Batas Benci dan Cinta
Cari Berita

Advertisement

Batas Benci dan Cinta

Rabu, 31 Januari 2018

Ilustrasi
Indikatorbima.com - Kita berbeda pandang dalam menegakkan syariat, lantas berpecahan saling menyalahkan, akhirnya syariat tak bisa tegak berdiri sebab sesama kita saling menjatuhkan.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata : Cintailah orang yang kamu cintai sekedarnya saja, karena boleh jadi suatu saat ia menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sekedarnya saja, karena boleh jadi kelak ia jadi orang yang engkau cintai.


Tetap rasional dan tidak disukai melakukan sesuatu secara berlebihan dalam urusan apapun termasuk ibadah. Tiga orang sahabat berlomba menjadi paling baik: Saya akan shalat sepanjang malam tidak akan tidur, saya akan puasa tidak akan berbuka Saya akan membujang tidak akan menikah.


Mendengar itu Rasulullah kurang berkenan kemudian berkata. Saya shalat dan tidur, saya puasa juga berbuka dan saya juga menikah, barangsiapa yang tidak mengikutiku maka dia bukan dari golonganku.


Janganlah berlebihan dalam menjalankan kehidupan tetaplah berada di tengah (al-awsath). Salah satu penyebab Umat terdahulu jatuh karena sikap berlebihan itu. Juraij seorang abid yang abai pada panggilan ibunya juga telah merasakan akibat buruk dari ibadah yang berlebihan (ghuluw).


Kerahiban yang mengajarkan hidup menyendiri, dan membujang di biara-biara padahal itu tidak diajarkan dalam agama. Tak ada halangan memang bagi kita untuk menjalankan agama sesuai yang kita mau: termasuk mengenakan atribut, dan semua aksesorisnya. Namun semua akan kembali berpulang kepada kemampuan kita menginternalisasi sebuah ajaran.


Dan Rasulullah saw tetap sederhana berkata, agama itu mudah jangan dipersulit. Bukan meringankan apalagi meremehkan tapi menjalankan sesuai kemampuan lebih disukai ketimbang melakukan dengan memberati diri. Disunahkan tidur dulu saat ketika mengantuk dari pada shalat yang dipaksakan. Menyantap makanan yang sudah disajikan kemudian shalat. Termasuk memenuhi panggilan ibunya baru melanjutkan shalatnya seperti yang menimpa Juraij.


Dan apapun yang datang dari nabi saw insya Allah mengandung hikmah dan maslahat itulah rahasia kenapa kita tak perlu menambahi ajaran yang sudah diajarkan atau mengurangi. Semua sudah sempurna. Wallahu a'lam.


Penulis : Nurbani Yusuf (Komunitas Padhang Makhsyar).