Kesuksesan Itu Ada di Tanah Rantau
Cari Berita

Advertisement

Kesuksesan Itu Ada di Tanah Rantau

Kamis, 28 Desember 2017

Foto : Penulis (memakai peci hitam tinggi)
“Uang bisa kita jadikan sebagai hamba yang baik, tapi tidak untuk kita jadikan sebagai tuan (Motivasi Berbudi Luhur)," Dari dia yang dilahirkan oleh rahim jelata.

Merujuk pada rangkaian kata-kata di atas memiliki arti bahwa uang bukanlah segalanya untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayang. Seperti; kedua orang tua, keluarga, sahabat, dan sang pacar serta generasi dari rahim rakyat jelata. Artinya mereka terkadang tidak membutuhkan semua itu dalam kehidupannya, karena mereka mengetahui bahwa uang itu sebagai pelengkap hidup yang tentu akan dapat habis pada waktunya.

Generasi rakyat jelata yang sesungguhnya membutuhkan nilai budi luhur dari sang penguasa melalui niat yang benar-benar datang dari fietrahnya. Berbicara fietrah tentu kita berbicara tentang kebaikan yang terkandung dalam diri manusia, artinya dari dalam kita bawa keluar demi kebaikan bersama juga demi kebahagiaan bersama. Namun ini semua jauh dari pulau harapan, pulau harapan entah kemana.

Pendidikan yang sebenarnya hanya membicarakan seputar didikan yaitu memanusiakan manusia dalam tujuannya secara umum, kini animo dalam dunia pendidikan semakin menjadi-jadi karena dicampur adukan dengan politik. Lihat bagaimana prosesi Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau yang disingkat dengan (Pilkada) di Daerah Timur pada momentum ini penguasa daerah diakhir masa jabatannya memberikan pernyataan sikap memaksa kepada bawahannya yang menjabat sebagai kepala instansi ditiap daerah termasuk instansi pendidikan, di sinilah letak kekuatan dasar mereka. Yaaa bagi mereka yang salah mendukung siap-siap untuk dimutasikan di daerah-daerah terpencil bahkan ada yang diturunkan dari jabatannya sebagai kepala.

Masyarakat awam mengetahui dan melihat terhadap venomena politik yang demikian namun mereka telah diikat dengan kuat oleh system kekeluargaan dan system kepentingan. Misalnya orang tua yang menginginkan anaknya untuk selalu menjadi seorang kepala, mereka siap untuk membantu bahkan mendonorkan anggaran mereka sendiri demi mencapai kemenangan, orang tua yang berharap besar supaya anaknya bisa memakai baju “KEKI” entahkah itu jadi honorer atau suka rela mereka juga ikut andil untuk kemenangan akibat rasa kecemburuan social terlalu besar serta hanya focus untuk kemegahan dunia semata.

Ketika kebiasaan ini selalu dirawat dengan baik maka mereka yang terbiasa memakai topeng dan putus urat malu_lah yang pantas meraih sebuah kesuksesan. Mereka juga pantas dikatakan sebagai prajurit barisan depan di mana menjadi seorang prajurit barisan depan harus siap antara hidup ataukah mati, mereka hidup untuk orang tua, istri dan anaknya sementara mereka mati untuk raja dan ratunya. 

Generasi dari rahim rakyat jelata menghindari venomena kesuksesan politik kasar yang demikian, karena itu bukan lagi berbicara tentang kualitas tetapi yang dibicarakan adalah tentang kuantitas. Kemampuan serta kecakapan generasi rakyat jelata dalam memberikan sebuah konsep untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dan kebahagiaan besama, itu dipandang sebelah mata. Lalu terbukanya dua mata kami temukan di tanah rantau dan sesuatu yang tidak kami dapatkan di tanah lahir juga kami temukan di tanah rantau (Kesuksesan Itu Ada Di Tanah Rantau). 

“Jangan biasakan diri untuk mengekor, karena ekor biasanya tempat untuk membuang kotoran.”


Malang, 27 Desember 2017

Penulis : Muhammad Shafir A.RD