Besok Akan Kutatap Indah Langit Sore
Cari Berita

Advertisement

Besok Akan Kutatap Indah Langit Sore

Minggu, 07 Januari 2018

Ilustrasi (foto : pexels.com)
Indikatorbima.com - Malam ini Laila berjanji untuk dirinya sendiri sebelum mengatupkan kedua matanya. Nanti akan menerima lelaki manapun asal sholih. Baik lebih tua darinya atau lebih muda. Baik ganteng maupun agak ganteng. Kalau jelek banget janganlah.

Itu niatnya bila dapat jodoh yang dipilihkan Allah swt untuknya meski di ujung usianya. Ia akan mengajaknya ke pantai menikmati langit sore yang indah berwarna jingga. Lalu akan mengajaknya ke gunung untuk menghirup angin segar pegunungan dan hijau dedaunan yang rimbun. Laila berniat akan sujud syukur kepada Allah atas rejeki tersebut.

Laila kini rasanya ingin menurunkan grade untuk calon pendamping hidupnya karena merasa bosan sudah sering gagal merajut cinta. Pokoknya sholih, sedap dipandang, dan mampu memimpinnya dalam shalat dan dalam keseharian.

"Loh itu masih pilah-pilih namanya, Nduk," kata ibunya pagi harinya.

"Wes pasrah wae ambek ibu bapak. Tak golekne sing ganteng apik,"

"Iya terserah ibu saja," sahut Laila.

"Lak mesti kamu mangkel. Ujung-ujungnya nggak mau," sergah ibu sambil memarut kunyit. Ibu hendak membuat sari kunyit dicampur susu untuk meredahkan flu si Putra, adik bungsu Laila.

"Ibu takut aku nggak payu ta bu?" Tanya Laila.

"Ibu mana yang tidak takut anak gadisnya yang sudah berumur tapi nggak payu-payu, heh?" ucap Ibu.

"Makanya jangan pilih-pilih, cinta bisa ditumbuhkan, nduk,"

"Kalau ibu takut. Berarti ibu nggak percaya Allah," kata Laila lirih sambil meneguk gelas hendak minum di ruang makan. 

"Sebelum Laila lahir sudah Allah tulis rejeki, jodoh, kapan lahir dan kapan mati. Jodoh tak akan datang terlambat; Ibu. Dia tak akan tertukar. Dia akan dihadirkan Allah tepat waktu dengan indah."

"Pinter omong, kamu Laila... Laila..." tukas ibu sambil menyeka airmata yang mendidih.

"Sudah tiga puluh lima loh kamu,"

"Loh bu. Buat apa airmara ini?" Laila merangkul ibu dari belakang. Ibu masih repot memeras parutan kunyit.

"Tidak apa-apa. Terserah kamu," katanya. 

"Ibu jangan banyak nangis, Surabaya sudah sering banjir. Sekarang kapal Nabi Nuh sudah tidak bisa menyelamatkan kita dari banjir itu. Hehe," Laila menyeringai.

"Sudah Ibu. Laila baik-baik saja. Laila sudah alhamdulillah dikarunia ibu bapak dan adik yang luar biasa ini. Iya kan." 

Mereka lekat berpelukan beberapa saat. 

Laila lalu menuju kamarnya di lantai dua. Ia duduk di ambang jendela sebelum berangkat ke kampus. Dia edarkan pandangannya ke jalan, atap-atap rumah dan burung-burung yang terbang ria.

Dia berdoa jika benar-benar Allah mengirimkan lelaki sholih yang mampu menjadi iman shalat dan keseharian, Laila akan menerimanya. Tak apalah meski tak punya pekerjaan tetap.

Dan yang sedap dipandang. Bukan yang jelek banget.

Laila memang sudah sering gagal. Koleksi calonnya tak terhitung. Dia juga kedua orangtuanya sama-sama capek hati.

Ini daftar yang gagal: si Hendra cinta masa kuliahnya yang menikahi pilihan oma, si Rohim, Manajer manufacturing dari tanggerang lebih tua dari Bapaknya. Zain si tampan itu ternyata busuk. Coba bayangkan, saat istrinya hamil dia malah mencari hawa hangat lain di luar rumah. Innalillah. Kemudian mas TNI anaknya Bude Sinta yang nafsuan, mas Andi si mahasiswa sok dewasa yang labil, ustad Rofik yang ingin mempoligaminya, Setiawan yang bukan lavelnya karena, jujur saja, tidak pantas seorang dosen keranjingan, jelalatan. Dan lupa siapa lagi. Oh iya, putranya Pak Hendri yang muadzin di masjid kampung. Dia sering berkhalwat dengan Allah. Jangan-jangan dia shufi yang tak terlalu bernafsu dengan perempuan. Pak Hendri saja yang gelisah macam ibunya Laila. Anaknya takut tak laku hingga menua.

