Ini Kronologis Penembakan Warga Lambitu Oleh Anggota Polres Panda
Cari Berita

Advertisement

Ini Kronologis Penembakan Warga Lambitu Oleh Anggota Polres Panda

Minggu, 21 Januari 2018

Foto : Kondisi Ahmadin saat ditemui oleh reporter Indikator Bima di kediamannya masih belum bisa berjalan, Sabtu (20/01/18) kemarin.
Indikatorbima.com - Peristiwa penembakan yang dilakukan oleh salah seorang anggota Polres Panda Kabupaten Bima sekitar pukul 23.00 WITA Jum'at (19/1/2018) lalu berawal ketika Ahmadin dan keponakannya M. Sidik (22) sedang mencari anjing liar menggunakan tali disekitar Pantai Kalaki, Minggu (21/01/18).

Sebelum sampai ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) penembakan. Ahmadin bersama keponakannya mengambil motor miliknya disalah satu bengkel yang di Talabiu.

"Awalnya saya mengambil motor di Talabiu yang saya service sudah satu minggu lamanya dan saya mengajak keponakan saya M.Sidik untuk mengambil motor itu," ujar Ahmadin kepada Indikatorbima.com saat di temui di kediamannya di RT 01/RW 01 Desa Londu, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima.

Usai mengambil sepeda motor di Talabiu, Ahmadin diajak keponakannya M. Sidik untuk mengambil senapan kelereng di rumah temannya, untuk membedil babi hutan ketika menjaga sawahnya di Lambitu.

"Setelah itu, saya diajak oleh keponakan saya untuk mengambil senapan kelereng di rumah temannya Sidik di Kota bima dengan tujuan senapan itu akan digunakan sebagai alat membedil babi di hutan ketika menjaga sawah, dan senapan itu juga masih rusak mau diperbaiki" terangnya. 

Setelah mengambil senapan kelereng dari rumah teman keponakannya, Ahmadin bersama keponakannya mencari tali dan kayu untuk menangkap anjing liar untuk menjaga sawah dari babi hutan yang biasanya merusak tanaman di sawah mereka.

"Setelah mengambil senapan, kami mencari tali ke Kumbe sampai waktu shalat isya, dan kami juga masing-masing mendapatkan dan membawa satu potong kayu sebagai alat untuk memukad anjing," ungkapnya.

Lanjut Ahmadin, "kami balik dan berinisiatif untuk sambilan mencari anjing ke arah Panda dan kami melewati jalan sekitar pantai kalaki, kami melihat anjing yang berkeliaran di gunung untuk kami tangkap".

Pada saat Ahmadin dan keponakannya akan menangkap anjing dengan cara memukad tersebut dengan menggunakan tali, secara tiba-tiba dua orang anggota Polres Panda datang, satu di antaranya mengeluarkan tembakan peringatan dan menyuruh Ahmadin dan keponakannya diam di tempat. Namun, Ahmadin dan keponakannya tidak begitu jelas mendengar ucapan polisi tersebut, dan tiba-tiba polisi yang mengeluarkan tembakan peringatan itu menembak Ahmadin hingga mengenai paha kanannya.
"Dengan tiba-tiba salah seorang polisi menembak ke atas sebagai peringatan, akan tetapi kami tidak mendengarnya, dengan tiba-tiba polisi menembak saya dan mengenai paha sebelah kanan saya dengan peluru karet," katanya.

"Saya tidak tau apa-apa kok tiba-tiba di tembak padahal kami hanya membawa senapan kelereng rakitan yang masih rusak dan di perbaiki, kok malah kami di tembak, keponakan saya juga ditodong dan dipukul oleh polisi dengan pistol," lanjutnya.

Sesaat setelah penembakan tersebut, salah satu dari dua orang anggota Polres Panda menelpon anggota polisi lainnya, dan membawa Ahmadin menuju Rumah Sakit Umum Bima menggunakan mobil untuk mendapatkan perawatan medis.

"Salah seorang polisi menelpon temannya, temannya datang pakai mobil dan kami diangkut oleh kedua polisi dan beberapa rombongan kepolisian untuk dibawa ke Rumah sakit Umum daerah Bima," ungkapnya.

Usai mendapatkan perawatan medis, Ahmadin bersama keponakannya di jemput oleh anggota keluarganya.

"Yang menjemput Ahmadin adalah keluarga beserta sanak keluarga di Rumah Sakit Umum BIMA sampai di rumah kediaman sekitar pukul 16.00 WITA," ujar salah satu anggota keluarga Ahmadin. 

Baca : Tidak Tahu Masalahnya Apa, Warga Lambitu ini di Tembak Oknum Polisi

Pihak keluarga sempat marah dan tidak terima dengan tindakan pihak kepolisian terhadap Ahmadin dan ingin menempuh jalur hukum, namun oleh pemerintah Desa Londu melalui kepala Desanya Jaharudin, Sabtu (20/01/2018) sekitar pukul 09.00 WITA mendatangi kantor Polres Panda untuk klarifikasi, dan pihak Polres Panda menawarkan penyelesaian secara kekeluargaan.

"Pihak Polres Panda meminta diselesaikan secara kekeluargaan, tapi bagaimana kalau suami saya lumpuh, dia tulang punggung keluarga kami bersama lima orang anak yang masih kecil," kata istri Ahmadin ketika ditemui oleh Indikator Bima di rumahnya. 

Sampai dengan berita ini ditulis, pihak Polres Panda masih dalam proses konfirmasi.

Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Subhan Forest