Hiper-Realitas : Dua Pribadi Berbeda
Cari Berita

Advertisement

Hiper-Realitas : Dua Pribadi Berbeda

Minggu, 14 Januari 2018

Jean Baudrillard (foto : MedhyHidayat.com).
Indikatorbima.com - Era global melahirkan banyak wajah, prilaku juga pribadi dengan banyak varian. Akumulasi sosial dan interaksipun terbentuk. Beragam prilaku di perlihatkan. Tata krama berubah. Kesantunan dipertaruhkan. Bahkan benar dan salah, baik dan buruk. Semua mengalami reduksi dan orang berada pada tahap distorsi akut.

Kumpulan orang-orang tak lazim. Gemenschaaf dan geiselschaaf perlahan bergeser menjadi kumpulan tanpa nama tapi militan. Tidak resmi tapi menyebalkan. Das sein dan das solen berhimpitan tak nyata. Sering berebut benar pada wilayah yang sama. Semua diukur berdasar kemauan dan kebutuhan masing-masing. Bukan Al Quran yang berubah tapi pemahaman kita tentang Al Quran yang mengalami reduksi. Dan kita gagal menterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari itu soal utamanya.

Hiper-realitas sering dimaknai sebagai ketidak mampuan kesadaran manusia membedakan kenyataan dan fantasi. Nyata tanpa kenyataan, Jean Boudrilard. Palsu yang otentik, Umberto Eco, dan ketidaknyataan virtual, Pater Sparrow. 

Semua menunjuk pada pengguna tekonolgi tinggi yang gagal adaptasi. Ironisnya kebanyakan pengidap Hiper-realitas adalah para orang tua dengan tidak membedakan tingkat pendidikan dan status sosial. Bisa murid atau guru, santri atau kyai, doktor bahkan profesor sekalipun.

Hiper-realitas mungkin dicapai sebagai kenyataan yang dikonsumsi dari realitas palsu. Juga merupakan proxy antara yang palsu dan realitas, antara das sein dan das solen. Gagalnya kesadaran membangun keselarasan antara dunia nyata dan dunia maya. Dunia jungkir balik (kawan saya menyebutnya: 'dunia embuh').

Apakah orang yang terlihat garang di dunia fantasi itu juga berlaku sama saat di dunia nyata. Apa yang mereka lakukan saat bertemu dengan penjual dan peniup terompet. Masihkah berani berkata bahwa itu tradisi Yahudi yang layak di enyahkan. 

Ketika bertemu dengan pelaku dan simpatisan LGBT apa juga tetap tegas dengan dalil dan hujjah yang ribuan kali di share seakan hanya dirinya yang paling lantang berkata; nahy munkar.

Apakah masih lantang berkata bid'ah saat berpapasan dengan sekumpulan pembawa umbul-umbul Maulid Rasul. Apa yang dilakukan saat ketemu dengan pendukung Jokowe militan. Masih berani kah bilang bahwa mereka: Pendukung Atheis, menjual negara, pemecah belah umat, neolib antek Syiah atau hanya bisa diam seribu bahasa sambil erat memegang gadget di tangan. 

Yang dilakukan ketika bertemu dengan orang kafer beneran apa juga segarang dan selantang saat komen dan menulis status. Berdalil dan berhujjah seperti ulama mujahid berani mati.

Simak isi pidato rekaman salah seorang Habib yang ditabalkan sebagai Imam Besar umat Islam Indonesia. Kita akan tahu beliau siapa, sedang apa dan hidup dimana, dunia realitaskah atau dunia fantasi. Seberapa obyektif kita bisa memahami realitas sosial dan kenyataan virtual. Antara das sein dan das solen yang di urap jadi satu. Apakah sama garangnya ketika pidato dengan saat berada ditengah masa realitas.

Mari kita tengok. Dimana kita sekarang. Ulama dan cendekiawan adalah juru bicara umatnya. Ia hidup diantaranya. Tidak patut membuat realitas palsu yang di ilmiah-kan atau kenyataan virtual yang di agama-kan. 

Dan kita menjadi dua pribadi di dua dunia paroh warna tanpa makna. Hiper-realitas ...  
Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar