Ikhtiar Koppas Pilgub DKI
Cari Berita

Advertisement

Ikhtiar Koppas Pilgub DKI

Senin, 15 Januari 2018

Aksi 212 Februari 2017 lalu (foto : harianterbit.com).
Indikatorbima.com - Pemilu tak ubahnya hanya prosesi lamaran para anak bangsawan untuk melanggengkan kekuasaan. Besaran mahar, jumlah pengiring termasuk kue jajanan yang bakal disuguhkan dibahas tuntas. Semangat Jakarta Pilgub mengusung aksi bela Islam 212 dan Al Maidah 51 yang diharapkan tetap terawat tak kunjung terlihat. Bahkan ada kesan mengecil karena hilang momentum.

Alhamdulillah, isu SARA yang dikawatirkan membias ke kota dan wilayah lain di nusantara ternyata tak terjadi. Bersyukur. Setidaknya isue SARA tidak djadikan alat memetakan kelompok pemilih. Untuk sementara masyarakat selamat dari 'kezaliman' para politisi ambisius yang kerap menjadikan agama sebagai komoditi murah untuk memenangi pertarungan merebut kekuasaan.

Bukan tak setuju politik memiliki warna teologis dimana agama kerap dijadikan alat justifikasi untuk meraih kepentingan politik. KH Haidar Nashir mengupas cerdas ketika agama dijadikan tersangka pada setiap kegaduhan dan ketidak nyamanan, lebih karena faktor personal yang gagal menterjemahkan pesan langit dalam kehidupan praksis.

Ada tahapan ketika agama menjadi sesuatu yang irasional bagi sebagian yang berpikir hitam-putih kemudian agama hanya dijadikan alat pembenar bagi suatu kepentingan atau menampik kepentingan lainnya.

Masyarakat Islam ternyata sudah cerdas dan tak gampang ikutan, pengalaman pilgub DKI yang melelahkan itu sebisa mungkin dibendung. Pengalaman pahit kegaduhan yang sangat itu tak ingin merebak ke wilayah lain di nusantara.

Tak gampang mengelola isu SARA tetap dalam genggaman. Pengalaman membuktikan konflik agama kerap tidak terkendali dan menjadi picu lahirnya perang saudara. Syuriah, Afghanistan, Iraq, Yaman, Libya, Liberia, dan beberapa negara Islam di Afrika adalah contoh buruk. Dan kita tak ingin virus itu menular.  
Maka eksperimen 212 dan spirit al Maidah 51 dalam pilgub DKI beresiko tinggi. Tak sedikit yang menyebut ada sebagian kita yang memperalat Tuhan untuk tujuan politik praktis, dan itu berbahaya bagi keutuhan bangsa. 

Bukan tak bersetuju memenangi semua pilgub dan pilkada tapi semangat 212 dan Al Maidah tak selalu elok untuk semua wilayah selain DKI dan sekali lagi itu sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa jika tak mampu di kelola dengan baik justru akan berbalik menjadi air bah yang menggilas siapa pun.

Bagaimanapun pekerjaan masih panjang. Tak ada yang instan, semua perlu proses dan umat Islam (kita) harus terus banyak belajar memenangi pertarungan politik di setiap level dengan santun tanpa bea. Pada akhirnya kami yang tinggal dikampung hanyalah sekumpulan yang penuh dengan kata semoga ...

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar