Umat Kristiani Tidak Menagih Ucapan Selamat Natal Kita
Cari Berita

Advertisement

Umat Kristiani Tidak Menagih Ucapan Selamat Natal Kita

Rabu, 27 Desember 2017

Ilustrasi (foto : islam.org.hk)
Indikatorbima.com - Suka cita Natal tak akan bertambah dengan ucapan kita, pun juga tak akan terkurangi bila kita tak ada diantaranya. Syukur dan kegembiraan saudara-saudara kita penganut Kristiani lazim mereka nikmati sebagai damai Natal dalam Tuhan yang diimani.

Kontroversi ucapan selamat Natal di internal umat Islam terus meruak pada setiap tahun perayaan. Ketika saudara kita penganut Kristiani khusyuk beribadah di gereja, katedral atau tempat-tempat lain yang mereka sucikan. Umat Islam malah ribut soal boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal. Lucu saya menyebutnya.

Ini bukan soal penganut Kristiani yang merayakan Natal tapi soal kita umat Islam yang kelebihan mereaksi. Ada yang maunya mengucapkan selamat Natal setiap hari dan hadir di setiap perayaan Natal, ini lebih Kresten ketimbang orang Kresten sendiri. Ada yang mutlak mengharamkan mulai dari ucapan hingga atribut yang dikenakan. Dan sebagian kecil yang bijak menyikapi sebagai bentuk prifasi iman. 

Apa saudara kita penganut Kristiani butuh dengan ucapan selamat Natal, sehingga kita harus serius berdarah-darah saling mengkaferkan sesama muslim soal boleh dan tidaknya mengucapkan selamat Natal. Apa selama ini mengganggu pertemanan kita bila kita tidak memberi ucapan selamat. Apa mereka menagih dan meminta kepada kita untuk mengucapkan selamat Natal. Sejak kapan ucapan selamat Natal menjadi bagian dari ibadah Natal yang mereka rayakan. Atau kita saja yang baper.

Jujur kita belum pernah bertanya pada saudara kita penganut Kristiani apa masih perlu dengan ucapan selamat Natal kita kepada mereka. Saya juga berpikir bagaimana perasaan dan pikiran mereka saat menerima ucapan selamat Natal hasil dari keributan dan ikhtilaf, sebagaimana kita menerima pemberian saudara yang sebelumnya mereka bertengkar dulu sebelum diberikan.

Sejak mula saya berkeyakinan bahwa pertemanan tidak saya bangun atas klasifikasi agama, ras atau bahasa, apalagi manhaj atau golongan. Saya melihat semuanya dari sisi humanitas, jujur tanpa syarat. Demikian Kanjeng Nabi saw mengajarkan. Sebab itu tak heran meski beberapa kali nabi saw diingkari dan dihinakan oleh orang-orang Yahudi dengan khianat dan kebencian yang sangat, beliau saw tak pernah membalas. Berpikir saja tidak.

Saya punya banyak teman dari berbagai latar keberagamaan manhaj, idelogi, golongan dan ras. Kami tak saling mengusik. Apalagi mengganggu, atau melakukan sesuatu sekedar lipstik agar terlihat baik dan saling menghargai kemudian mengurbankan iman.

Natal adalah soal iman jadi tak perlu pengakuan dari siapapun termasuk kita. Juga bukan soal kapan dan dimana sebab iman bukan kumpulan fakta dan realitas sosial. Iman adalah soal percaya itu saja. Tidak penting apakah kita mengucapkan selamat Natal atau tidak iman Kresten tetap natural ada sebagai iman pada Nubuwah yang mereka yakini.

Jadi kita umat Islam tak ada hubungan apapun dengan rangka iman Kristiani yang dibentuk. Lantas kenapa kita mesti ribut dengan ucapan selamat Natal yang sama sekali tidak mereka butuhkan. Penganut Kristiani tidak pernah minta apalagi menagih. Saatnya kita berpikir jernih tak selalu gaduh setiap tahun. Mau ngucapin selamat Natal saja kok ribut duluan, memang gua pikirin ..... katanya ... "

Sekali lagi saya mohon maaf atas kegaduhan rutin ini .. semoga tidak mengganggu damai dan suka cita Natal yang dirayakan.


Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar