Maulid Agung dan Reuni 212
Cari Berita

Advertisement

Maulid Agung dan Reuni 212

Sabtu, 02 Desember 2017

Foto bersama Anis-Sandi dan Prabowo (foto : Viva)
Setahun yang lalu tepatnya hari Jumat 2-12-2016 di halaman Monas itu saya datang dari kampung paling ujung, dibawah guyuran hujan melaksanakan shalat Jumat bersama jutaan yang lain. Mungkin dengan niat berbeda.

Aksi Bela Islam dengan tuntutan yang bagi saya sangat normatif dan absurd. Menegakkan keadilan. Kezaliman dan entah apalagi yang bagi saya belum atau gagal menemukan bentuknya yang realistis dirasakan umat. Sehingga tak nampu merawat ghirah seperti pada suksesi tahun 98 yang diakhiri dengan jatuhnya rezim Soeharto.

Reuni 212 adalah upaya merawat ghirah itu, agar potensi dukungan umat tidak patah di tengah jalan untuk menjemput tahun politik 2019. Bagaimanapun Ahok jatuh. Dan kalah dalam pilihan gubernur DKI dengan isu penistaan agama.

Kubu Ahok menyebutnya sebagai kecurangan politik sekaligus kemunduran demokrasi dengan mengusung isu agama dan SARA pada ranah politik praktis. Dan kita melihat aroma kampanye politik terus berlangsung meski proses pemilihan sudah selesai.

Beberapa penggagas reuni 212 telah bekerja keras berikhtiar membangun image agar suasana reuni tetap teduh dengan membungkus menjadi perayaan Maulid Agung, sebuah istilah yang saya kurang paham karena saya lama aktif di Persyarikatan. Itulah enaknya berpolitik karena kita bisa melakukan apapaun dengan agama ini sesuai kebutuhan yang kita kehendaki.

Tak ada yang salah tapi juga tidak terlalu istimewa dengan reuni 212 atau gerakan serupa lainnya di negara demokrasi. Dijamin boleh, berserikat dan berkumpul menyampaikan aspirasi baik lisan maupun tulisan. Disinilah sulitnya merumuskan, agar gerakan benar benar menjadi kebutuhan bersama umat Islam.

Ketika umat di akar rumput tak merasakan seperti yang dirasakan pemimpinnya maka gerakan menjadi kontra produktif dan bahan polemik internal umat Islam tanpa muara. Kami juga kebingungan dengan tuntutan menegakkan keadilan dan kezaliman terhadap umat Islam yang katanya semakin akut.

Sementara sebagai personal umat Islam tidak ada kesulitan dalam menjalankan agama. Pun sebagai aktifis di Persyarikatan juga tidak merasakan ada sesuatu yang mengharuskan untuk melawan. Realitas inilah yang kemudian menyulitkan gerakan aksi bela Islam dapat menemukan bentuknya.

Sebab isu yang dibangun sangat normatif. Maka tak salah pada 212 saya dan jutaan yang lain datang ke Monas mendengar pidato, shalat Jumat di guyur hujan lalu pulang tanpa kesan.

Reuni 212 hanyalah sekumpulan anak bangsa yang menggunakan hak demokratisnya untuk berserikat dan berkumpul, mendengar tausiyah agung pada perayaan Maulid Agung di silang Monas. Lalu apa urgensinya bagi umat dan anak bangsa, ketika dua kelompok masa saling berhadapan mengaku dengan semangat sama: Menjaga NKRI ... siapa percaya.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar