Karma Dalam Kisah Asmara Bento, Sakit dan Menyakitkan, Kasihan!
Cari Berita

Advertisement

Karma Dalam Kisah Asmara Bento, Sakit dan Menyakitkan, Kasihan!

Minggu, 24 Desember 2017

Foto : Ilustrasi

Nama saya Bento (Samaran). Kali ini saya akan Menceritakan Kisah nyata saya tentang karma yang menimpa diri saya dalam kisah asmara saya. Saya mencintai dua perempuan sekaligus, sebut saja namanya Mina mahasiswi (20) tahun dan yang satunya lagi sebut saja namanya Siti dia juga mahasiswi (20) tahun. Mina pergi karna Siti, kemudian Siti pergi karna Mina. Keduanya pergi karena ulahku sendiri (Karma).

Langsung saja ke cerita yang saya buat singkat ini. Sebut saja nama saya Bento, umur saya 20 tahun. Pekerjaan sehari-hari saya adalah mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta di Bima.

Awalnya saya mengenal Mina melalui telpon dengan nomor telpon yang diberikan oleh teman saya. Saya berkenalan dengan Mina melalui telpon. Lambat laun kami melanjutkan perkenalan itu melalui media sosial, salah satunya media Facebook. Karna kami merasa sudah saling percaya dan mulai nyambung dalam berkomunikasi, akhirnya kami pun janjian untuk bertemu di suatu tempat, tepatnya di sebuah taman di Kota Bima. Kami pun bertemu dan berbincang, bercanda, tertawa bersama dan berusaha untuk saling mengenal antara satu sama lain lebih dalam. Pada pertemuan ini saya belum memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati saya kepada Mina.

Beberapa jam kemudian, Mina ijin untuk pulang karna masih ada jam kuliah yang harus dia ikuti. Namun sebelum pulang saya dan Mina membuat janji untuk bertemu lagi di lain waktu (pertemuan kedua).

Pertemuan kedua pun berlangsung, kali ini saya memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati saya, bahwa saya mencintai Mina.

"Hey Mina, jujur akhir-akhir in saya merasa nyaman sama kamu, sepertinya butiran cinta dan kasih sayang Ini mulai tumbuh untukmu. Maukah kamu menerima cinta ini?" ucapku terang menyatakan isi hatiku pada Mina. Setelah menyatakan perasaan itu, aku pun menyiapkan diri untuk mendengar serta berusaha untuk menerima apapun yang akan dia katakan. 

"Iya saya juga merasakan itu, saya mau kok jadi pacar kamu," tutur Mina dengan lembut, yang membuat hati saya berbunga-bunga dan merasakan kebahagiaan yang tak tertandingi saat itu.

Akhirnya ruang dan waktu saat itu mampu menyatukan kami dengan perasaan yang sama. Kami pun resmi menjalin hubungan atas nama perasaan cinta.

Awalnya hubungan kami baik-baik saja, walaupun kami hanya bisa bertemu satu kali dalam seminggu. Namun lambat laun, setelah sebulan kami menjalin hubungan, perasaan saya berubah. Saya menjadi bosan dan nggak nyaman lagi sama dia, mungkin karna saya melihat yang baru (Siti). Akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri hubungan kami dengan alasan mantan. Melalui telpon saya sampaikan keinginan saya itu. Dan dia pun menerima keputusan saya dengan lapang dada seraya mendoakan yang terbaik untuk saya. 

"Hallo," sapa saya setelah dia mengangkat telpon.

"Iya sayang," jawabnya dengan nada lembut.

"Sayang lagi apa," lanjutku dengan perasaan yang tidak enak.

"Lagi duduk saja, kenapa akhir-ahir ini kamu berubah. Sudah jarang ngasih kabar, jujur saja kenapa?" jawabnya sembari kembali bertanya. 

Rupanya dia sudah merasakan perbedaan yang terjadi akhir-akhir ini, yaitu saya yang telah berubah. Saya pun mengatakan yang sejujurnya dengan perasaan benar-benar takut menyakiti hatinya.

