Trump Adalah Kabar Buruk
Cari Berita

Advertisement

Trump Adalah Kabar Buruk

Minggu, 10 Desember 2017

Donal Trump (foto : Vanity Fair)
Indikatorbima.com - Trump tepati janji kampanye. Tidak mudah kalahkan Hillary Clinton dan Trump bisa telak memenangi pemilihan. Trump bisa dengan licik memanfaatkan situasi terpuruk bangsa Amerika terutama karena tekanan utang dan pengangguran menjadi kekuatan yang mengalahkan, Belum lagi posisi Amerika sebagai polisi dunia butuh biaya tinggi dan ancaman dunia luar yang juga tak bisa dianggap enteng.

Pengakuan Trump terhadap keberadaan negara Israel yang dibuktikan dengan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota adalah salah satu dari janji kampanye. Inilah jawaban kenapa Yahudi Amerika mendukung total Trump menapak jalan gedung putih.

Tak sedikit dukungan Yahudi diberikan, mulai logistik, uang, media dan suara, semua perusahaan besar Amerika milik Yahudi dibelakang Trump meski ia adalah satu-satunya calon Presiden Amerika dengan catatan moral paling buruk. Tapi itulah politik.

Gagasan Trump untuk mengembalikan kekuatan Amerika sangat menarik. Bangsa Amerika untuk bangsa Amerika, katanya ringkas dalam berbagai kesempatan pidato kampanye. Trump juga tak ramah dengan migran asal timur tengah apalagi muslim. Bagi Trump posisi Amerika sebagai polisi dunia tak ada manfaatnya disamping buang-buang uang dan energi juga kerap merepotkan Amerika secara politik.

Karena posisinya itu pula Amerika menjadi musuh banyak negara, sasaran teroris dan amuk para kelompok radikal. Itu pula yang menjadikan Amerika sebagai bangsa dengan jumlah jam tidur paling sedikit karena takut dan cemas menghinggapi sebagian besar penduduknya.

Pendek kata Trump adalah representasi politisi Amerika klasik: pragmatis dan egois khas gaya para pendahulunya. Trump hanya ingin meninggalkan pesan kepada dunia bahwa silang sengkarut konflik timur-tengah sangat melelahkan dan tak perlu di urus. Tak ada manfaatnya bagi bangsa Amerika. Dan Trump berpikir praktis, meski sadar bahwa Amerika bakal dikecam dunia internasional, yang penting Amerika untung dan para kapitalis Yahudi tak meninggalkannya, yang lainnya 'emang gue pikirin'.

Dengan pola politik luar negeri semacam itu tak seharusnya negara-negara Islam berharap banyak apalagi bergantung pada Amerika. Paling tidak segera melakukan evaluasi dan dekonstruksi kebijakan politik luar negerinya selama periode Trump.

Meminjam teori ketergantungan (Dependensi Theory) sepertinya para penguasa Arab timur-tengah sudah terjerat sangat dalam, dan sulit bisa keluar dari ketergantungan akut. Negara-negara Arab kecuali Iran sudah menjadi bagian dari sekutu Amerika dan tak mungkin melawan. Hanya kumpulan juru runding yang mandul. Sebab keras terhadap Israel, dukungan kekuasaan dalam negeri bakal terancam. Sebelum pengumuman pengakuan negara Israel pun para penguasa Arab dan timur tengah juga sudah beberapa kali bertemu.

Soal dasarnya adalah sentimen terhadap Amerika akan semakin meluas. Kelompok radikal dan teroris akan semakin menguat, bahkan dikawatirkan ada distorsi informasi ketika pengakuan negara Israel berubah menjadi konflik antar agama, Islam dan Kresten-Katholik saling berhadapan di akar rumput itulah kabar buruknya bagi dunia yang ingin damai dan Trump adalah biang dari semua itu.

Indoenesia berada disimpang jalan, mau keras dengan cara boikot Amerika tak mungkin, mendekati China juga masalah sebab sentimen anti China di dalam negeri juga cukup tinggi dan sensitif. Pada sisi lain negara-negara timur-tengah juga tak bisa di andalkan, mereka dikenal sangat pelit terhadap sesama negara Islam tapi royal dengan negara barat.

Palestina dan Israel adalah simalakama. Karena itu tak heran bila ini soal paling rumit dan awet karena banyak faktor yang mengikuti. Ini bukan lagi hanya soal konflik antar iman. Pada akhirnya bangsa Palestina tetap saja sedirian. Sebab perang dan kekerasan juga telah berubah menjadi industri.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar