Inilah Faktor dan Cara Mengatasi Gelaja Nomophobia
Cari Berita

Advertisement

Inilah Faktor dan Cara Mengatasi Gelaja Nomophobia

Rabu, 06 Desember 2017

Foto : Ilustrasi Gejala Nomophibia 
Indikatorbima.com - Smartphone atau ponsel memang menberikan banyak kemudahan bagi para pemiliknya, dengan adanya ponsel pengguna dapat mengakses informasi serta menyimpan data secara praktis. Didukung dengan berbagai aplikasi semakin banyak bermunculan baik itu games, kamus, buku panduan, Al-Qur’an, aplikasi editan serta banyak lainnya. Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan kepada pengguna, jelas dorongan untuk memilikinya sangat tinggi serta ketergantungan dengan keberadaannya. Orang yang tidak bisa jauh dari ponsel ini dalam psikologi dinamakan nomophobia.

Nomophobia merupakan singkatan dari no mobile phone phobia, ditujukan kepada mereka yang yang merasa tidak bisa jauh dari ponselnya. Berdasarkan kamus psikologi nomophobia memiliki arti takut atau risau tiada telefon atau kehilangannya. Perasaan ini merupakan sindrom ketakutan berlebihan pada perasaan cemas yang timbul bila tidak ada ponsel didekatnya. Menurut psikologi Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Stres dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi ancaman terhadap suatu harapan yang mencetuskan cemas. Hasilnya adalah bekerja untuk melegakan tingkah laku (Rawlins, at al, 1993).

Ketergantungan dengan handphone merupakan masalah yang sering ditemukan di kehidupan, ini terjadi karna adanya rasa trauma yang terjadi di waktu dulu sehingga membekas dalam kesadaran untuk menjaga handphone nya tetap dalam jangkauan. Ketakutan ini bukan tanpa alasan, karena cemas akan kehilangan data-data penting yang ada dalam ponsel, tetapi lebih ketergantungan yang mampu menimbulkan rasa takut, cemas, khawatir, dan tidak nyaman bila jauh dari ponselnya. Beberapa cirinya adalah pengguna yang berlebihan, kegelisahan ketika tidak mengakses internet atau ponselnya dalam intervial waktu tertentu, dan dampak negatif interaksi sosial ( Judhita, 2011 ).

Salah satu contoh game yang sempat heboh di Indonesia adalah pokemon go, game ini mengharuskan pemain selalu fokus pada handphone dan berjalan untuk menemukan pokemon-pokemon yang bervariasi yang tersebar di sekitarnya. Dengan adanya game ini, banyak pemain yang mengalami kecelakaan salah satunya, Hampir sepekan setelah penemuan mayat, peristiwa lain dialami dua trainer yang harus terjatuh ke jurang. Insiden ini pun disebabkan keduanya asyik bermain Pokemon Go. Peristiwa ini terjadi pada 14 Juli 2016, atau kurang dua pekan setelah Pokemon Go dirilis. Beruntung, dua trainer itu tak mengalami cedera serius. ( liputan 6. com)

Faktor Yang Menyebabkan

Kecendrungan dengan fokus terhadap handphone ini membuat orang lain yang mengajak untuk berbicara jadi terhiraukan, dalam psikologi tidak dihiraukan itu memicu reaksi di otak sama dengan cedara fisik ( psikologi.id ). Kegiatan saling bertatap muka sudah mulai jarang dilakukan oleh para pecandu handphone, media social menjadi tempat untuk berkomunikasi dalam realitas baru ini. Perilaku ini seakan membuat mereka tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Menurut ( Agusta, 2016 ) tingkat kecanduan ini disebabkan beberapa factor antara lain, pertama factor internal; yaitu faktor yang menyangkut karakteristik individu, bisa disebabkan control diri yang rendah, sensation seeking yang tinggi, dan self esteem yang rendah. Kedua faktor sirusional; menyangkut situasi psikologi individu, rasa nyaman terhadap pemakaian ponsel dan alasan pelarian gangguan lain seperti stress dan rasa bosan. Ketiga faktor eksternal; besarnya pengaruh media dalam memasarkan ponselnya, pemaparan tentang fasilitas yang disediakan ponsel tersebut, daya Tarik yang dipromosikan dan kondisi lingkungan sehingga menimbulkan rasa ingin. Keempat factor social; berkenaan dengan interaksi saosial dan menjebol batas waktu untuk berkomunikasi.

Nomophobia adalah sebagian kecil dari nekrofolia dan adiksi karena ketergantungan dan kecanduan manusia terhadap ponsel. Teori psikoanalisis lain yang disampaikan Sigmund Freud, tiga struktur kepribadian yang ada pada manusia adalah id, ego, dan superego. Tiga komponen yang tak terpisahkan ini memiliki penjelasan masing-masing; id ialah aspek yang paling mendasar, kurang terorganisir, buta, menuntut, berusaha meepaskan diri. Ego ialah eksekutif kepribadian yang memerintah, mengatur, mengendalikan kesadaran. Superego ialah kode moral untuk menilai apakah tindakan baik/buruk, benar/salah, mendorong pada kesempurnaan, menghambat impuls id, berhubungan dengan imbalan dan hukuman. Ketika id mendominasi ego yang lemah dan superego yang plin-plan dan keduanya tak dapat membendung kegigihan id, akibatnya individu dengan id tinggi selalu berusaha memuaskan keinginan yang tak terkendali.

Mengatasi Nomophobia

Individu adalah mahluk yang unik dan dinamik, tumbuh dan berkembang, serta memiliki keragaman kebutuhan, baik dalam jenis, tataran ( level ), maupun intesitasnya. Penyesuaian diri terhadap penggunaan handphone merupakan solusi yang bisa digunakan karena tidak mungkin seseorang mampu untuk meninggalkan handphone secara seutuhnya. Individu harus dapat menggunakan handphone hanya untuk sesuatu yang bermanfaat agar tidak terjadi ketimpangan dalam pemakaian handphone. penyesuaian diri adalah Sebuah proses yang melibatkan respons mental dan perilaku, yang oleh seorang individu berusaha untuk mengatasi kesuksesan, kebutuhan, ketegangan, frustasi dan konflik batin, dan untuk menghasilkan tingkat harmoni antara tuntutan batin dan yang dipaksakan kepadanya oleh dunia objektif dimana dia hidup ( Schneiders, 1964 ).

Mengatasi ketergantungan dengan handphone dapat dilakukan dengan penetralan dalam persepsi tentang kebutuhan handphone sebagai sesuatu yang utama dalam hidup. Nomophobhia menjadi salah satu kebiasaan yang harus dinetralkan agar tidak selamanya penderita terjebak dengan interaksi dunia maya. Interaksi di dunia nyata lebih menarik dan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan interaksi di dunia maya, interaksi di dunia nyata juga dapat mengembalikan kodrat manusia sebagai mahluk sosial tanpa batasan-batasan tertentu. Pada saat manusia berinteraksi melalui dunia maya, kodratnya sebagai mahluk sosial mulai tergeser dan terbatas pada ada dan tiadanya kuota internet.

Gejala nomophobia memang menjadi gejala yang banyak dialami oleh orang yang mempunyai smartphone, hal ini karena kemudahan yang ditawarkan kepada pengguna. kesadaran pada diri setiap individu sebagai kunci utama untuk meminimalisirkan adanya rasa ketergantungan pada handphone, agar ada keseimbangan antara interaksi di dunia nyata dan di dunia maya sebagai media penyambung dan penghubung silaturahmi keluarga yang terhalang oleh jarak. 


Penulis : Risky Mulyadin