Aku Belajar Senyum Dari Pantai Gatra
Cari Berita

Advertisement

Aku Belajar Senyum Dari Pantai Gatra

Senin, 22 Januari 2018

Foto : Keindahan pantai Gatra (penulis baju biru langit).
“Abang kalau foto itu harus senyum” tuturmu pelan..!!

“Aku sudah senyum dan seperti inilah senyumku” timpalku namun sedikit kaget..!!

“Hehehe” ketawamu ringan dan singkat sambil jarimu menekan tombol android untuk selfi.

ckkrreekkk......!!!!

Itu adalah sepenggal percakapan yang masih ku ingat dalam perjalanan kali ini dan kini menjadi kenangan. Tepat di malam minggu aku di WhatsApp oleh teman. Pesannya untuk mengajak ke malang selatan berencana liburan ke pantai untuk besok. Setelah mempertimbangkan karena mendadak pula ajakan itu akhirnya aku mengiyakan untuk pergi, maklum aku sudah 3 tahun tidak melakukan perjalanan ke pantai dan bisa menghirup udara pantai.

Perjalanan kali ini cukup jauh, rute yang ditempuh yaitu dari kota malang menuju malang selatan. Kami berangkat jam 6:30 menggunakan sepeda motor berjumlah 8 orang namun tinggal 6 orang, 2 orang membatalkan karena masih di luar kota dan 2 orang sudah lebih awal berangkat ke rumahnya yang kemudian kami singgahi. 

Setelah satu jam perjalanan kami mampir ke rumah teman di Gondaglegi. Suasana desa yang asri jauh dari keramaian, hamparan sawah, berbagai jenis tumbuhan sungguh pemandangan langka di kota. Pemandangan seksi desa seperti ini mengingatkanku pada rumah yang jauh diseberang sana tepatnya di Bima. Jalanan yang becek setelah diguyur hujan menjadi rintangan sendiri. Sesampainya kami di suguhkan sarapan oleh tuan rumah. Sejanak kami berbincang ringan di temani suara orghan di samping rumah karena ada hajatan pernikahan.

Tak begitu lama kami berbincang kami melanjutkan perjalanan. Melewati desa Gondanglegi yang sekaligus nama jalan. Untuk sampai pedesaan membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Malang. Tujuan kami kali ini adalah ke pantai Gatra di desa Sedangbiru. Kondisi Jalan yang bagus dan petunjuk arah cukup memadai sebagai penanda untuk sampai pada tempat tujuan kami. Karena kali ini gerimis yang menyambut kami membuat jalan licin kadang sedikit curam menjadikan perjalanan cukup hangat. Anak-anak motor saling konfoi menambah keramaian sepanjang perjalanan. Melewati pemukiman penduduk serta hutan-hutan dipenuhi pohon-pohon yang asri cukup menjadi penyajian awal untuk mata. Terlintas dipikiranku betapa indah ciptaan tuhan.

Perjalanan menuju pantai melalui jalur trecking. Untuk sampai pos pertama harus melewati sebuah pedesaan dengan jalan selebar sebuah mobil sedan. Jalan yang belum di aspal dan bebatuan karena letak desa di lereng gunung memerlukan tenaga ekstra. Tibalah di Pos petama, ini adalah pos pangkalan ojek yang mebawa para turis yang tidak menggunakan sepeda motor untuk sampai ke pantai pantai-pantai tujuan. Turis-turis lokal dan asing yang datang dan meningglakan menemani perjalanan. Sepanjang jalan Pohon-pohon pisang memenuhi pemandangan.

Dari 6 orang group kami 5 orang itu berasal dari luar daerah dan 1 orang asli dari malang sekaligus gaet untuk kami, yang aneh dari logatnya dia tidak cukup di kenal sebagai orang Malang. Sampailah kami di pos kedua kami disambut keramahan orang-orang pengelola pantai, inilah awal kecemburuanku di mulai. Pos ini adalah pos pakir. Dari parkir terdengar suara ibu-ibu memberikan pengarahan, mereka sekaligus merangkap jadi jukir. Mereka berjumlah 3 orang Asumsiku kenapa ibu-ibu ini di percaya menjadi penjaga parkir mungkin ibu-ibu ini sudah berpengalaman menjaga hati untuk suaminya. Eeeaakkk...!!!!

