Dunia Butuh Orang-Orang Seperti ini
Cari Berita

Advertisement

Dunia Butuh Orang-Orang Seperti ini

Selasa, 23 Januari 2018

Ilustrasi (sumber : Griyaquran.org)
Indikatorbima.com - Waktu itu (2016), saya baru saja membeli Smartphone Huawei Honor Holly, Android OS, v4.4.2 di tokoh Meteor Cell Malang yang beralamat di Jalan Gajayana Kav. 2A, Dinoyo, Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Waktu itu harganya masih Rp. 1.499.999. Itupun semuanya pakai uang orang tua saya.

Tidak kurang dari dua bulan saya menggunakan Android tersebut, tentunya masih mulus dan terawat, sedikitpun tidak tergores apalagi lecet. Saya rawat dan bersihkan betul-betul setiap harinya. Waktu itu, saya bersama teman saya Herwanto berencana berkunjung kerumah senior untuk sekedar ngopi atau ngobrol bareng. 

Kami berangkat menggunakan sepeda motor jenis Yamaha Jupiter dari kontrakan yang bertempat di Jl. Tirto Utomo Gang 2B Desa Landungsari, Kecamatan Tlogomas, Kota Malang.

Saya yang menyetir, menancap gas cukup kencang menuju belakang kampus (rumah senior) melakui jalan di dalam kampus. Namun, sebelum kami sampai di rumah senior. Kami berencana makan siang dulu disebuah warung di belakang kampus, saya dan teman saya Herwanto hendak turun dari motor untuk memesan makanan. Namun, tiba-tiba saja kami di datangi oleh seorang bapak-bapak menggunakan sepeda motor dan berhenti tepat di samping kami yang hendak turun dari motor, umurnya sekitar 48 tahun.

Kami cukup heran dan kaget, mengapa bapak itu datang dan menghampiri kami, di pikiran saya, saya mungkin telah membuat kesalahan dalam berlalu lintas atau membuat kesalahan terhadap bapak itu, hingga ia mengejar kami sampai ke belakang kampus, sesaat saya berfikir ada apa dan kenapa dengan bapak ini. Kelihatannya dia buru-buru ingin bicara, dia juga terlihat buru-buru ingin pergi melanjutkan perjalan seolah dia punya urusan lain. Tanpa basa-basi bapak itu menyuruh saya memeriksa saku jaket atau saku celana saya, seraya menanyakan apakah saya kehilangan handphone.

Tanpa berfikir panjang lagi, saya kemudian memeriksa saku jaket dan celana saya, dan benar saja, Handphone saya terjatuh di tengah jalan. Melihat saya yang kebingungan tidak menemukan Handphone di saku jaket dan celana. Bapak tadi lanjut memberitahukan kepada saya, bahwa Handphone saya telah jatuh di tengah jalan saat melintasi petigaan di ujung jembatan layang, samping barat lapangan basket kampus. Dan beberapa mahasiswa yang menemukan handphone saya sedang menunggu saya ditempat mereka menemukan Handphone saya. 

Setelah memberitahukan hal itu, bapak tadi buru-buru pergi dengan salam terburu-buru, bahkan saking buru-burunya, ucapan terimaksih saya tidak ia dengar.

Ternyata bapak-bapak tadi sudah mengejar kami dari dalam kampus hingga kami berhenti di warung makan tadi.

Saya bersama Herwanto pun kembali kedalam kampus menuju pertigaan, tempat dimana mahasiswa tadi menunggu saya. Dan benar saja, empat orang mahasiswa sedang menunggu sambil memegang Handphone saya yang mereka temukan. Tanpa basa-basi pun mereka menyerahkan Handphone saya dengan iklas, tanpa ada sedikit raut wajah dari mereka untuk meminta imbalan dari saya. Tidak ada kata lain yang saya ucapkan, selain kata terimaksih berulang-ulang sambil menyalami mereka satu persatu.

Sejak kejadian itu, saya kemudian kembali berfikir, ternyata masih ada saja orang-orang baik seperti mereka. Seorang bapak-bapak dan empat orang mahsiswa yang telah mengajari saya tentang satu hal, yaitu berbuat baik tanpa pamrih. Bahwa apa yang bukan milik kita, wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Haram bagi mereka memiliki yang bukan milik mereka. Dan Bagi saya, bapak-bapak dan empat orang mahasiswa itu adalah malaikat. Tentu dunia sangat membutuhkan mereka.

Saya berdo'a kepada Allah Swt, semoga mereka senantiasa dalam lindungan Allah Swt, dimudahkan segala urusannya, dan sukses di dunia dan akhirat. Amin...

Penulis : Revi Palilang
Editor   : Muh. Ainul B