Malang Nasibmu Mone "Bupati, Kami (dulu) Torehkan Sejarah"
Cari Berita

Advertisement

Malang Nasibmu Mone "Bupati, Kami (dulu) Torehkan Sejarah"

Jumat, 29 Desember 2017

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Apa itu arti kata Mone? Pada kamus bahasa daerah Bima, mone dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah laki-laki. Mone disini dalam arti yang dalam tak hanya bermakna sebagai sebutan atau panggilan kepada anak laki-laki saja, tetapi mone memiliki frasa yang artikuliatif, kuat, pemberani, hebat dan seterusnya yang menunjukkan dia seorang manusia yang gagah. Mengurai hikayat ‘mona’ ini tentu saja dalam laboraturim kultur sejarah Mbojo Kuno paling fenomenal. Lalu apa hubungannya dengan para mone-mone kekinian Bima yang berhijrah ke Kota Malang? Mereka kawula muda tak lain adalah pelajar-palajar yang rupanya pergi ke tanah perantauan memang membawa misi besar.

Mone-mone Mbojo berdaulat yang keinginan merancang atau mewarisi harapan untuk menjadikan Bima sebagai sebuah Imperium kejayaan sebagaimana yang banyak diterapkan di tanah Jawa.


Pasalnya pelajar asal Bima Kabupaten-Kota pada umumnya selama ini seakan telah membudaya berperantauan di Kota Malang. Generasi ke generasi ikhtiar putra-putri Bima melanjutkan proses studi demi mencapai gelar kesarjanaannya di Kota Malang raya telah berpuluh-puluh tahun berlangsung. Disinilah kota Malang diakui memang menjadi primadona bagi pelajar-pelajar Bima. Secara berkesinambungan semacam telah menjadi tradisi tiap tahun ajaran baru selalu ada calon-calon mahasiswa baru asal Bima berekspansi menuju kota yang berjulukan “kota seribu bunga” malang.


Bupati, Kami, (dulu) Torehkan Sejarah 


Secara kekumunal malangan, warga Bima-Malang memang dulu punya rekam hubungan yang baik dengan Bupati alm. Ferry Zulkarnain. Sejarah itu tidak kebetulan lazim terbangun begitu saja, pemuda hingga sesepuh Bima di malang terjalin hubungan emosional yang erat. Dengan yang muda-muda, mendiang menyapa dengan bahasa anak muda, akrab laiaknya Bapak sama anak. Ditengah tugasnya yang berat sebagai kepala daerah, kendati dalam gelombang dinamika, hiruk pikuk sosial kemasyakatan yang dipimpinnya, figur alm. Ferry Zulkarnain tidak menutup diri seperti juga eksklusifitasnya penguasa-penguasa yang biasa. Begitulah cerita singkat yang kita dapatkan bila mengenang jaman-jaman itu. 


“Saya sering berdialog sama beliau, duduk dilantai yang hanya beralaskan tikar, kami berdiskusi, iramanya cerdas dan bernas. Terkadang kami saling “mpama”. Walau kita tinggal di luar daerah, beliau menyambut baik masukan-masukan kita. Itu hanya cerita kecil saja, tapi kenangan itu tetap menjadi spirit bagi kita. Semoga yang berkuasa sekarang mencerminkan sikap kepemimpinan yang sama seperti beliau, melanjutkan estafet prestasinya,” ungkap Fauzi Ahmad, salah satu sepuh malang yang mengaku punya banyak cerita yang melekat dengan mendiang Bupati alm. Ferry Zulkarnain.


Kembali kepada semangat para pelajar Bima yang selalu datang silih berganti kuliah di kota Malang. Hal ini melatarbelakangi pemerintah Daerah bersama warga dan mahasiwa Bima di Malang tahun 2008 silam lantas berkomitmen mengadakan asrama mahasiswa. Sinergisitas dan kerjasama yang baik antar pemerintah Kabubaten dengan warga Bima di Malang ini membuka kembali memori kita 10 tahun silam.


Warga dan mahasiswa Bima-Malang sangat apreasitif atas langkah bijaksana yang diambil oleh Bupati Bima alm. Ferry Zulkarnain saat itu dalam menindaklanjuti atau merespon kebutuhan pelajar-mahasiswa Bima di Malang. Patut di berikan apresiasi tinggi kepada Bupati alm. Ferry Zulkarnain, karena komitmenya untuk pembelian asrama dimana kendatipun sudah ada asrama Bima yang lama di Klojen, Bareng Kulon, tak lantas urungkan kebijakannya mengadakan asrama baru yang layak. Proses pengadaan asrama baru berjalan cukup cepat. Dan betapa habatnya lagi Bupati sendiri langsung ‘turun gunung’ lakukan tawar-menawar harga rumah yang berada tepat di jalan Topaz Nomor 3 Kel. Tlogomas Kec. Lowokwaru ini.


Rumah yang letaknya di tengah-tengah kota, tentu paling strategis dari akses kampus-kampus. (Silahkan dicek juga kondisi memperihatinkan asrama Mahasiswa Bima yang lama di Jl. Kawi Atas, Gg 6, No. 1002, Kel. Bareng Kulon, Kec. Klojen Kota Malang). “Beliau (Bupati alm. Ferry Zulkarnain-red) sangat welcome dengan kita-kita di malang, saya bisa hitung selama beliau menjabat bupati hampir 7-8 kali berkunjung ke Malang, karena beliau sangat nyaman berada di tengah-tengah mahasiswa dan masyarakat Bima di Malang. Itulah keunikan tersendiri beliau, kita merindu pemimpin seperti itu. Mengapa perbedaan jauh sekali kelas kepemimpinannya dengan pemimpin baru sekarang, walaupun istrinya,” cetusnya. 


Lanjut Baca : Pemkab Sekarang Jangan Ahistoris, Pemkab Sekarang Jangan Apatis



Penulis : Mujamien Jassin (penulis adalah pemuda Bima, mantan pengurus asrama mahasiswa Bima-Malang 2009-2012).