Asal Engkau Bahagia
Cari Berita

Advertisement

Asal Engkau Bahagia

Senin, 01 Januari 2018

Ilustrasi (foto : tomakefriends.com
Indikatorbima.com - Dulu, aku berpikir selamanya akan bersamamu, bahkan sampai di surga. Dulu, saat bersamamu, semuanya teramat indah. Semua. Pagiku denganmu, siang, sore, dan bahkan malamku denganmu meski kami belum boleh sekamar (karena hanya pacaran), tapi kuping kami sampai anti panas karena kita terus berusaha bersama di telepon. Aku rindu kamu yang selalu membuatku bahagia dengan hal-hal sederhana, Mas. 

Aku rindu kamu yang selalu mau aku peluk dan punggungmu selalu jadi rebahan kepalaku saat naik motor, sekali lagi hanya untuk mengitari jalan pedesaan. Memang cukup sering kita berputar-putar di jalanan desa untuk menyemai cinta. Desa lebih sejuk daripada jalan-jalan bising kota. Kita sehati soal keindahan pegunungan dari kejauhan. Juga hamparan padi hijau yang segar dan warna jingga langit sore. Sungguh indah dulu. Kamu lelakiku, Mas. 

Dulu, saat bersamamu semuanya tampak indah. Kita habiskan hari-hari kita dengan suka cita, meski hanya sekadar membeli pentol langganan di depan mall besar itu. Lalu duduk di taman tugu menunggu matahari dimakan bumi di ujung barat. Atau duduk menyaksikan angsa putih saling kejar di danau depan kampus. Dan sering kami begitu.

Dulu, aku berfikir kamulah yang akan menyuapiku bubur saat aku demam. Atau yang akan selalu membetulkan dasimu bila kau hendak berangkat kerja di pagi buta. Dulu, aku rasa kamu adalah suamiku selamanya.

"Kalau kelak kita nikah, kamu minta mas kawin apa, Putri?" Tanyanya padaku suatu hari saat duduk di gasebo depan danau kampus.

"Jangan ringan-ringan, biar aku usahanya dramatis," sambungnya sebelum aku menjawab.

"Minta membunuh Ken Arok. Sanggup, Mas?" Kataku mengkekeh.

"Aih... aku harus nikahi Ken Dedes juga berarti habis bunuh Ken Arok." Katanya sambil senyum.

"Aduh. Jangan kalau gitu. Gimana kalau mas kawinnya peniti satu ton," kataku lagi. "he he he,"
"Siap, Ndoro," katanya lalu menggong jidatku pelan-pelan. Dan kami melepas tawa kecil bersama. Semuanya sungguh indah. Dulu!

Ah, sudahlah, semua berlalu. Biarlah. Aku harus menjalani dan menyukuri hidupku yang indah saat ini. Apalagi sudah ada bidadari kecil yang cantik hadiah dari Allah swt dan siap setia akan menemaniku perawatan ke salon besok-besok. Sekarang mimik cucu ke mama dulu biar cepet gede ya, Sayang. Hehehe...

Baik dia, atau suamiku kini semuanya adalah indah. Dia indah di masa lalu dan pangeranku kini juga sangat luar biasa membahagiakanku. Membandingkan kekasihku dulu dengan kekasihku kini adalah tindakan bodoh. Tidak akan aku lakukan. Dan kalian juga tidak boleh sebodoh itu melakukan perbandingan-perbandingan. Bagaimanapun masa laluku dan cintaku kini adalah luar biasa di masa masing-masing.

Hanya saja, kalau boleh aku berbagi rasa kepada kalian, aku tiba-tiba rindu masa laluku. Rindu saat dia bilang ingin bekerja keras dan uangnya untuk membeli mobil vios. Masih kuingat betul niatan mulianya itu. Katanya agar kami tidak kepanasan dan kehujanan kalau ke mana-mana. Coba gimana perasaanmu terhadap lelaki macam itu.

"Kasihan."

"Apa, Mas?"

"Tuh lihat, anaknya kakinya kepanasan. Anak kita jangan sampai begitu," katanya saat kami berhenti di setopan membahas pengendara lain di depan menyamping dari kami di jalan MT Haryono suatu sore.

"Iya, Mas. Kita nabung yang rajin, yang banyak ya," usulku sambil terus memeluknya di atas motor.

"Mobilnya yang apa?" Katanya menymbung rencana.

"Yang hidup yang nggak mogok, Mas." Kataku.

Di mesem. Aku juga.

"Kasihan. Punya dua anak kok orangtuanya nggak usaha beliin mobil," katanya lagi. 

"Mungkin masih nabung, Mas," kataku. Aku melirik ke arah sepeda motor itu. Satu anaknya mungkin laki digendong si ibu, kepalanya mendangak ke langit matanya terpejam. Si kakaknya perempuan sekitar usia TK besar keplanya direbahkan ke tengah-tengah setir sepeda motor dengan memakai helm kecil warna biru.

"Nabung ke WC? La wong si bapak rokokan itu. Boros," ucapnya kesal. Lalu lampu hijau menyala.

Kami meneruskan perjalan ke timur melewati jembatan Soekarno Hatta lalu berbelok ke jalan depan RRI, aku sudah lupa nama jalannya dan terus ke barat hingga tembus ke sawah-sawah sampai keluar di jalan belakang kampus kami. Dan sering begitu.

Kini aku suka tidak ikhlas bila jalan yang dulu kami mimpikan akan selalu kami lalui berdua tapi dilalui dengan suamiku sekarang. Sesak. Seperti ada yang meremas jantungku sangat kuat bila harus melewati jalan yang dulu kami lalui. Apalagi berlama-lama di taman kota atau taman tugu dengan keluargaku sekarang. Nyesek. Kalau tidak demi si cantikku mana mau aku.

Semua pasti sudah diatur Tuhan. Yang terjadi adalah yang terbaik. Dulu aku pernah berniat meracun siapapun yang menyakitimu. Aku hanya ingin kamu bahagia. Dan bila aku tidak bersamamu berarti aku sudah meracun diriku sendiri. Aku pergi untuk menyaksikanmu bahagia, Mas. Dari tempat yang jauh.

Tapi aku rindu, kamu. Maafkan aku yang meninggalkanmu. Terima kasih atas semuanya. Aku cinta kamu.

Selamat tahun baru, selamat mengenang tahun-tahun lalu yang indah. Semoga bahagia...


Penulis : Mulyanto