Tak sampai 15 menit berjalan dari parkiran kamipun sampai di pos ke tiga. Di tempat ini bagaikan menyeberang sebuah negera. Antrian para pengunjung terlihat diarea ini. Ini adalah pos pemeriksaan barang menjadi hal pertama dan yang paling utama selain tiket masuk, itu terlihat dari tatapan-tatapan penggelola yang mengayutkan. Peraturannya sederhana, bagi para pengunjung yang membawa barang berpotensi menjadi sampah harus di hitung. Barang bawaan kami semuanya di cek. Kertas nasi, plastik, botol plastik sampai hal yang menjadi privasi bulanan wanitapun di tanya kemudian di tulis dalam form nota.

Setelah ceklist barang kami di beritahu satu peraturan yang memojokkan namun mendisiplinkan “Benar tidak di hargai salah didenda”. Artinya kami dihimbau agar semua barang bawaan itu di bawa balik dan “Apabila dari semua barang-barang tadi kami tinggalkan ataupun salah satu yang hilang maka kami akan di denda uang sebanyak 100 ribu per item barang yang hilang”.

Pantai Gatra berada di kawasan dusun Sendangbiru, Kecamanatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Cukup membayar mahar 10 ribu untuk masuk di pantai ini sedangkan di pantai-pantai lain misalnya Tiga Warna wajib menggunakan gaet yang dari anggota mereka, tentu saja dengan membayar mahar pula. Dari pos ini membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai ke pantai. Sepanjang perjalanan kami saling ngobrol hangat dengan tema ringan dan sambil tertawa. Sesekali mampir mengabadikan momen perjalanan di tengah-tengah hutan Mangrove.

Akhirnya kamipun tiba di bibir pantai. Pemdandangan orang-orang yang sedang menghayutkan diri dengan ombak begitu ramai. Destinasi keindahannya nampak masih asri dan hijau. Kelelahan yang tadi ada seketika lenyap bagaikan hanyut terbawa oleh ombak. Pengunjung yang menikmati Cano-cano berjejeran, hanya mengeluarkan mahar 25 ribu anda bisa memakai se-capeknya. Kemah-kemah berdiri di bibir pantai menambah eksotis pemandangan. Kamipun ikut larut dalam suasana romantis menikmati keindahan pantai. Namun Ada hal yang membuat terperangah pada pantai ini hampir dipastikan tidak ada sampah.

Sampah adalah hal yang memuakan di pantai ini itulah kenapa ketika meninggalkan sampah tentu saja hukuman menanti kami di pos pengelolaan. Tidak hanya itu di tempat ini tidak ada pasar yang bertenggeran pengunjung yang datang harap membawa bekal tersendiri. Ombak yang tenang cukup untuk berendam melepas lelah. Tentu saja hal yang penting adalah mengabadikan tempat ini dalam album foto walaupun senyumanku itu “katanya” terpaksa. 

Setelah senja tak nampak akhirnya kami bergegas siap-siap untuk pulang Sungguh pengalaman yang luar biasa bercengkaraman dengan laut dan ombak. Pasir-pasir pantai yang bersih dari sampah. Hutan-hutan mangrove yang indah. Pengunjung-pengunjung memanjakan satu sama lain.

Dalam perjalanan pulang melewati jalan Turen aku membayangkan kotaku yang “katanya” Maja Labo Dahu, memiliki pengelolaan yang reprsentatif seperti pengelolaan pantai Gatra. Pengembangan kawasan wisata pantai di Bima sangat potensial tentu saja dengan melibatkan semua elemen. Aspek-aspek yang menjadi perhatian yaitu kerbersihan, keamanan, serta akses jalan yang memandai menjadi tujuan utama pengembangan. Hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam yang romantis kita bisa ciptakaan melalui menjaga lingkungan. 

Sejatinya alam memberikan kita pelajaran bagi yang mau berlajar. Pengelolaan yang terkontrol dengan aturan-aturan yang efektif tentu saja akan mendidik para pengunjung. Orientasi pengelolaan yang tidak hanya mementingkan jumlah pengunjung tetapi juga menjaga dan melestarikan alam adalah prioritas. Sebaik apapun aturan jika pengunjung tidak terdidik maka alam dapat dipastikan tidak akan memberikan senyumannya untuk manusia. Alam yang terjaga tentu saja akan menentukan keberlangsungan kehidupan kita dengan sendirinya memberikan kenyamanan dan menambah jumlah pengunjung.

Kini Akupun paham bahwa alam selalu bersenyum kepada kita. Aku berpikir harus kembali ke pantai Gatra membawa senyum baru bersama kamu untuk menggantikan senyumku yang lama.

Penulis : Bima Monta (Pegiat di Kambuti _Komunitas Mbojo Matunti)