dekat, dan detak jantung aku pun semakin berdebar, rasa malu yang di campur rasa khawatir akan mendapatkan peringkat atau tidak selalu menghantui pikiranku.

Sebelum di mulainya pengumuman, acara pembagian rapor waktu itu di isi oleh sambutan kepala sekolah, yang masih aku ingat kata-katanya waktu itu bahwa orang tua murid harus bangga bisa menyekolahkan anaknya walau mereka harus membayar uang BP3 atau sekarang di kenal dengan uang komite serta uang pembangunan sekolah. Di tengah pembicaraan kepala sekolah itu, aku dibisiki oleh wali kelas yang sudah aku lupa siapa namanya, beliau bertanya sama saya; 

"Mimpi apa semalam IL,,,?

IL adalah nama sapaanku bagi guru-guru di bangku SD dulu.

Aku yang sedang di hantui oleh perasaan malu dan khawatir bertambah degdekan mendengar pertanyaan dari wali kelasku itu. Sejenak terdiam dan senyum tersipu malu ;

"Saya bermimpi naik gunung bu..!!! aku pun menjawab dengan polos, biasa waktu itu masih polos dan jujur ketika ada orang yang bertanya. Mimpi yang tidak aku pikirkan sebelumya itu mungkin karena kebiasaanku setiap pulang sekolah pergi cari sarang burung di gunung-gunung sama teman-teman.

Lalu wali kelasku melanjutkan pertanyaannya, "Kira-kira kamu bisa dapat juara ndak hari ini?"

Bagiku pertanyaan inilah yang sulit sekali di jawab, tapi dengan keyakinan tinggi aku menjawabnya, "Iya saya bisa dapat juara bu."

Kemudian wali kelasku bertanya lagi "Kira-kira juara berapa IL ? Dengan nada cemas aku menjawab lagi pertanyaan itu "Kalau itu saya belum tahu bu."

"Ya udah nanti kita tunggu pas pengumumannya saja." Katanya.

"Iya bu." Jawabku dengan penuh harap. 

Sambutan kepala sekolah telah usai dan acara yang di tunggu-tunggu oleh siswapun akan di mulai. Pemandu acara membacakan acara selanjutnya dan memanggil semua wali kelas untuk maju di depan untuk membacakan hasil akhir dari ulangan semester siswanya. Melihat semua wali kelas maju di depan, akupun semakin degdekan apalagi setelah di tanya-tanya sama wali kelas tadi. Kemudian, aku tidak lupa sesekali melirik bapakku yang sedang duduk di kursi wali murid, dalam hati, kuselalu berpikir akankah aku dapat juara dan juara berapa.

Hari yang semakin panas sehingga membuat para guru dan orang tua siswa harus mengusap keringat di dahi mereka dan para siswa sambil kipas-kipas muka mereka dengan buku pelajaran yang sempat mereka bawa.

Satu persatu wali kelas maju di depan untuk mengumumkan nama-nama siswa yang dapat juara. Pengumuman yang di mulai dari kelas satu itupun segera di mulai, dan setelah pengumuman kelas tiga usai kelas empatpun akan di mulai. Di situ aku benar-benar takut ketika namaku tidak di panggil sebagai salah satu siswa yang berjuara, dan kali itu aku menatap bapakku dengan pandangan yang begitu kosong, akankah namaku di panggil atau tidak, aku malu ketika bapakku hadir di acara itu dan dia hanya duduk menyaksikan orang tua siswa yang lain maju di depan dan mendampingi anak mereka, sedangkan bapakku tidak.

Pengumuman yang berdasarkan NIS dan nilai rata-rata itu di mulai dari yang juara tiga, wali kelas akupun mulai membacakan NIS dan nilai rata-rata dari urutan ketiga, dan hasilnya bukan nama aku yang dibacakan, tapi temanku yang duduk di depan bangku aku. Di situ rasa degdekanku semakin bertambah, apalagi melihat teman perempuanku yang sebelumnya mendapat juara satu, aku begitu malu karna aku lihat tergambar jelas di raut wajahnya kegembiraan bahwa dia lagi yang akan mendapatkan juara satu kali ini. Tapi setelah pengumuman yang pertama, NIS dan namanya diapun dibacakan oleh wali kelasku, sehingga dia meraih juara dua. 

