Cinta Yang Gawat Darurat
Cari Berita

Advertisement

Cinta Yang Gawat Darurat

Kamis, 11 Januari 2018

Iluatrasi (foto : Inka Nirwana)
Indikatorbima.com - Jatuh cinta benar-benar menyiksa. Sudah tiga jam lebih aku hanya berguling-guling di atas kasur kontrakan, malam ini. Miring kanan tidak enak, ke kiri, terlentang, tengkurap, dan setiap posisi apapun salah, rasanya tak ada yang nyaman. Di benak dan hatiku hanya ada dia. Yang nampak hanya senyumnya, gaya bicaranya, suaranya yang terus mengiang di kendang telingaku, caranya mengedipkan matanya, dan lain-lainnya yang terus menyiksaku malam ini. Oh... sungguh dia tidak sopan. Mmmm.... kurang (belajar)... Dia sudah bikin aku gila! 

Sebenarnya, peristiwa macam ini pernah dulu aku alami ketika masa SD, saat Ibuku membelikan sepatu baru. Siang dibelikan malamnya aku juga tidak bisa tidur. Sepatu itu dibuka lalu dipaskan ke kaki, dimasukkan lagi ke kardusnya dan diulang-ulang. Atau hanya dikeloni di kasur. Di junjung-eluh-eluhkan, dan semacamnya, lah! Di benak hanya ada sepatu: corak warna dan modelnya. Yang begini sangat klasik memang. Tapi inilah kesengsem, teman. Yang aku sangat butuhkan malam itu hanyalah ingin segera pagi supaya sepatu Pro ATT baruku dapat segera kukenakan.

Sama. Malam ini aku hanya diganggu oleh wajahnya yang betah hinggap di bilik hatiku. Dan aku hanya butuh dunia segera pagi. Ingin segera mandi, shalat subuh, naik angkot ke Arjosari, dan naik bis ke Surabaya dan segera menjumpai calon istriku si Puspa (bukan nama sebenarnya). Di sana dia juga pasti sudah menungguku. Tak sabar hati ingin segera berjumpanya. 

Tapi sebaiknya malam ini harus aku paksa mengatupkan mata dulu, supaya besok kubuka mata, malam sudah menjadi pagi. Kami punya agenda penting di hari besok. Yaitu bersama si Puspa mudik ke kampungnya, ke rumahnya yang di mana aku akan memintanya kepada orangtuanya, untuk kujadikan dia istri dunia akhiratku. 

Aku memang tergesah-gesah. Maaf, karena urusan ini teramat penting. Untuk Indonesia dan hidupku ke depan, teman! Jadi mohon doanya nggih!

Usiaku sudah lewat setahun dari sunnah Nabi yang menikah usia 25 tahun. Kini di-26-ku, aku harus segera menyempurnakan separuh imanku. Kini kutak butuh pacaran lagi. Tak mau melirik siapa lagi. Jadi, pacarannya stop saja, ya. Percuma pacar cantik, hidung mancung, atau bahenol. Percuma kan hanya pacaran. Aku lelah. Kini aku butuh pundak untuk merebah. Berbagi suka duka. Butuh jemari lentiknya untuk kugenggam secara halal dan toyyib. 

Aku harus segera melamarnya. Si Puspa yang bukan pacarku. Yang pernah dua tahun lalu kuajak nikah tapi baru membuka hati tahun ini. Tak apa. Aku baik-baik saja.

Kini tak ada yang kusangsikan lagi. Kupilih dia Puspaku. Wanita ini yang selalu hadir di istiqharahku. Adalah campur tangan Allah jika dia nantinya adalah benar-benar ditakdirkan jadi teman sedunia sesurgaku. Aku tak ragu. Menikah bukan soal persiapan uang banyak, rumah, mobil, atau sudah bolak-balik hatam seminar pra nikah. Rasanya bukan. Meski aku pengangguran aku yakin setelah nikah Allah akan menunjukkan kemaha rahman dan rahimNya. Pokoknya teguh hati dan yakin. Setelah nikah aku akan bekerja jauh lebih keras daripada ini. Agar istri dan anak-anakku sentosa. Bukankah baiksangka dan semangat jauh lebih berguna daripada sekadar kaya? Bismillahirrohmanirrohi, aku tidur dulu sekarang, ya Teman!....

bismillah segera pagi, nggih. Aamiin... 

(Bersambung, semoga berkenan)

Catatan: Kejadian di Malang, Maret 2014 ditulis di Surabaya, 9/1/2018.

Penulis : Mulyanto