Ungkapan Hati dan Doa Seorang Anak Kepada Ibu
Cari Berita

Advertisement

Ungkapan Hati dan Doa Seorang Anak Kepada Ibu

Jumat, 22 Desember 2017

Foto : Penulis

Ibu Bidadariku

Ibu adalah sang bidadariku. Bidadari yang selalu ada. kau bagaikan malaikat yang terlihat, yang dapat melihat ketika diriku menangis dan terluka. Kau tempat ku beradu saat ku pilu akan kenestapaan dalam menggapai jalan takdirku.Takdirku yang berdasarkan didikanmu dalam doamu menginginkanku selalu dalam lindunganNya..

Aku menggapai apa yang ingin kau capai dalam munajat kasihmu ketika kau berkeluh pada Tuhan. Meski engkau tak pernah mengeluh di depanku, kau selalu tersenyum seakan engkau tdak menangis dan seakan engkau baik-baik saja.

Aku tahu ibu, kau selalu menangis dalam diam, kau bahkan tak rela jika anakmu tau jika engkau sedang bersedih. Sejak aku kecil sampai aku dewasa engkau selalu seperti ini. Engkau selalu memikirkanku dan selalu engkau utamakan dari segi makanan, pakaian dan semuanya engkau utamakan anakmu.

Terimakasih Ibu.
Aku tahu ibu, kau selalu menahan kelaparan saat anak-anakmu kekenyangan, karena engkau rela memberikan makanan jatahmu demi mencukupi porsi makan anak-anakmu. Engkau bahkan mampu membaca pikiranku ketika wajah ku dalam sendu, kau memberikan nasihat bijakmu hingga hatiku kembali tentram laksana sang putri yang selalu di jaga oleh pasukan-pasukannya.

Ibuku adalah wanita yang terhebat. Hebat dalam segala hal dan terkuat di antara yang kuat, serta penyayang di antara yang menyangiku. Kau laksana lilin, rela menderita demi melihat anakmu sukses. 

Apapun itu akan engkau lalakukan hanya untuk seorang anak. Engkau hanya tahu kebahagiaan dan kesuksesan kamilah yang menjadi keutamaan bagimu. Engkaulah bidadari syurgaku. Syurga duniaku dan syurga di akhirat kelak.

Dan tanpamu aku tidak bisa menjalani hidup ini. Tidaklah sempurna hidupku tanpa nasehat dan didikanmu. Selain itu ibu, hanyalah dirimu hidupku dan matiku. 

Aku pun merasa tidak mampu untuk membalas semua kebaikanmu. Tapi taukah engkau ibu? Aku akan selalu berusaha menjadi seorang anak yang baik dan sholehah hanya untukmu dan teruntuk dirimu ibu. Karena hanya doa seorang anak yang sholehahlah yang akan diijabah dan dikabulkan oleh Allah SWT.

Yaa Allah…
Ampuni aku, aku titipkan salam rinduku untuk ibu. Ibu yang jauh disana yang selalu mendoakan terbaik untukku disini. Dalam sujud aku akan selaluku doakan untuknya. Yaa rabbii lindungilah ibuku sebagaimana ibu melindungiku dan sayangilah ibuku seperti ibu menyayangiku tiada henti. 

Rabbigfirli wali wali daiya warhamhuma kama rabbayanii syagiroo. Aamiin Untukmu ibu, Terima kasih I love you my mother.

Penulis : Nur Assyfah
Editor   : Misbah

Foto : Penulis bersama ibunya
Untuk Ibuku Kekasih Allah

Untuk cintaku,
Bagai terhenti waktuku kala kau tinggalkan duka dalam belenggu jiwaku, kau tinggalkan senyum menawan menghanyutkanku dalam lembutmu, hingga ku terbalut pilu dalam segala kenangan tentangmu.

Tetesan air mata ratapan perpisahan mengalir di pipi ini, kau tinggalkanku tanpa pesan.

Oh Tuhan, yang menguasai segala yang tercipta. Sudikah kau mendengar permohonanku? Aku ingin dia kembali dalam pelukanku, menghadirkan kebahagiaan yang tak pernah usang untukku puja dalam tiap detak nafasku 

Tapi kau begitu semu dalam diam mu.
Kau tak pernah kembali, kau tak lagi beri aku senyuman untuk awali hari lelahku dalam gundah meratapi perpisahan.

Ibu… aku merindukanmu dalam setiap kenangan yang telah terlewati.

Hening yang menjelma bagai pelukan yang hangat dalam tidur malamku. Seraut wajah usang yang tak lekat oleh ingatan. Ibu tak rentang oleh waktu, namamu harum dalam benak jiwaku.

Cinta yang kau beri sepanjang hayatmu, belenggu jiwamu dalam gambar diri yang termakan usia.

Untuk kekasih Allah…
Aku merindukanmu Ibuku tercinta. Ragamu tiada namun jiwamu selalu menemaniku. Terima kasih untuk cinta dan anugerah terindah terlahir dari rahimmu. 

Penulis : Kursita
Editor   : Misbah

Foto : Penulis
Tangisan Air Mata Bunda

Dalam senyumanmu kau sembunyikan letih dalam hatimu, derita siang dan malam telah menimpa batinmu bagaikan ditelan duri. Hatimu sakit kian menyiksa, nafasmu terhempas harapan.

Bunda…
Seketika tubuhku memotong waktu yang seakan berhenti, jiwaku yang bergejolak mencampuradukan rasa, mencintaimu dan menyayangi mu.

Keinginan hatimu membahagiakan kami, engkau tak pernah lelah memberi cerita indah, menebarkan senyuman, mengubur luka dalam hati kami.

Bunda…
Kau buat kasih sayang itu menjadi kebiasaan yang sering kami lupakan. Menghiraukan nasihatmu, Mengabaikan harapanmu seakan ucapanmu tak bermakna dalam hati tak mengetuk nurani kami.

Bunda…
Kau sirami hidup kami dengan cinta, kasih dan sayang di saat keringatmu terjatuh, tubuhmu telah remuk, tapi engkau tak pernah mengeluh hanya pengobat rindu yang kau imani.

Bunda…
Langkah kakimu terus berpijak, detak jantungmu mempesona memberi rasa dengan sejuta kenangan, memperkenalkan kami dengan sejuta harapan. Engkau terus membiarkam ragamu terbakar api, terang dalam cerita, keringat dan air mata sebagai penyair rindu telah menyayangi kami dengan ketulusan hatimu Bunda.

Penulis : Jamil Babuju
Editor   : Misbah