Peran Pemuda Hilang, Kebudayaan Masyarakat Lambitu Luntur
Cari Berita

Advertisement

Peran Pemuda Hilang, Kebudayaan Masyarakat Lambitu Luntur

Rabu, 27 Desember 2017

Camat Lambitu M. Amin, S.Sos (memakai peci hitam batik orange)
Indikatorbima.com - Lambitu merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki budaya, kearifan dan kesenian Lokal yang sangat beragam. Kecamatan Lambitu yang berada di lereng  pegunungan yang di kenal dengan sebutan dou Donggo ele ini memiliki keunikan tersendiri.

Salah satu keunikannya adalah bahasa yang di gunakan berbeda dengan Suku Bima pada umumnya (dou mbojo). Yaitu, bahasa Inge Ndai. Berbicara tentang Lambitu tentu tidak ada habisnya, selain kesenian lokal yang beragam, Lambitu juga dikenal dengan sumber daya alam dan destinasi wisata alam Yang sangat luar biasa. Misalnya, tambang emas, air terjun Kanduru, dan Uma Lengge Sambori.

Kecamatan Lambitu terdiri dari enam Desa Yakni, Desa Kaboro, Desa Kuta, Desa Sambori, Desa Teta, Desa Londu, Dan Desa Kaowa. Masing-masing Desa memiliki Keanekaragaman yang berbeda-beda baik dari budaya, adat dan istiadat, maupun logat bahasa. Misalnya, Rumah Lengge merupakan salah satu aset bersejarah bagi masyarakat Lambitu yang terletak di Dusun Lengge, Desa Sambori. Pakaian adat Rimpu juga menjadi ciri khas Dou donggo ele (Pegunungan Timur) yang bermukim di lereng Gunung Lambitu.

Dan siapa yang tidak mengenal Mpa'a Lanca . Mpa' lanca (Adu Betis) merupakan salah satu kesenian tradisional yang heroik yang di mainkan oleh pemeran laki-laki pada saat menerima tamu. Selain itu ada Bela Leha, Kalero, Mpa'a Manca, Mpa'a gantao,  Mpa, a Buja Kadanda, dan Mpa'a Sila.

Namun seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan arus globalisasi membuat budaya, adat istiadat, dan kesenian lokal masyarakat Lambitu secara perlahan luntur dan hanpir tak bisa terlestarikan lagi.

Menurut camat Lambitu M.Amin.S.Sos mengatakan, bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab lunturnya kebudayaan lokal masyarakat Kecamatan Lambitu, yaitu hilangnya peran pemuda, masyarakat, dan minimnya anggaran untuk pemerintah untuk mendukung upaya pelestarian kebudayaan yang dimaksud. 

"Masyarakat ketika ada hajatan, sunatan, pernikahan, atau hajatan lain sudah tidak lagi menggunakan kesenian budaya yang ada, dari  segi pemerintah kurangnya dukungan dana untuk perbaikan dan perawatan alat alatnyanya. Dari segi pemudanya kebanyakan pemuda agak sedikit malu menjadi pemain dalam setiap penampilan kesenian di setiap acara," terangnya kepada Indikator Bima 

"Jangan sampai kurangnya kepercayaan diri pemuda dalam melestarikan budaya lokal kita ini hilang," lanjutnya.

Lebih lanjut M. Amin, S.Sos menyampaikan harapannya kepada pemuda agar segera melakukan gerakan perubahan dengan melakukan inovasi yang kreatif dari ide dan gagasan baru untuk mewujudkan Lambitu yang berkemajuan.

"Semoga ke depan Generasi Pemuda lambitu  dapat lebih kreatif lagi dan munculnya inovasi, kreatifitas dan ide baru demi terwujudnya lambitu yang berkemajuan," harapnya.

"Jangan sampai menjadi generasi Kids Zaman Now yang tidak bisa memberikan gerakan perubahan bagi daerahnya dan jangan  mengikuti perkembangan arus Globalisasi di era zaman mileneal ini," tutupnya tegas.

Pemerintah Kecamatan sangat berharap generasi muda lambitu dapat terketuk hatinya untuk sama - sama mempertahankan Budaya lokal dan pemerintah Kecamatan akan mendukung sepenuhnya kegiatan - kegiatan yang bersifat membangun untuk kecamatan lambitu.


Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Siti Hajar