Jangan Biarkan Pesta Demokrasi "Politik Praktis" Merusak Ukhuwah Kita
Cari Berita

Advertisement

Jangan Biarkan Pesta Demokrasi "Politik Praktis" Merusak Ukhuwah Kita

Rabu, 10 Januari 2018

Foto : Penulis (sedang berbicara menggunakan Mic)
Indikatorbima.com - Pesta Demokrasi yang disebut dengan pemilihan calon pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima sudah di mulai dan akan berlangsung selama beberapa bulan kedepan. Beberapa pasangan sudah dan akan resmi mendaftarkan diri kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bima. Bahkan sudah ada yang mendeklarasikan dirinya bersama pasangannya secara langsung dihadapan ribuan masyarakat Kota Bima. 

Mereka (paslon) mulai hadir di tengah-tengah masyarakat Kota Bima dalam rangka memperkenalkan dirinya sekaligus menyampaikan apa maksud dan tujuan mereka berkenalan dengan masyarakat. Pada saat yang sama, mereka adalah orang-orang yang memiliki niatan baik, tentu mereka harus menunjukan hal itu agar masyarakat tidak ragu untuk memilih mereka. Pada saat itu mereka menjadi orang-orang yang bersikap baik, bertutur kata baik, memiliki niat dan tujuan yang baik. Semuanya baik, dan mudah-mudahan mereka memang orang-orang yang baik, Bukan baik karena ada maunya.

Beberapa Partai politik digandeng kanan kiri, Baliho dipajang hampir disetiap sudut jalan raya, diselokan, bahkan di setiap sudut Kota, brosur bertebaran dimana-mana, media massa menjadi aktif berbicara politik, ada juga yang spesifik berbicara salah satu pasangan calon, media sosial apalagi. Hampir setiap hari wajah pasangan calon ini muncul di dinding media sosial kita.

Tidak terlepas dari itu, tim sukses yang juga beramai-ramai mendeklarasikan diri dalam keadaan siap siaga, kesana kemari, bahkan hidup dan mati pun rela dipertaruhkan hanya untuk memenangkan calon pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima yang mereka usung. Lihatlah betapa semangatnya mereka dalam berjuang. 

Adakah yang salah dengan semua itu? Saya katakan tidak! Sama sekali tidak salah! Dalam politik praktis semuanya normal-normal saja. Setiap orang berhak untuk memilih dan dipilih. Bahkan harus begitu memang, kalau tidak begitu bukan politik praktis namanya. Lalu apanya yang salah? Kenapa politik praktis itu menjadi penting untuk dibahas selain daripada kegiatan-kegiatan praktis dan seremonial seperti itu? Adakah dampak yang berkepanjangan sementara prosesnya begitu singkat, padat, dan jelas (waktu politik)?

Setiap dari mereka dan hal-hal yang mereka lakukan adalah bagian dari proses demokrasi, bagian daripada pemenuhan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang merdeka dalam hal berekspresi, berserikat, berkumpul menyatakan pendapat bahkan menentukan pilihan di mata umum. Itulah perilaku politik individu dan kelompok masyarakat tertentu. Sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus menghargai dan menghormati mereka kapan pun dan dimana pun mereka berada.

Dan kita tahu, bahwa perilaku politik individu-individu di dalam masyarakat merupakan ujung tombak daripada pesta demokrasi itu sendiri, dimana masyarakat yang terdiri dari individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu, berusaha untuk memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang baik dan benar. 

Dan kita juga tahu, bahwa partisipasi politik masyarakat atau keikutsertaan yang terjadi dalam masyarakat, cenderung tidak karena kesukarelaan atau karena kemerdekaan, melainkan karena sesuatu hal lain disekitar mereka. Ada yang dipaksa untuk ikut serta, atau terpaksa ikut karena dipaksa, ada juga yang ikut karena uang atau serangan fajar dan masih banyak lagi karena yang lainnya.