"Mereka menghamili saya, bu?" Katanya dengan derai airmata.

"Kamu yang benar saja," kata Laila.

"Dia kan pacarmu, satunya sapa?"

"Iya Rony yang pacar saya, Idrus temannya," katanya. Mahasiswi itu mengucap dengan nada getir di bagian itu. 

"Kamu melakukannya bertiga sekaligus, Neta?" Tanya Laila.

"Di mana kalian begitu?"

"Tidak bu. Tiga bulan lalu sama Rony di kamar kosnya, dua minggu kemarin dengan Idrus"

"Astaughfirullah.. Neta... Neta... kok mau kamu?" Laila memukul tiang gasebo tempat mereka duduk di taman kampus.

Neta adalah mahasiswa yang teman baik Laila. Laila cukup karib dengan para mahasiswa tapi hanya Neta yang teramat dekat. Pernah lima kali Laila diajak Neta ke rumahnya di Blitar.

"Saya mencintai mereka, Bu," wajah Neta memerah.

"Saya sudah putus sama Rony, dan Idrus juga acuh. Mereka bertikai gara-gara aku. 

"Kamu serius hamil? Sudah diperiksa?" Tanya Laila lagi.

"Iya bu. Saya sudah telat dua bulan ini." 

"Neta... Neta..." Laila geram tapi tak tahu mau bilang apa. Hanya dia tidak mungkin menjambak rambut yang tergerai di dada wanita di hadapannya itu. Ia hanya memungut kacamata Neta dan membantu membersihkan dengan ujung jilbab merahnya dari airmata Neta.

"Sekarang sudah puas cintamu bersarang di perutmu, hah?" Sambil mengelus kacamata Neta.

"Mereka harus menikahiku, Bu." Kata Neta tertunduk.

"Ini masalah besar, teman. Kamu yang sabar ya." Katanya.

"Yang jelas ini janinnya Rony. Kamu harus ceritakan padanya secepatnya. Telepon dia mintalah tanggungjawabnya."

Laila memberi kacamatanya dan menagkap peluk tubuh Neta yang mulai memekar dengan erat.

Laila berkirim pesan WA ke Rony. Ia mengaku tak enak badan malam ini. Jadi ia tidak bisa menemuinya malam ini. Dia mengatakan akan menemuinya besok malam.

"Aku sudah pesan motel di Surabaya utara, Bu. Dan besok aku tidak bisa." Kata Rony dalam WAnya.

Laila hanya membaca pesan itu dan tak membalas lagi.

Mereka siang tadi di kampus berjanji akan bertemu dan Rony yang harus nyari penginapan untuk mereka berdua.

Laila dan Rony memang sudah dekat sejak Neta bercerita tentang kehamilannya. Dan ini pertemuan pertama berdua di motel. 

Tapi Laila tak enak badan.

Rony geram. Ingin ia pergi ke rumah Neta menjemputnya. Seharusnya ini kencan manis perdana mereka.

"Kamu sok bijaksana tapi tak mampu tepati janji." Omel Rony.

Laila hanya membaca pesan WA Rony. Lalu selang beberapa menit dari depan pagar suara itu datang.

"Laiiilaaa....... Laiilaaa.... " Rony memanggil seperti soerang teman kecil yang hendak mengajak main petak umpet di semak-semak.

"Laila, laila..." ibu memanggil dari luar pintu.

"Apa, bu?" Sambil keluar kamar.

"Kamu janjian dengan orang malam ini?" Tanya si ibu.

"Nggak,"

"Sana shalat isya' dulu. Mandi dulu. Anterin ibu ke supermarket di tengah Kota,"

"Oh... iya bu," Nita mengucek kedua matanya.

Jalan sempoyongan sambil menguap beberapa kali. Dan meregangkan tangannya pula.

"Waaay... waay.." Mata bu dosen ini masih berat. Tapi ia sudah di kamar mandi. 

(Semoga menghibur. Hehehe. Tunggu kelanjutanya ya..).

Penulis : Mulyanto