Pilwali Kota Bima "Serangan Fajar" Siap Menghantam
Cari Berita

Advertisement

Pilwali Kota Bima "Serangan Fajar" Siap Menghantam

Sabtu, 30 Desember 2017

Gedung kantor Wali Kota Bima (foto : nasional.republika.co.id)
Indikatorbima.com - Pemilihan pasangan calon Wali Kota Bima dan calon Wakil Wali Kota Bima (Pilwali) akan berlangsung pada bulan Juni tahun 2018 mendatang.

Kota Bima akan kembali beradu siapa yang lebih pantas memenangkan konstelasi pesta demokrasi lima tahunanan ini. Sejumlah trik-trik politik akan dipraktekkan dipesta demokrasi Pilwali, dari label suci sampai ke label yang berujung pada pembelian suara.

Praktek politik inilah yang harus kita waspadai guna untuk mengembangkan potensi Kota Bima ke depannya, karena inilah saatnya kita akan bertaruh untuk menentukan Kota Bima lima tahun yang akan datang. Kota Bima yang baik akan terwujud jika pemimpinnya baik, dan pemimpin yang baik bisa kita lihat dari praktek pesta demokrasi yang baik.

Pesta demokrasi merupakan ajang untuk menghitung suara rakyat, menghargai suara rakyat, yang di mana di sinilah satu-satunya suara rakyat dihargai dan diperhitungkan, meskipun nantinya kita akan turun ke jalan guna untuk meminta hak dari aspirasi kita sebagai rakyat. Saat inilah para calon Kepala Daerah ataupun wakil rakyat akan turun langsung kelapangan guna untuk mendengarkan aspirasi rakyat, berteriak di atas panggung-panggung guna untuk berkampanye bahwa merekalah yang harus dipilih. Pohon-pohon di pinggir jalan akan menjadi saksi janji politik yang tertulis dibaliho dan papan-papan reklame lainya.

Pesta demokrasi masih belum sepenuhnya berjalan dengan baik, sebagaimana Abdur dalam stand up-nya, "suara seorang profesor dengan suara seorang preman sama-sama dihitung satu, suara orang yang memilih karena analisa, dan suara orang yang mimilih karena dibayar sama-sama di hitung satu, makanya masyarakat jangan ada yang golput karena suara kita adalah suara untuk membunuh para pelaku money politik" pesan ini menghimbau kepada masyarakat Indonesia karena menurut cara pandang saya, masyarakat belum sepenuhnya memahami arti politik dan pesta demokrasi yang sesungguhnya. 

Ada sebagian dari kita memilih menutup diri dari persoalan politik ini, yang seharusnya kita adalah sutradara dari perfilman ini agar para aktor-aktor politik bisa kita atur, memilih dan memilah figure mana yang pantas untuk menjabat dikedudukan itu tentunya bukan siapa yang mampu membayar suara kita tapi berdasar pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang mereka miliki.

Demokrasi yang seharusnya menjadi ajang pesta demokrasi sebagai lomba untuk memilih pemimpin-pemimpin yang bijaksana dan adil menurut pilihan hati rakyat harus terisolir dan terkikis oleh sebagian calon yang melakukan money politik untuk mendapatkan keinginannya, tentunya ini bukan masalah yang familiar dilingkup demokrasi Indonesia saat ini, dan sudah merupakan hal yang lumrah bagi para calon-calon legislatif dan calon kepala daerah disetiap penjuru negeri ini. 

Menyikapi money politik atau yang biasa kita kenal sebagai "Serangan Fajar" tentunya kita harus benar-benar mengerti makna politik dan demokrasi yang sebenarnya. Sebagaimana sebagian orang yang memilih untuk golput dan memilih tidak terlibat dalam praktek politik karena politik hanya diasumsikan sebagi ajang sikut menyikut, dan saling memfitnah satu sama lain. Tentunya ini bukan lah suatu makna politik yang sesungguhnya, yang di mana makna politik sesungguhnya ialah bagaimana kita berideologi dalam praktek politik tersebut.

Memilih buta politik atau Golput bukanlah sesuatu yang baik, karena suara kita adalah penentu kemajuan daerah kita dalam tenggang waktu lima tahun yang akan datang. Sebagaimana penyair Jerman " Bertolt Brecht", "sungguh bodoh dia yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu berpolitik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri". Dalam kalimat-kalimat Bertolt Brecht ini tentu mengandung dan menitik beratkan kepada rakyat agar benar-benar memilih pemimpin yang bijaksana, adil dan amanah.

Maka dari itu kita sebagai tameng, pejuang, penentu dan yang merupakan titik kulminasi untuk para calon legislatif maupun calon kepala daerah lainnya harus mampu memilih dan memilah figure mana yang akan kita majukan untuk duduk dikursi di pesta demokrasi yang akan datang.


Penulis : Ginanjar
Editor   : Muh. Ainul B