Diskusi Kebudayaan MADASUSA, Rintis Desa Sambori Jadi Desa Ekowisata
Cari Berita

Advertisement

Diskusi Kebudayaan MADASUSA, Rintis Desa Sambori Jadi Desa Ekowisata

Minggu, 21 Januari 2018

Suasana diskusi Ketahanan Budaya/Kearifan Lokal Masyarakat Adat Suku Lambitu (para pembicara).
Indikatorbima.com - Pelaksanaan diskusi Budaya dan kearifan lokal pada hari Sabtu (20/01) sekitar pukul 09.00 - 16.00 WITA dengan tajuk "Ketahanan Budaya/Kearifan Lokal Masyarakat Adat Suku Sambori (MADASUSA)", diselenggarakan oleh Junaidin, M.Pd dan Zulharman, S.Hut.,M.Ling.,IPP. Bersama masyarakat dan pemerintah Desa, di Aula kantor Desa Sambori, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima. Diikuti oleh berbagai elemen masyarakat yang ada di Kecamatan Lambitu, Minggu (21/01/18).

Dalam rangka mempertahankan budaya/kearifan lokal Masyarakat Adat Suku Sambori (MADASUSA), Junaidin, M.Pd (Studi S3 Universitas Negeri Malang) dan Zulharhman, S.Hut.,M.Ling.,IPP. Bersama masyarakat dan pemerintah Desa Sambori, bekerjasama dengan lima perguruan tinggi swasta di wilayah Nusa Tenggara Barat, yaitu STKIP Taman Siswa Bima, STIH Bima, STISIP Mbojo Bima, STIKES Yahya Bima, dan Universitas Muhammadiyah Mataram. 

"Budaya lokal masyarakat adat suku Sambori menjadi salah satu nilai yang memiliki ciri khas tersendiri di Kabupaten Bima yang harus di lestarikan bersama," kata Muhtar, S.E.,M.S. selaku Kepala Desa Sambori dalam sambutannya.

Sementara itu, M. Amin.S.Sos selaku Camat Lambitu mengatakan, bahwa kekayaan budaya, adat istiadat, dan kekayaan alam harus dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat setempat. 

"Potensi yang ada di Kecamatan Lambitu harus di manfaatkan dan di lestarikan mulai dari rumah lengge, tanaman obat obatan, dan kekayaan alam yang luar biasa di Kecamatan Lambitu ini," ujarnya dalam sambutan.

Dalam diskusi tersebut, hadir empat orang pembicara sekaligus, yaitu Junaidin, M.Pd (Study S3 Universitas Negeri Malang), Zulharman, S.Hut.,M.Ling.,IPP. (Magister Ilmu Lingkungan, Dosen STKIP Taman Siswa Bima), Muhtar, S.E.,M.S. (Keturunan Suku Sambori, Kepala Desa Sambori), dan Abdillah, S.H. (Putra asli suku sambori, tokoh masyarakat adat suku sambori). 

Zulharman, S.Hut.M.Ling.IPP dalam penyampaian materinya mengatakan, bahwa berbagai aspek yang ada di Kecamatan Lambitu, salah satunya Desa Sambori terutama aspek SDA dan nilai-nilai adat harus tetap dikembangkan. Menurutnya, Desa Sambori memiliki potensi Ekowisata yang sangat luar biasa. 

“Mulai dari SDA, dan berbagai aspek yang bernilai perlu di kembangkan di Kecamatan Lambitu, Desa Sambori salah satu potensi Desa Ekowisata karena letaknya yang sangat bagus, baik pemadanganya dan nilai-nilai lokal maupun sumber daya alam yang sangat luar biasa berada di dalam masyarkat adat suku sambori, ke depan kita dapat mengembangkan," tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Junaidin, M.Pd dalam penyampaian materinya. Ia mengatakan, bahwa masyarakat Desa Sambori harus saling bahu membahu dalam melestarikan budaya suku Sambori. Ia juga mengatakan, bahwa Kecamatan Lambitu bisa menjadi salah satu kecamatan yang memiliki nilai dan potensi wisata ketika Desa Sambori mampu dirintis menjadi Desa Ekowisata.

"Kita harus bersama-sama bahu membahu dalam melestarikan budaya yang ada di suku sambori ini dengan kegiatan kegiatan yang bernilai positif. Kalau melihat dari daerah Kecamatan Lambitu baik dari tipografi maupun dari hal lainya Kecamatan Lambitu akan bisa menjadi Kecamatan yang memiliki nilai dan potensi wisata, salah satunya Desa sambori yang akan di rintis menjadi desa Ekowisata" tuturnya dalam menyampaikan materi diskusi.

Sementara itu, Abdilah S.H. yang juga dikenal sebagai Tabib herbal Masyarakat Adat Suku Sambori yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit sepeti, Kista, jantung, Tumor, Mion, Mag dan Kronis mengatakan, bahwa dirinya bisa membuat obat-obatan herbal untuk menyembuhkan penyakit masyarakat setempat berkat kekayaan alam, seperti tumbuh-tumbuhan alami yang ada di Kecamatan Lambitu. Bahkan dirinya pernah mendapatkan penghargaan juara dua tingkat Nasional sebagai pembuat obat herbal.

"Saya bisa meracik obat tradisional dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar Kec. Lambitu, dan salah satu kearifan lokal bagi Masyarakat adat Suku sambori adalah tumbuh-tumbuham alami yang bisa di racik menjadi obat Herbal madasusa yang sudah mendapatkan penghargaan juara dua Nasional," ungkapnya ketika menyampaikan materi diskusi.
Usai diskusi, beberapa peserta dan pembicara melakukan foto bersama.
Berbagai elemen masyarakat hadir dalam kegiatan tersebut, diantaranya Komunitas Hijau (JAO) Bima, Akademisi, Pemuda Sanggar Seni Budaya Lengge, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tim Lengge Creatif Sambori (Lecres) dan TNI.

Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Fuad De Fu