Anehnya Kelangkaan Pupuk di Wera, Warga Harus Mengantri dan Bayar DP
Cari Berita

Advertisement

Anehnya Kelangkaan Pupuk di Wera, Warga Harus Mengantri dan Bayar DP

Kamis, 04 Januari 2018

Foto : Ratusan petani sedang mengantri di depan salah satu toko penjual pupuk.
Indikatorbima.com - Kelangkaan pupuk di Daerah Bima kembali terjadi. Kali ini kelangkaan pupuk dirasakan oleh petani di Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Imbasnya sejumlah warga saling desak-desakan untuk mendapatkan pupuk di salah satu toko usaha dagang di Tawali, Kamis (4/1/18).

"Kami harus daftar nama dan membayar DP kepada pedagang pupuk agar kami dapat pupuk, itupun yang kami dapat hanya satu sak. Sedangkan kami butuh dua sampai lima sak untuk tanaman kami," ungkap Dahlan petani Desa Tawali Kepada Indikator Bima.

"Anehnya kalau kami tidak mendaftarkan nama di toko penjual pupuk dan bayar DP sekitar 150 ribu rupiah maka kami tidak dikasih pupuk," lanjutnya.

Para petani mengaku sangat takut dengan kelangkaan pupuk yang mereka alami. Mereka takut tanaman mereka tidak dapat tumbuh dengan baik apabila tidak segera diberikan pupuk.

"Kami takut bibit yang sudah kami tanam tidak tumbuh dengan baik. Sebenarnya saat ini waktu yang tepat untuk melakukan pemupukan," ujar salah satu petani yang tidak mau disebutkan namanya.

Lebih lanjut petani itu mengakui, bahwa awalnya mereka pasti mendapatkan pupuk yang dimaksud. Namun tiba-tiba saja pupuk tersebut habis diborong oleh pengecer. Warga tersebut, menduga pupuk yang diborong oleh para pengecer akan ditimbun dan dijual pada waktu tertentu dengan harga yang sangat mahal. 

"Sebenanya kami pasti mendapat bagian pupuk tersebut disalah satu toko, karena kami sudah mendaftarkan nama terlebih dahulu. Eeehhh tidak tahu kenapa pupuknya sudah diborong oleh pengecer lainya dengan dalil dia sudah mendaftar namanya," papar warga tersebut.

"Saat ini kami butuh struktur kepengawasan dari desa, karena tidak menutup kemungkinan ini adalah pola main dari pihak eceran yang menimbun pupuk dan nantinya akan menjual dengan harga yang cukup tinggi," tambahnya. 
Foto : Para petani sedang mengantri
Sementara itu Ibu Eni, pemilik toko Sumber Makmur yang menjual obat-obat pertanian mengungkapkan, bahwa saat ini dirinya membutuhkan sedikitnya empat ton pupuk urea.

"Setiap hari masyarakat membeli pupuk, kami butuh sekitar empat ton pupuk urea," ujarnya kepada Indikator Bima melalui sambungan telpon.

Reporter : Tris Sutrisno
Editor      : Muh. Ainul B