Haramkah Gagal di Masa Tua?
Cari Berita

Advertisement

Haramkah Gagal di Masa Tua?

Minggu, 07 Januari 2018

Iluatrasi (foto : Gambar Kartun | Wallpaper Keren)
Indikatorbima.com - Kata Pak Dr (hc) Dahlan Iskan, habiskan jatah gagalmu di masa muda, bung! Atau gimana gitu, persisnya aku nggak hafal. Intinya begitu kata-katanya, ini biar aku tidak dikata plagiat mengutip tanpa sumber atau asal comot dan yang terpenting adalah biar kita tahu hakekat sopan santun. Itu mahal loh, teman. Supaya kamu tahu saja, atasanku atau bosku yang bolak balik luar negeri saja mengakui bahwa negara maju itu jauh lebih sopan dan santun dari kita, makanya mereka maju dan mapan. Lah, kita ini seharusnya sebagai bangsa berbudaya beradab dan bersopan santun. Kok? Kenyataannya silahkan nilai sendiri. 

Kembali ke dawuh Pak mantan Menteri BUMN tadi, bahwa gagal habiskan di masa muda. Artinya di masa tua tinggal mengarungi suksesnya. Petuah bijak ini pernah aku perdebatkan dengan sahabatku. Katanya sukses ya sukses aja tidak usah nunggu tua dan gagalnya dihabiskan di masa muda.

"Hidup bagai roda yang terus berputar, Moo," katanya di warung kopi saat kami nongkrong di pinggiran kota di Sumenep. Dia memanggilku Moo karena namaku Mohli.

"Jadi sukses harus dibumbui gagal juga meski di masa tua."

"Aku iman kepada yang jatah gagal habiskan saja waktu muda, Dut," jawabku. Aku panggil Dut dengan dua alasan. Pertama karena perutnya endut dan namanya Dudit.

"Maaf, kita bersilang pendapat, Moo," katanya lagi sambil menyemburkan asap tebal dari mulutnya karena habis menghirup rokok eletrik rasa mangga. 

"Tidak masalah," kataku. Kuseruput kopi panasku pelan-pelan.

"Jadi maksudmu gagalmu memacari Ruby, Resti, Ita, Lely yang bahenol di masa mudamu itu yang gagal jadi tambatan hatimu, akan kamu gapai di masa tuamu, hah?" Kutanya.

"Congormu, Moo," jawabnya refleks.

"Tidak begitu. Gagal dan sukses yang lain. Misal dulu kita sering bolos sekolah, minum, nongkrong kayak gini, dan nakal lah pokoknya yang tidak kriminal pokoknya. Nah itu yang begitu."

"Iya, yang sia-sia begitu ya habiskan tuntaskan di masa itu, Dut. Kita sekarang harus move on, lupakan atau kenang saja masa itu dan sekarang jalani hidup kita di pekerjaan juga bersama keluarga dengan berkualitas. Itu adalah sukses kita. Berati tidak mengulangi masa buruk." Kataku. 

Sebenarnya bukan buruk. Tepatnya tidak lagi baik bagi kita saat ini. Aku sangat tidak ingin bilang masa lalu kami buruk. Karena dari nongkrong, jalanan dan kami bersama-sama geng non formal itu aku dapatkan tempaan, pelajaran hidup yang sesungguhnya: tentang solidaritas, gotongroyong, saling percaya, dan setia kawan. Itu.

"Maksudku gagal kan sunnatulloh, Moo. Dia datang sesuai kehendak Allah. Kalau Allah berkehendak kita gagal di sela sukses kita di masa agak tua ini ya itu fair kan?" 

"Menurutku gagal dan sukses kita perlu kita setir, kak. Hati kita yang harus terus kita tata. Berbaik sangka, selalu membantu orang lain, toh sejatinya itu membantu diri kita sendiri, dan sertakan selalu Allah dalam aktivitas apapun, jangan lupakan Allah. Dulu aku tabrakan atau kecelakaan dan kepala bocor lalu dijahit itu karena aku sadar betul aku sedang meninggalkan Allah di masjid. Seharusnya aku bawa ke manapun. Sebagai penolong dan tempat perlindunganku. Maaf siapalah aku. Bukan sok suci. Tapi memang itu imanku, kak. Dari begini insyaalloh kita dijaga Allah dari gagal, kak."