"Saya akan jujur, sejujurnya saya masih sayang sama mantan saya. Maafkan saya. Saya tidak bisa meneruskan kisah ini," kata saya berterus terang pada Mina. 

"Terimaksih sudah mau jujur sama saya, saya suka kamu mau jujur sebelum saya semakin dalam mencintai kamu. Terimaksih sudah pernah memberikan rasa itu meskipun hanya sebentar. Akan sulit melupakanmu, tapi akan aku usahakan. Cukup saya yang kamu sakiti, jangan lagi yang lain," jawabnya sambil menangis, dan tanpa berkata lagi dia pun menutup telponnya. Setelah itu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi, sampai dengan hari ini.

Selang beberapa hari pasca kejadian itu, saya pun mendekati Siti melalui media sosial Facebook. Pendekatan yang saya lakukan berjalan sesuai dengan rencana. Saya mengirim pesan melalui Massanger dia pun membalasnya, lama-kelamaan kami nyambung dan akhirnya kami membuat janji untuk bertemu langsung di sebuah taman sekitar pukul 19.00 WITA. Kami pun sering bertemu, jalan bareng, makan bareng, kami merasakan adanya kecocokan. Dan pada saat itu, di sebuah taman, saya pun memberanikan diri untuk menyatakan perasaan saya pada Siti menggunakan sebatang coklat, sebut saja coklat Silverqueen. 

"Siti, maukah kamu menjadi pasangan hidup saya, jika kamu mau ambillah coklat ini dan makanlah. Jika menolak, ambil juga coklat ini lalu buang," kataku sembari menyodorkan coklat itu.

Tanpa sepatah kata pun, Siti mengambil coklat itu kemudiam membukanya dan memakannya. Persis seperti yang saya inginkan. Kami pun resmi menjalin hubungan cinta, sebut saja cinta satu malam.

Singkat cerita, angka jam tangan saya sudah menunjukan pukul 22.00 WITA. Melihat angka jam itu, kami pun bergegas pulang menuju motor masing-masing. Sebelum menyakan mesin motornya. Sebuah senyuman terakhir ia berikan kepada saya. Senyuman yang membuat saya tidak bisa berhenti senyum saat berkendara, selalu terbayang dalam benak saya senyuman manis itu. Tak lama kemudian saya sampai di rumah kost dan langsung masuk ke dalam kamar denga perasaan kasmaran yang tiada berhenti membuat hati senang. Tak lama kemudian, hanphone saya berdering dan ternyata Siti lah yang menelpon.

Hati saya sangat gembira, mengira bahwa telpon itu akan lama dan berakhrir dengan semakin tumbuhnya rasa rindu pengantar tidur malam itu. Nyatanya tidak, sebuah itu merupakan sebuah akhir yang menyakitkan (Karma).

"Hallo," sapaku dengan perasaan bahagia. 

"Iya hallo Ben, saya sebelumnya minta maaf," jawabnya sambil menangis.

"Kenapa minta maaf Siti," jawabku dengan keadaan bingung.

"Iya sebelumnya saya minta maaf, jujur Ben. Sebenarnya saya masih sayang dan cinta sama mantan saya. Saya minta maaf karena tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Saya berfikir lebih baik jujur sebelumnya kamu semakin sayang sama saya. Dan kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari saya," lanjutnya menjawab dan sontak membuat hati saya luluh lantah nggak karuan. Sebuah jawaban yang pernah saya ungkapkan ke Mina saat itu. Tanpa berkata-kata lagi, Siti menutup telponnya dan pergi sampai dengan hari ini.

Semenjak kejadian itu saya menjadi sadar, bahwa KARMA itu ada dan berlaku kepada semua orang, termasuk saya. Apa yang kita lakukan akan tetap kembali kepada diri kita sendiri. Dan saya sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan Mina yang benar-benar sayang dan cinta sama saya.

Tamat!

Penulis : MFR