Tapi, semuanya terjadi begitu saja, baik secara sadar maupun tidak sadar. Terkadang kita terlena, kita terbuai dan terbawa oleh suasana (Baper). Sampai kita lupa, bahwa semua itu akan dan segera berakhir.

Tentu kita tahu bagaimana akhir dari semua proses itu. Akan ada kemenangan dan kekalahan, akan ada kebahagiaan dan kesedihan, penderitaan, kekecewaan, tangisan, bahkan tidak jarang akan berakhir dengan perselisihan dan permusuhan, dan lain sebagainya. Semua itu kita rasakan karena kita merasa telah berjuang menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga, lebih-lebih finansial.

Tapi tahukah kita bagaimana cara mengakhiri semua itu? Mengakhiri kesedihan, penderitaan, tangisan, permusuhan, perselisihan atau kemenangan itu tadi? Perlukah kita memandang sebelah mata teman kita, hanya karena kita kalah atau menang? perlukah hubungan seorang ayah dan anak, ibu dan anak, istri dan suami, adek dan kakak, paman dan bibi, keponakan dan sepupu, keluarga dengan keluarga atau tetangga dengan tetangga, atau teman dan teman, guru dan dosen, mahasiswa dan siswa, dan hubungan yang lain menjadi renggang, menjadi musuh bebuyutan, menjadi tidak mau saling bantu membantu, menjadi tidak masuk kelas hingga mahasiswa atau siswa terlantar di warkop-warkop di jalan-jalan hanya karena guru dan dosen tidak masuk kelas?

Perlukah kita berkelahi, saling mencaci-maki, atau saling fitnah hanya karena beda pilihan? Atau karena beda pandangan? Perlukah itu semua terjadi hanya karena Pilwali? Mungkin bagi sebagian orang hal itu perlu, tapi bagi saya atau mungkin bagi kita semua, itu semua sangat tidak perlu terjadi.  

Tentu kita semua tidak mau menjadi korban atau dikorbankan oleh politik praktis itu. Saya tidak mau mengorbankan hubungan baik antara saya dengan orang tua saya, antara saya dengan keluarga saya, antara saya dengan guru dan dosen saya, antara saya dengan tetangga-tetangga saya, antara saya dengan sahabat-sahabat saya. Saya tidak mau itu terjadi, dan tidak akan pernah saya biarkan!

Betul saya akan mendukung dia atau mereka, betul saya ingin mereka menang, betul saya akan memilih dan berbeda pilihan dengan mereka, betul saya akan ikut berjuang misalnya. Tapi tidak betul, ketika semua itu dilakukan dengan cara mengorbankan masyarakat.

Politik praktis itu menjadi penting untuk dibahas dan dikupas tuntas ketika masyarakat hendak dijadikan korban untuk mendapatkan kekuasaan. Politik praktis menjadi penting ketika masyarakat memilih bukan karena hati nuraninya. Politik praktis menjadi penting ketika perilaku dan partisipasi politik disalahgunakan hanya karena uang. Dan politik praktis sangat penting untuk mereka yang haus akan kekuasaan semata. Bukan untuk atau demi kebaikan bersama.

Menurut hemat penulis, semua pihak adalah penanggungjawab, tidak terlepas dari paslon itu sendiri. Kita semua memiliki tanggungjawab untuk mensukseskan pesta demokrasi ini agar berjalan sebagaimana mestinya. Berikanlah kemerdekaan atau kedaulatan itu kepada masyarakat untuk memilih. Kita semua bertanggungjawab untuk menjaga Ukhuwah, perdamaian, persatuan, kekeluargaan, dan silaturahmi, atau minimal menjaga diri kita sendiri untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang dapat merusak perdamaian, persatuan, kekeluargaan, dan silaturahmi itu tadi. Jangan biarkan pesta demokrasi merusak semua tatanan baik menjadi buruk. Ingatlah semua awal pasti akan berakhir, dan kita harus mengakhiri awal yang baik itu, dengan akhir yang baik pula.

Penulis : Furkan As