Bid'ah yang di Organisir Mengalahkan Sunah yang Tidak di Organisir
Cari Berita

Advertisement

Bid'ah yang di Organisir Mengalahkan Sunah yang Tidak di Organisir

Rabu, 03 Januari 2018

Ilustrasi (foto: NU Online)
Indikatorbima.com - Allah tabaraka wataala tidak bakal mengabulkan doa pada hati yang lengah dan lalai. Rasulullah saw bersabda: "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan di ijabah dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengijabah doa dari hati yang lalai lagi lengah". Sungguh-sungguh: itu kuncinya. Berdoa pun harus bersungguh-sungguh dan yakin sebagai syarat di-ijabah-nya doa. Seberapa pun baiknya sebuah aktifitas kalau dilakukan asal-asalan tidak akan membuahkan hasil terbaik.

Beberapa jenis amalan yang sering dianggap bid'ah oleh sebagian kecil ulama justru diminati. Banyak pengunjung rela antri. Dan mau berjalan jauh. Sebut saja Majelis Maulid. Setidaknya ada tiga majelis-maulid dimana saya pernah hadir dan beberapa kali menjadi salah satu pemberi tausiyah.

Puluhan ribu jamaah hadir dari kota-kota dan desa paling pelosok. Ada yang berkendara sepeda motor, kendaraan pribadi, sewa angkot, bus, pick up bahkan truk. Tidak menghalangi mereka untuk berkhidmad duduk ber jam-jam digarang panas atau diguyur hujan diatas tikar sederhana pada 'Majelis Rasulullah'. Sebuah Majlis padat zikir, sanjung puji dan kreasi shalawat.

Jujur awalnya, kedatangan saya pada majelis-majelis Maulid itu, hanya berniat silaturahim kepada para habaib, para kyai dan para alim untuk sekedar mengenalkan MUHAMADIYAH, disamping saya "mencuri-pandang", dan berguru kenapa majelis yang divonis bid'ah ini memiliki magnet luar biasa. Pengikutnya terus bertambah dari berbagai kalangan: lintas sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Tapi kemudian perlahan saya mulai menikmati dan mengerti, ini hanya soal cara bagaimana para ulama merawat jamaahnya dengan sungguh-sungguh dan cinta kasih. Tak terasa air mata menitik saat shalawat dilantunkan dengan khidmat.  
Mobilisasi masa yang sangat sukses di tengah arus modernisasi dan globalisasi, dimana hedonisme dan individualisme menguat, Meski di vonis bid'ah oleh sebagian ulama karena tak ada contoh dari Rasulullah tak mengurangi niat dan antusias masa menghadiri majelis maulid itu. Sungguh luar biasa.

Bahkan pengunjung yang hadir ribuan kali lipat lebih banyak dibanding yang hadir pada majelis yang mengaku paling sunah sekalipun. Ini fenomena menarik, semakin 'digembosi' dengan isue bid'ah, majelis maulid semakin tumbuh subur.

Dari 'curi pandang' yang saya dapati adalah: kesungguhan. Mereka mengelola majelis dengan serius. Profesional saya menyebutnya. Semua dilakukan dengan perhitungan dan perencanaan rapi. Kesungguhan itu yang ditimbang Allah, meski ada banyak kekurangan.

Undangan disebar dor to dor, lewat wa, iklan di media cetak dan televisi, dan selebaran, ada korwil yang bertanggungjawab pada masing-masing wilayah yang membidangi pengerahan massa, Anda akan dimuliakan bila diundang ada penerima tamu siap menyambut dan mengantar hingga ke tempat duduk.

Ada panitia yang menyiapkan sound, terop, panggung, konsumsi hingga keamanan, mubalighnya juga dipilih yang terbaik. Tak ketinggalan umbul-umbul bendera dan yel-yel. Keseriusan .... saya melihatnya. Dan setiap yang dikerjakan serius akan memanen hasil yang baik, begitu sunatullah kausalitas menjawab. 

Tausiyahnya juga menggembirakan. Ada tertawa sedikit, senyum sedikit dan harapan tentang hidup lebih baik di surga. Semua jamaah yang hadir bergembira. Masalah berat menjadi ringan karena ada kebersamaan yang kuat. Para ulama dan umatnya saling menjamin dan melindungi. Sungguh cara berdakwah yang cerdas. Kreatif dan sarat inovasi.

Ini hanya soal cara bagaimana jamaah mau datang dan betah tinggal. Da'wah berbasis kebutuhan jamaah bukan keinginan para pengurus yang ketinggalan informasi dan gak kenal dunia luar. Bukan soal sahih dan kuatnya hujjah, merasa membawa pesan sunah yang disajikan monoton dan kerap menyalahkan, atau gampang mengkaferkan pada setiap yang berbeda. jamaah ketakutan karena tausiyahnya terus mengancam dan pengurusnya tidak memberi rasa aman.

Jamaah malas datang. Satu persatu berlarian mencari tempat berteduh yang nyaman. Jumlahnya terus menyusut. Acaranya selalu telat. Sound nya kalah bening dengan suara knalpot di jalanan. Tak ada inovasi lalu bedalih pendek : yang sedikit itulah yang terbaik. Islam itu asing (ghurub) dan akan kembali asing.

Cara terbaik untuk berlindung dari ketidak-sungguhan. Maka jadilah sebuah halaqah yang tidak mau diajak berubah dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun ... dengan pengetahuan yang juga tidak bertambah karena materi disampaikan tanpa perencanaan. Dan saya adalah bagian dari yang tidak di-organisir itu ...

Tulisan untuk kalangan sendiri

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar