Pemkab Sekarang Jangan Ahistoris, Pemkab Sekarang Jangan Apatis
Cari Berita

Advertisement

Pemkab Sekarang Jangan Ahistoris, Pemkab Sekarang Jangan Apatis

Jumat, 29 Desember 2017

Foto : Penulis
Baca Dulu : Malang Nasibmu Mone "Bupati, Kami (dulu) Torehkan Sejarah"

Indikatorbima.com - Pengadaan asrama bertujuan sebagai ruang belajar, penunjang diskusi, wadah kreatifitas, rumah bersama tempat berkumpul dan pengorganisasiannya mahasiswa Bima dengan berbagai civitas akademikanya. Wadah yang menunjukkan eksistensi organisasi induk Kerukunan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Bima (KKPMB). Asrama sebagai identitas, etalase mahasiswa Bima khususnya dan warga Bima se-Malang raya umumnya. Disebut etalase identitas atau “cerminan wajah” ke-Bima-an sebab warga luar Bima tentu saja dengan melihat kondisi asrama sekaligus dapat menilai atau bahkan menjustifikasi positif-negatif tentang Bima baik sebagai institusi pemerintah maupun secara kemasyarakatan. Tetapi selain itu ada yang jauh lebih penting, asrama harus diingat adalah asset.

Namun bagaimana riwayatnya kini? Asrama bermasalah, keadaannya kontradiktif dengan romantisme sejarah ‘mahal dan megahnya’. Sebab asrama yang ditempati oleh puluhan mahasiwa asal Kabupaten Bima ini, sekarang kondisinya sangat memprihatinkan. “Selain atap-atap plafonnya rontok bertebaran akibat genteng-gentengnya banyak yang bocor, cat temboknya kusam, semua kamar mandi rusak parah,” ujar Zulhijjah ketua asrama.

Dan tak hanya itu, asrama yang memiliki 15 kamar tidur, 1 musholah, 1 ruang dapur, 8 kamar mandi dan memiliki ruang tamu yang luasnya 7x4 meter ini hampir saja tidak layak dihuni. Bagaimana tidak, air dari sumur bornya terkadang keluar kadang tidak yang membuat asrama harganya fantastis ini bau.

“Asrama gelap-gulita, listrik sebulan padam terkadang hanya seminggu nyala. Sebelumnya dipasang meteran listrik berprabayar seperti saat ini, meteran listrik lama dicabut PLN karena nunggak bayar listrik berbulan-bulan. Kemudian setelah dipasangnya listrik berprabayar, penghuni asrama justru semakin berat, sehingga kenyataannya tidak sanggup beli token listrik,” tutur dia.

Kepada penghuni asrama, Ketua RT setempat telah berkali-kali memberikan teguran baik berupa lisan maupun secara tertulis. Teguran RT berhubungan dengan pembayaran iuran bulanan kebersehian dan kemaanan yang sering tidak dibayar. Selaku penanggujawab lingkungan tempat arama berada RT tak sekedar menegur, bahkan telah keluarkan surat pernyataan tegas bahwa kehiudapan asrama telah melanggar tata tertib lingkungan yang ada.

Keadaan miris asrama tersebut lantas selama ini apakah penghuni asrama tidak bertanggungjawab atas rumah yang dihuninya? Barangkali hal itu jangan ditanya, sebab bayangkan hampir sepuluhan tahun silam asrama dibeli, penghuni asrama secara swadaya bertanggungjawab merawat asrama.

Lagipula, jelas mahasiwa semester akhir ini, dalam memenuhi sumber keuangan asrama, penghuni hanya mengandalkan dana urunan, bahkan penghuni asrama telah membuat tata tertib asrama yang disepakati sebagai aturan hukum yang harus ditaati siapapun penghuni asrama. (Baca; Tatib Asrama Mahasiswa Bima-Malang Tahun 2009-2017).

Pemkab Sekarang Jangan Apatis

Selanjutnya bagaimana dengan perhatian pemerintah daerah pasca mangkatnya mendiang alm. Bupati Ferry Zulkarnain? Asrama tidak pernah diperhatikan lagi oleh pemerintah daerah Kabupaten Bima. Bila pun ada Dinas yang berkunjung sepintas melihat saja borok asrama, bahkan celakanya bahkan ada oknum-oknum pegawai daerah yang sengaja datang tidak jelas juntrungan darimana, seolah-olah perjalanan dinas ‘tiba-tiba’ foto-foto mendokumentasikan asrama, padahal modus bertujuan mencairkan SPPDnya.

“Saya sering tenda tangan SPPD staf bag umum Pemda waktu itu, terakhir saya marahi. Datang nongol cuma foto-foto. waktu itu saya kroscek ke Sekda, malah dia tidak tahu,” ungkap Fauzi Ahmad yang juga mantan ketua KKPMB ini.

Kenyataan bahwa Pemda Bima terasa absen, cuek bahkan terkesan apatis mengurus asset daerah ini. Asset daerah yang bernilai miliaran rupiah dibiarkan tak terurus dan terbengkelai baik fisiknya maupun berkas kepemilikannya. Asrama yang di beli dengan APBD ini sejak pengadaannya hingga kini status kepemilikannya masih diatas tangan nama pemilik rumah yang lama, belum berstatus hukum atas naman pemerintah daerah Kabupaten Bima.

Asrama yang begitu mahal tapi tidak dibarengi dengan perawatan yang memadai. Waktu itu Dae sangat perhatian dan gampang sekali komunikasinya. Oleh kerena kondisi ini, perbaikan dan peningkatan fasiltas asrama ini sangat mendesak. Supporting, sinergisitas serta kerjasama yang maksimal dari pemerintah Kabupaten Bima tentu sangat diharapkan. Selanjutnya perbaikan asrama ini tentu saja targetnya membawa manfaat, ada feedback atau hubungan timbal pada mahasiswa dan pelajar Bima di Malang untuk selalu berkontribusi nyata membangun dan memajukan daerah Kabupaten Bima.



Penulis : Mujamien Jassin (penulis adalah pemuda Bima, mantan pengurus asrama mahasiswa Bima-Malang 2009-2012).