Dalam hati sedikit ada harapan bahwa aku yang akan mendapat juara satu, karena dengan pertanyaan wali kelas tadi, oleh sebab itu aku yakin bahwa akulah yang meraih juara satu, dan terkadang juga aku berpikir bahwa bukan aku, tetapi yang lain, karna sebelumnya ada teman aku yang sedikit berbeda nilainya denganku waktu aku meraih peringkat empat dan dia berada di peringkat kelima. Karena itu aku semakin takut bahwa benar-benar namaku tidak di panggil di pengumuman kali ini. 

Setelah dibacakan hasil yang meraih juara dua, wali kelasku pun membacakan NIS dan nilai rata-rata yang juara satu. Di situ aku benar-benar degdekan, dan NIS yang tertera di halaman sampul rapor selalu saya ingat. Lalu wali kelas aku membacakan nilai rata-rata yang juara satu disertai dengan NISnya. All hasil yang dibacakan itu adalah NIS aku. Di situ aku merasa heran kenapa aku yang mendapat juara satu, kok bukan teman aku yang sebelumnya, karena dari kelas satu sampai kelas tiga berturut-turut menempati posisi itu, toh kali ini nama aku yang berada di posisi juara satu. Tapi dalam hati aku juga yakin bahwa namaku bisa berada di posisi itu karna selama ini aku selalu menggunakan waktuku untuk belajar, sehingga setiap kali pulang sekolah aku selalu membuka kembali catatan dari guru dan selalu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari mereka dengan jawaban yang tepat.

Rasa heran yang bercampur haru, akupun bangun dari tempat duduk dan maju ke depan. Dan bapakku pun di panggil untuk mendampingiku, di situ aku benar-benar bahagia karna bisa meraih juara satu dan melampui teman-temanku yang sebelumnya lebih sering mendapatkan posisi itu. Tapi dalam hatiku masih tersimpan rasa malu bahwa orang tuaku tidak sama seperti orang tua yang lainnya, tapi aku bangga bisa didampingi olehnya dengan prestasi yang lebih dari yang lain. Kala itu yang juara satu sampai tiga akan mendapatkan beasiswa dan di gratiskan untuk tidak membayar uang komite dan pembangunan sekolah.

Hal demikian bagi orang tuaku cukup luar biasa karna mengurangi pengeluaran mereka setiap harinya. Seusai acara pengumuman, pihak sekolah memberikan bingkisan kepada para murid yang mendapatkan juara. Aku masih ingat kala itu aku mendapat bingkisan yang isinya itu adalah buku satu lusin dan juga pulpen. Tapi bagi aku itu tidaklah seberapa ketimbang aku bisa meraih juara dan membuat orang tuaku bangga sekaligus bahagia.

Sepulang dari sekolah, di tengah perjalanan aku jalan bersama bapakku dan beberapa orang tua siswa yang lainnya. Sesekali melangkahkan kaki, aku selalu di tanya sama orang tua temanku.

"IL,, kamu makan apa sehingga kamu bisa dapat juara satu,"? Biasa pertanyaan orang dulu kebanyakan seperti itu, pertanyaan yang setelah dewasa ini bagi kita cukup seserhana untuk di jawab.

Saya juga ketika di tanya hanya tersenyum dan sedikit malu-malu, akan tetapi sesekali bapakku yang menjawab pertanyaan itu. 

"Saking saya ingin dia pintar dan bisa dapat juara, di rumah tidak pernah saya suruh dia bekerja apalagi ikut ke kebun melainkan dia harus belajar dan mengerjakan tugas dari gurunya di sekolah." Jawab bapakku kepada orang tua temanku itu.