Aku sering panggil si Dudit dengan kak di samping panggil Dut. Karena usianya menurut KK dan KTP dia lebih tua dariku. Juga aku takzim padanya. Ibu bapaknya sudah mengaggapku anak. Mereka baik sangat. Kakak-kakanya juga baik padaku. 

"Cuma (maaf) sempakmu yang nggak kupinjam kan, Moo?" Katamya di suatu waktu mempertegas kelekatan persahabatan dan persaudaraan kami. 

Dulu kami kuliah satu kamar satu kampus meski bukan satu jurusan dan satu ATM. Aku banyak diberi makan dia. Aku jurusan Informatika dia jurusan Sosiologi. Kini dia jadi kandidat berat kepala dinas pertanahan di Sumenep. Semoga berhasil Kak Dut. Aamiiin.

Tapi dia tetap berselisih paham denganku soal masa muda gagal masa tua sukses. Perdebatan atau diskusi itu sama ngototnya ketika dia berpacaran dengan cewek cantik akademis dan memiliki simpenan pacar cewek cantik non akademis alias tidak kuliah. Dia bingung. Semuanya unggul di bidang masing-masing. Bodinya, senyumnya, dan lain-lain. Tapi aku sarankan dia meski dianya tetap bersilang paham denganku. Bahwa pilihlah sesuai hatimu, kubilang. Tapi dia memilih yang akademis, sementara. Meskipun endingnya dia tidak memilih keduanya dan lebih memilih wanita lain yang lebih cantik manis dan lembut. Dan dia jadi istrinya sampaibsekarang. Alhamdulillah.

Tapi bagaimanapun dia sampai di surga kelak adalah sahabat dan saudaraku. Kebaikannya, kesetiakawanannya, pedulinya, duh, masyaalloh tidak ada yang nyamai. Dia tidak bisa aku lawan budinya. Lawan kebaikannya maksudku.

Meskipun kami tetap saling silang pendapat.

"Hidup itu tidak boleh lurus, Moo." Katanya dua hari lalu via WA. Kudiam, kurenungi dulu lalu kubalas.

"Maksudnya tidak boleh baik terus? Harus ada jahatnya?" Balasku.

"Bukan. Maksudku boleh ada aral rintangan bagi pencapaian kita. Bagi misi mulia kita. Biar kita tahu arti perjuangan. Peluh kita masih kita butuhkan hari ini." 

"Kalau aku mending habiskan di masa muda yang soro-soro ribet-ribet dului tu, kak. Anggap cukuplah yang dulu itu. Jangan gagal lagi saat ini. Bismillah." Kuhantar WA balasanku itu. Lalu kuketik lagi dan kirim sebelum dia membalas.

"Sekarang waktunya berbahagia bersama istri dan anak-anak kita, kak."

"Kamu ada benarnya juga. Tapi tidak benar juga."

"Karena kebenaran hanya dari Allah datangnya, kak."

"Bukan,"

"Iya, benar itu hanya dari Allah. Meski aku nggak mondok, ibuku bilang begitu kalau dia nasehati aku lantaran malamnya ikut teman berburu jangkrik padahal waktunya ngaji di Langgar Kyai Misyar."

"Aku merasa dulu sudah menjadi orang gagal. Jadi nakal, minum, bolos, tengkar, dll tapi itu apa sudah habis jatah gagalku? Rasanya belum. Karena sekali lagi sunnatulloh, Moo. Kini aku di pekerjaan ya juga ada kalanya gagal mencapai misi." 

Kuhela napas sebentar. Lalu ku balas.

"Kata Nyai Walidah (istri Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah), Hidup itu berjalan seperti yang kita pikirkan, kak."  
"Maksudmu kalau kita mikir gagal maka gagal?"

"Rasanya begitu, kak. Aku sekarang masih terus belajar untuk selalu baik sangka. Semoga di masa mulai tua ini Allah senantiasa merawat kami dan selalu menyukseskanku dan keluargaku. Aamiiin."

Di seberang berkirim aamiiin membalas chatku. Lalu diberi emot peluk dan cium. Mungkin cium persaudaraan loh ya. Bukan cium LGBT.

Semoga kita semua sehat, sukses, dan bahagia ya sodaraku. Aamiiin...

Penulis : Mulyanto