Ketika Peringatan Maulid Nabi Menjadi Wajib
Cari Berita

Advertisement

Ketika Peringatan Maulid Nabi Menjadi Wajib

Jumat, 01 Desember 2017

Presiden Joko Widodo memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1429 Hijriah di Istana Bogor, Kamis (30/11/2017) malam. (Foto Tribunjatim).
Apa ada korelasi lomba makan kerupuk, balapan karung dengan Maulid Nabi. Sebagaimana bingungnya saya memahami bumbu rawon yang terdiri dari kumpulan rempah yang tidak enak bila dimakan sendiri-sendiri atau terpisah. Siapa sangka jika 'keluwek' yang super 'sepppett' itu menjadi unsur terpenting dalam bumbu rawon.

Yang saya pahami dari orang Indoenesia adalah kesukaannya pada simbol-simbol. Dan itu terbawa saat mereka memahami dan mengamalkan Islam. Lihat saja bagaimana orang Indoenesia memahami konsep tasyakuran.

Beragam cara bisa dilakukan: bisa kendhuri, tumpengan, sepasaran, selapanan atau pendhak. Ini bukan soal teologis tapi tak lebih hanya sekedar kreatifitas dan seni memahami rasa syukur kepada Allah tabaraka wataala. Dan tak perlu dalil karena masuk pada wilayah ghairu mahdhah, dan orang Indonesia punya cita rasa tinggi untuk mencintai nabi Muhammad saw.

Akan halnya Maulid Nabi saw menjadi urgen ketika Islam mulai tenggelam oleh manhaj dan pandangan lain. Islam mulai tertutupi, nabi Muhammad juga mulai tertandingi. Al Quran sebagai bacaan kalah bersaing dengan status dan meme. Artinya orang lebih suka baca status dan meme ketimbang Al Quran. Boro-boro dijadikan tuntunan apalagi pedoman hidup. Al Quran hanya dijadikan pajangan di rak-rak sempit.

Realitas umat Islam memprihatinkan, banyak masjid mewah tapi sepi pengunjung. Beberapa sudah shalat tapi jauh dari perilaku agung Kanjeng Nabi saw bahkan malah berlawanan. Banyak paradoks antara pengakuan Islam dengan realitas umat Islam. Antara ajaran dan realitas kehidupan. Al Islam mah-jubun 'alal muslim demikian Syaikh Muhammad Abduh berujar.

Islam hanya tinggal nama, Al Quran hanya tinggal suhuf, Muhammad saw hanya tinggal pembawa risalah. Bahkan anak-anak kecil lebih mencintai gadget-nya ketimbang Muhammad saw, hari lahirnya pun mereka tak tahu.

Melihat realitas umat Islam demikian saya malah berpandangan peringatan Maulid Nabi saw menjadi wajib atau urgen. Untuk kembali mengenalkan Muhammad saw sebagai uswah atau teladan. Kita bergerak bersama mengkampanyekan keteladanan Nabi saw agar tak kalah populair dengan politisi, artis, pengacara atau lainnya. 

Lewat pengajian, halaqah, majelis atau media lainnya. Kita hidupkan kembali sunah-sunahnya yang tertutup oleh takhayul, bid'ah dan khurafat. Kita berpandang bahwa Nabi saw adalah satu-satunya. Kita gelora kan semangat cinta terhadap Nabi kepada semua umat dari anak-anak hingga orang tua.

Kita berkumpul bersama mendengar Sirah Nabi untuk kita teladani sunah -sunahnya. Kemudian kenduri makan bareng. Kita ramaikan surau dan masjid kita. Agar musuh Islam bergetar.

Maulid adalah salah satu upaya ijtihadiyah untuk mengenalkan Nabi saw pada khalayak umum, Kita bacakan sirah Nabi di surau, di masjid, di sekolah, dan di manapun berada. Semoga dengan peringatan Maulid ini ghirah umat Islam untuk meneladani Nabi saw kembali bangkit bergelora.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar