Jalinan "Perselingkuhan" Asmara Antara Pembisnis dan Pemerintah Bima
Cari Berita

Advertisement

Jalinan "Perselingkuhan" Asmara Antara Pembisnis dan Pemerintah Bima

Sabtu, 02 Desember 2017

Foto : Penulis
Dalam realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita seringkali melihat dalam kekuasaan Bisnis ternyata memang jauh lebih dominal, ia bahkan bisa ''Merampas'' habis negara, dan bisnis jauh lebih berkuasa ketimbang politisi. Kekuasaan perusahaan dalam mengeksekusi kebijakan publik pun jauh melampui kekuasaan politik dan negara.

Noreena Herzt dalam bukunya ''Perampok Negara'' bercerita panjang lebar bagaimana saat ini telah terjadi perselingkuhan antara pembisnis dan politisi.

Perselingkuhan itu terjadi dilevel tingkat tinggi, yang menghasilkan konspirasi bisnis-pilitik tingkat global. Semua sektor telah di ''Setubuhi'' dengan romantis oleh pembisnis.

Kekuatan bisnis yang terjadi saat ini dan nyaris tanpa kontrol, akan secara perlahan membunuh demokrasi. Konsentrasi modal yang hanya berada pada segelintir orang, perusahaan, atau negara, bukan saja buruk bagi kaum miskin, namun juga bagi kaum kaya.

Saat ini, seiring dengan menguatnya kapitalisme global telah terjadi pergeseran formasi sosial. Kalau pada awalnya para wakil rakyatlah yang melakukan berbagai eksekusi kebijakan publik, saat ini peran itu telah digantikan oleh kekuatan ekonomi. Pergerseran itu dimulai dengan dioperasikanya dan begitu besarnya peran-peran lembaga-lembaga ekonomi.

Dengan semakin kuatnya cengkeraman lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan pembisnis tersebut, peran negara semakin dipinggirkan, bahkan sampai tanggungjawab sosialnya. Hasilnya negara menjadi lunglai dan tak mampu lagi memenuhi tugas yang menjadi basis filsafat keberadaanya : mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakat. Maka disinilah kematian demokrasi terjadi, yakni ketika berbagai eksekutor berbagai kebijakan publik tak lagi diperankan negara, melaikan kekuatan pasar.

Negara semata-mata hanya sebagai pelaksana kebijakan yang sudah dirancang pasar. Formasi inilah yang kemudian disebut dengan Neoliberalisme. Dan disinalah kemudian perselingkuhan bisnis dan kekusaan itu terjadi. Dalam konteks indonesia, apa yang nampak menyadarkan kita semua terlalu mahal dan banyak harga yang harus dibayar dari proses liberalisasi dan perselingkuhan bisnis dan kekusaan yang semakin menggurita ini.

Lihat saja fenomena politik yang terjadi sekarang, reklamasi telah diusulkan oleh berbagai perusahaan sementara di pihak pemerintah sibuk menggulingkan rival-rival politiknya dalam upaya mengambil keuntungan pribadi dari hasil kesepakatan dengan para pengusaha.

Jika kita mengkaji permasalahan di Bima yang kaitanya dengan kemesraan para politikus dan pembisnis itu sangat terlihat sekali. Lihat saja dengan harga bawang merah produk unggulan petani di Bima, harganya tak kunjung naik sementara obat-obatan dalam membudidayakan bawang ini kian naik dan tak terkontrol. Dari sini kita dapat lihat konspirasi antara pemerintah dan pengusaha.

Pemerintah sengaja memberikan keleluasaan terhadap pembisnis untuk menggarap hasil tani masyarakat Bima dengan melakukan pembiaran dan tak mau mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pematokan harga barang.

Inilah yang disebut kuasa kapitalis pemerintah disetubui dengan sangat romantis oleh para pengusaha. Sementara petani, buruh dan guru dirampas dan diperkosa olehnya. Jika begini jadinya demokrasi akan dibunuh oleh kapitalis. 

Penulis : Lekhas Bangkit