Sistem Pendidikan Pesantren "Islam Menjadi Lambat Berkembang dan Maju"
Cari Berita

Advertisement

Sistem Pendidikan Pesantren "Islam Menjadi Lambat Berkembang dan Maju"

Rabu, 06 Desember 2017

Ilustrasi (foto : Republika - Republika Online)
Indikatorbima.com - Pesantren berasal dari kata ‘’santri’’ yang mendapat imbuha awalan ‘’pe’’ dan akhiran ‘’an’’ yang menunjukkan tempat. Kata santri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti melek huruf, diasumsikan bahwa santri berarti orang yang tahu tentang agama melalui kitab-kitab berbahasa Arab dan atau paling tidak santri bisa membaca Al-qur’an, sehingga membawa kepada sikap yang lebih serius dalam memandang agama. Dari pesantren diharapkan lahir generasi yang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat khususnya di bidang agama dengan pengetahuannya tentang kitab-kitab yang dipelajari dan dapat memimpin umat dimana pun dia berada. Ternyata dalam keberadaannya dalam menciptakan generasi yang memimpin umat, pesantren juga memiliki syarat tertentu baru dikatakan sebagai pesantren. Suatu tempat dapat dikatakan sebagai pesantren apabila memenuhi beberapa unsur berikut ini, pondok atau asrama, tempat belajar mengajar biasanya berupa masjid, santri, kitab kuning, kiai, dan ustadz ( Subkhi, 2013 ).

Berdiri dan berkembangnya pesantren tidak dapat dipisahkan dengan zaman walisongo, sehingga tidak salah bila dikatakan pondok pesantren yang pertama kali adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, yaitu orang pertama dari walisongo yang menyebarkan Agama Islam di Jawa, sehingga dapat disimpulkan bahwa lembaga pesantren itu sudah ada abad ke-15, dalam perkembangan pesantren, tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren adalah Raden Rahmat ( Sunan Ampel ) yang telah mendirikan di kembang Kuning, kemudian pindah ke Ampel Denta, Surabaya, dan mendirikan pesantren di sana, dan disana misi keagamaan dan pendidikan mencapai sukses, sehingga setelahnya banyak bermunculan pesantren-pesantren yang didirikan oleh pesantren santrinya, diantaranya adalah pondok pesantren Giri yang didirikan oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah.

Masalah Pesantren

Didalam pesantren diajarkan berbagai cara ketaatan kepada guru, orang tua, dan orang berilmu sehingga tidak ada orang yang lebih baik dari pada mereka. Anggapan seperti inilah yang membuat para santri yang berada di pesantren sangat sulit maju dan berkembang dalam pemikiran. Dalam pesantren diajarkan untuk selalu menghormati guru yang berimbas pada ketidak beranian santri dalam melawan dalam pemikiran para kiai yang mengajarnya, di barat antara murid dan guru saling bertentangan dalam pemikiran melalui percobaan-percobaan yang ilmiah dalam pembuktian gagasan yang di utarakan. Inilah yang menyebabkan umat islam sangat lambat dalam perkembangan akibat dari adanya anggapan bahwa guru adalah orang yang paling tinggi pemikirannya, jika melihat kembali sejarah umat Islam lebih maju dahulu dibandingkan dengan umat nonmuslim. Realitasnya sekarang umat islam sudah jauh tertinggal oleh umat nonmuslim, padahal sama-sama perak terpuruk dalam masa lalu. Barat membebaskan semua warganya untuk bebas dalam menuangkan pikirannya sekalipun antara guru dan murid saling bertentangan, hal ini mendorong pelajar untuk lebih menemukan fakta-fakta baru dalam penemuan yang belum pernah ditemukan orang lain, ini salah satu penyebab barat lebih cepat maju dibandingkan dengan islam yang sekarang.

Santri juga bisa melakukan hal itu, akan tetapi rasa kesusilaan yang timbul dari hati yang jika bertentangan dengan guru itu dianggap sebagai sesuatu yang buruk, walaupun ada yang bertentangan itupun hanya sebagian kecil dari santri yang berani mengambil resiko dari perbedaan pendapat. Menjaga agar perasaan guru tidak tersinggung adalah nilai tertinggi yang benr-benar ditanamkan oleh para santri sehingga umat islam sangat sulit lebih maju dalam pemikiran dibandigkan dengan barat. Pertentangan dianggap sebagai sesuatu yang melanggar norma dan etika yang diterapkan dalam pesantren, satu kali melanggar saja diberikan hukuman berupa hafalan atau bentuk lainnya.

Santri tidak bisa bebas dari kesusilaan yang mengikat sebagai suatu yang tinggi dalam bersikap. Seandainya santri mengesampingkan perasaan itu, pasti santri akan menjadi pembawa perubahan besar dalam dunia karena mereka diajarkan agama dan ilmu pengetahuan. Perdebatan merupakan hal yang wajar selama masih bersifat logis dan tidak menjelekkan lawan, perubahan mebutuhkan keberanian bukan ketaatan pada peraturan. Namun perubahan yang baik membutuhkan keberanian yang disertai dengan ketaatan pada peraturan, hal ini tidak bisa dipisahkan dalam meraih perubahan yang hakiki.

Solusi Permasalahan Pesantren

Beranjak dari permasalahan yang dipaparkan diatas, solusi yang mungkin dilakukan adalah perubahan pemikiran santri tentang pandangan akan guru adalah ukuran tertinggi dalam pemikiran. Kebebasan berpikir harus benar-benar dibebaskan sebagai sumber dari perubahan, santri bebas mengutarakan pendapat tanpa menyudutkan guru dan berkata kasar karena tidak ada kesesuain pendapat. Banyak santri yang menunjukkan sikap biasa saja pada saat berada di pesantren lebih tepatnya tidak terlalu paham akan ilmu yang disampaikkan, tetapi pada saat berada diluar semua ilmu yang diajarkan di pesantren akan menjadi panduan hidup dan diamalkan dalam kehidupan. KH. Abdurahman Wahid mengatakan bahwa “santri akan bermanfaat pada saat dia menjadi alumni”, ini menunjukkan bahwa santri akan berkembang pemikirannya secara pesat jika tidak ada sesuatu yang menjadi beban dalam pikiran.

Pemerataan pemikiran dan pandangan di pesantren harus lebih ditingkatkan supaya tidak ada sesuatu yang mengikat pada kebebasan berpikir sebagai sumber pembawa perubahan. Anggapan bahwa guru sebagai pemikir yang paling tinggi harus diminimalisirkan agar tidak ada ketimpangan bagi santri.

Kepada pemudalah masa depan bangsa ini dititipkan, pemuda yang baik adalah yang paham agama, orang yang menguasai agama adalah santri. Jadi santri harus menjadikan akal sebagai ukuran kebenaran dari segala sesuatu, jika akal mengatakan itu benar maka lakukanlah dan jika akal mengatakan itu salah maka tinggalkanlah tanpa menghiraukan ketaatan pada peraturan.


Penulis : Riski Mulyadin