Kampung Kaum Tertindas
Cari Berita

Advertisement

Kampung Kaum Tertindas

Rabu, 10 Januari 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Sore ini kepala Desa dan beberapa anak buahnya gelisa tiada tara. Sejak berkeliling Desa dari pagi hingga petang, ia tak melihat satu pun anak muda yang sedang bermain gitar, bernyanyi dipinggir jalan, atau pun merayu janda kembang yang pulang dari pasar.

Yang terlihat hanya bujang lapuk yang berselimutkan sarung NGGOLI, menunggu Tuhan berbaik hati melemparkan bidadari dari surga dan jatuh tepat dipelukannya. Oh oh oh...,indahnya khayalan Itu. 

"Kenapa?" Bisik beliau kepada SEKDES disampingnya.

"Pada kemana pemuda di kampung ini." Lanjutnya.

"Berdasarkan ilmu sosiologi, itu namanya, URBANISASi." Sahut ibu Khalimah yang menjual sayur keliling di kampung ini. 

"Dimana, perpindahan penduduk dari desa ke kota, salah satu penyebabnya mau cari uang yang banyak." weh, cerdas juga sang Ibu, aku melotot.

Orang pada heran, dari mana dia tahu kata itu, bahkan seorang sarjana muda pun belum tentu mengerti, karena ketika kuliah sering menderita virus merah jambu. Virus menular yang tiada obatnya, kecuali sering bertemu.

Aku bertanya, "Ibu Khalimah tahu dari mana tentang Urbanisasi?"

"Saya membaca dari koran bekas bungkus cabe nak," jawabnya sambil tersenyum tipis.

"Keren bu," ungkap ku.

Anak muda produktif di kampung banyak yang pergi merantu ke kota dan meninggalkan desa demi impian kehidupan yang lebih baik, katanya. Termaksuk aku. Tidak ada orang yang mau hidup miskin, semua orang memimpikan kehidupan yang mewah dan kaya raya. Yang ini, aku tidak termasuk. Arul adalah salah satu pemuda yang bertahan di kampung.

"Memang ku akui bahwa hidup kami tanpa kejadian-kejadian yang mendebarkan hati, tak mempunyai keramain yang seru, tapi aku dengan segala hidup ku, bahagai hidup di kampung ini," kata Arul.

"Hari ini kau bisa menjadi kaya, tapi besok mungkin sudah menjadi gelandangan. Lain dengan di pedesaan seperti kami ini, kami mempunyai cara yang lebih baik dari itu. Harus kau tahu bahwa perut seoarang petani itu tipis, tetapi panjang. Artinya, ia mungkin tidak pernah akan kaya, tetapi selalu cukup-cukup aja." Puitis betul Arul, tapi aku tahu kata-kata itu kutipan dari cerpennya Leo Tolstoi.

"Begitulah hidup kami di kampung, cukup tanpa pakaian bagus, tanpa pergaulan aneh kaum terpandang, bagaimanapun keluargaku membanting tulang, tetap kita akan hidup dan akan mati didalam lumpur. Memang hidup kami seperti ini. Walaupun berat, tetapi tanah ini milik kami dan kami tidak perlu membungkung atau menjilat pada siapa pun kerana kami adalah Tuan Bagi Diri Kami Sendiri," Begitulah Arul menutup orasinya didepan sapi-sapi kuning yang mirip budak birokrasi, tapi ia tidak tersinggung, karena ia lagi asik membajak sawah ketika warna merah diwaktu senja. 

Suara Gemiricik BENHUR (Dokar) menutup kunjungan elit kepala desa petang itu, beliau saat ini sangat rajin menyapa warga desa, mungkin pertada bentar lagi akan ada PILKADES (Pemilihan Kepala Desa).

Sang kepala Desa pun pulang karena Adzan mahgrib sudah terdengar dengan sangat merdu, tapi beliau bingung, ia harus pulang di rumah istri pertama atau pulang ke rumah istri kedua yang lebih muda dan jelita. Susah membedakan mana sunah Rasul dan mana nafsu birahi, tapi satu hal yang harus kau tahu kawan, "aku bangga terlahir sebagai anak kampung,"

Penulis : Taufik Rahmansyah