Motivasi Diri di Tanah Rantauan
Cari Berita

Advertisement

Motivasi Diri di Tanah Rantauan

Selasa, 26 Desember 2017

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Dalam hal menentukan jejak langkah terkadang kita membutuhkan kesabaran dan tekad yang kuat untuk menghadang segala sesuatu yang kita katakana sebagai sebuah penghalang. Dibutuhkan sebuah prinsip hidup yang kuat agar setiap kita melakukan aktivitas dan menentukan langkah terarah dengan tujuan awal kita menentukan langkah.

Maka suatu keharusan bagi para perantau ataupun petualang sejati menentukan langkah yang sesuai dengan prinsip kebenaran baik dalam aspek kebenenaran kebijakan yang telah kabur maupun kebenaran yang telah kita anut sebagai manusia yang memeiliki agama yang modalnya adalah keyakinan lalu mempercayainya Menentukan jejak langkah pula bukan sesuatu hal yang mudah, karena di dalamnya membutuhkan sebuah pengorbanan antara pemikiran dan tindakan.

Dengan pemikiran tingkat tinggi kita dapat mengetahui segala hal yang kemudian kita hadapi untuk ke depannya. Setelah kita mengetahui sesuatu hal yang kita hadapi di kemudian hari, maka dalam tindakan kita tentu membuktikan secara kontekstual di mana mampu menyesuaikan apa-apa yang kita pikirkan bersama dengan tindakan. 

Kehidupan di tanah rantau dengan kehidupan di tanah asal misalnya kita akan menemukan suatu perbedaan baik dalam aspek budaya maupun interaksi sosialnya. Terkadang kita akan mengatakan dari segi interaksi sosialnya di mana terapan masyarakat manusia kota identic hanya memikirkan tentang bagaimana mensejahterakan dirinya sendiri atau biasa kita katakan dalam bahasa kaum intelek adalah “individualis”. Tetapi kita yang datang dari timur tetap yang namanya mempertahankan “kearifan local” dalam berinteraksi dilingkungan sosial. Maka dengan dinamika yang seperti ini membutuhkan pemikiran tingkat tinggi untuk kita atau dalam istilah baru saya katakan “Nakal Dalam Berfikir”.

Dengan dinamika kehidupan yang demikian tidak adakah bentuk kreatifitas kita dalam berfikir sebagai suatu konsep untuk mengolaborasikan yang namanya sikap “individualis” dengan hidup “Saling Bahu Membahu” atau menjalin dengan erat hubungan manusia dengan manusia (Hablumminannas) agar nilai kemanusiaan dan ketuhanan tetap akan terjaga. 

Hitungan hemat saya ini merupakan sebuah peluang bagi petualang sejati untuk bersahabat dan bahkan menjadi modal utama untuk hidup disetiap tempat yang dijelajahinya.

Menentukan jejak langkah untuk ke arah barat kita akan mengatakan sebuah tantangan baru, kenapa? Karena dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi semakin banyak sikap persaingan, pertikaian dan penyelewengan. Bahkan kita akan sulit menentukan mana manusia baik dan mana manusia buruk. Kita juga mengetahui melangkah ke arah barat khusunya “Daerah Santun” memiliki budaya kesantunan, baik dalam melangkah, bertutur kata dan lain sebagainya.

Dengan terapan demikian itulah maksud kita akan terasa sulit membedakan mana manusia baik dan mana manusia buruk. Budaya kesantunan seperti ini juga dapat membunuh serta merupakan senjata ampuh untuk mematikan lawan. Bukan mendeskripsikan hal ini melecehkan ataupun menyalahkan budaya kesantunan, atau terlalu berlebihan untuk mengkhawatirkan. Tetapi tujuan mendeskripsikan hal ini adalah untuk memberikan informasi atau perhatian upaya membangun generasi muda yang berfikir nakal yang tetap pada kebenaran. 

Menciptakan generasi yang memiliki pemikiran yang serba hati-hati oleh arus segala bentuk kehidupan yang mengglobal pada kondisi kekinian.

Warning Generasi……

“Sikap penjajahan modern era sekarang ini, bukan lagi menggunakan senjata tajam seperti pada pasca kemerdekaan Indonesia. Tetapi sikap penjajahan yang treen pada saat ini adalah di mana mereka memulainya melalui sikap yang bersifat otoritarianisme”.

Malang, 23 Desember 2017

Penulis : Muhammad Shafir, A.RD