"Iya.. siapa tau nasib dia kedepannya tidak sama seperti saya yang harus ke kebun setiap hari untuk bertani, dan cukup saya yang seperti ini jangan lagi mereka anak-anak saya." Lanjutnya bercerita dengan orang tua temanku itu, sekaligus tetangga kami di rumah.

Mulai dari situ aku belajar dengan giat supaya nanti bisa mendapatkan juara satu lagi, tetapi aku juga tidak beda jauh dari teman-temanku, setiap pulang sekolah setelah belajar aku juga ikut bermain sama teman-teman. Aku masih ingat dulu bahwa aku sering pergi cari kayu bakar, sarang burung dan pergi mancing di telaga milik orang walau itu di larang untuk memancing. Tapi aku dan teman-teman selalu diam-diam pergi mancing di sana. Kemudian ketika pemilik telaga itu sampai lalu melihat dan mengejar kami.

Yang paling aku ingat dulu adalah main bola, dimana aku sering nangis kalau ibuku ke pasar dan tidak membelikan aku bola, tapi karna menuruti kemauanku, ibuku pun membelikan aku bola dengan catatan aku harus rajin belajar dan rajin sholat. Selain membelikan aku bola, ibu juga membuatkan jadwal untukku, kalau magrib harus pergi belajar mengaji. dan ibu juga sering mengawasi ketika aku pergi mengaji. Dan lucunya suatu waktu aku pernah ketauan sama ibuku karena pulang duluan pada saat orang mengumandangkan adzan isya, dan seharusnya aku harus sholat dulu baru bisa pulang.

Karena semua yang belajar mengaji di masjid atau TPQ Ar-Rahman itu akan di absen setelah sholat magrib dan setelah sholat isya. Aku dan teman-temanku yang pulang duluan waktu itu rencananya mau pergi cari belut di sawah. Eh..ternyata aku di awasi sama ibuku, dan telinga akupun di jewer sama ibuku dan di suruh masuk kembali.

Dari harapan mereka itulah aku yang sekarang selalu bermimpi untuk menjadi orang besar, kelak nanti bisa membahagiakan mereka. Dengan hidup yang sederhana aku masih bisa melanjutkan pendidikan sampai hari ini, karna berharap suatu saat nanti aku bisa merubah keadaan keluargaku dan bisa membuat mereka lebih bahagia lagi. Bapak yang berstatuskan petani dan begitu pula ibu yang selalu berharap aku tidak sama seperti mereka nantinya, walau akhirnya akan kembali bertani sebagai kebiasaan dan penunjang kehidupan yang lainnya. 

Dewasa ini aku selalu berpikir kapan aku akan bisa membalas budi jasa mereka, walau itu hanya sedikit dari apa yang telah mereka berikan selama ini terhadap diriku. Pikiran seperti itu selalu menghantui waktu menjelang tidurku sampai hari ini, sehingga akupun harus benar-benar total dalam mencapai impianku untuk membahagiakan mereka walau hari ini aku berada di tanah rantauan. Tapi tidak mengurangi impianku dalam membahagiakan mereka walau aku berada di tanah rantauan, mungkin di tanah rantauan ini aku akan mendapatkan impian itu, sehingga suatu saat nanti aku bisa melihat orang tua dan juga keluargaku merasa bahagia dengan apa yang aku capai.

Bapak adalah pahlawan dalam kehidupanku dan ibu adalah sang motivator dalam perjuanganku serta kakak sebagai supporter bagi perjalananku dalam mencapai impian itu. Dengan demikian aku selalu bersyukur bisa lahir dari keluarga yang cukup sederhana seperti mereka dan yang tidak hentinya memberikan dukungan serta doa di setiap perjuanganku selama ini. Dan semoga Allah SWT, selalu melimpahkan rahmat kepada mereka semua dan memudahkan jalan bagiku dalam meraih impian untuk membahagiakan mereka semua.

Penulis : Abang Jebra
Editor   : Misbah