Indonesia Bersama Palestina
Cari Berita

Advertisement

Indonesia Bersama Palestina

Minggu, 10 Desember 2017

Presiden Jokowi ketika bersama Donal Trump (foto : liputan6.com)
Indikatorbima.com - Tak urung Yang Mulia Presiden Jokowi mengungkap kejengkelan dan kedongkolannya terhadap pengakuan Trump Presiden Amerika Serikat yang menyebut Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebuah pengakuan mengagetkan banyak negara. Meski beberapa pengamat politik luar negeri menyebut sebagai langkah terobosan memecah kebuntuan setelah sekian puluh tahun gagal.

Bagaimanapun keputusan kontroversi Presiden Trump menarik disimak. Eskalasi gerakan sentimen Amerika bakal semakin menguat. Artinya Radikalisasi dan Terorisme bakal tumbuh semakin subur. Kebencian terhadap Amerika dan sekutunya akan menjadi sasaran amuk kelompok radikal ekstrim dan saya kawatir kemudian ada banyak penumpang gelap yang membuat situasi memanas. 

Keputusan cepat dan tegas Yang Mulia Presiden patut diapresiasi, bahwa negara Indoenesia mengutuk dan menolak pengakuan Amerika, Jokowi juga berkeras agar tetap menggelorakan semangat negara-negara Asia dan Afrika, tetap bersatu menolak negara Israel telah menutup celah kelompok yang selama ini bersikap oposan terhadap kebijakan Presiden tak banyak berucap kata apalagi bertindak anarkis atau memainkan isu Palestina sebagai isu Pilpres 2019.

Eskalasi kebencian terhadap Amerika akan menguat dan itu membahayakan jika kemudian Amerika di identikan dengan agama Katholik atau Kresten. Bisa dibayangkan jika gereja menjadi sasaran para teroris dan kelompok radikal lainnya. 

Bagaimanapun isu agama jauh lebih bisa menggerakkan ketimbang alasan humanitas dan pertimbangan politik lainnya. Dan Trump telah dengan tegas menyebut dalam pidatonya bahwa Yerusalem adalah benar benar secara faktual sebagai ibukota Israel. Dan itu memancing sentimen Amerika akan mengeras.

Kelompok radikal dan teroris akan berbenah dan siapapun yang dianggap sekutu Amerika harus bersiap diri. Isu akan dibangun sesuai kebutuhan politik mereka masing-masing. Dan seperti biasa rakyat Palestina akan tetap sendirian. Karena kita umat Islam hanya bisa gaduh diluaran tanpa gerakan efektif yang menyelesaikan.

Pada situasi seperti ini saya hanya bisa berdoa dan itu selemah-lemah iman. Paling tidak kita tunjukkan bahwa kita bersatu, tidak saling mencela dan merendahkan. Tidak merasa paling depan dalam perjuangan membela Palestina. Merasa paling NKRI atau merasa paling membela umat Islam. Kemudian mencela lainnya sebagaimana kebiasaan kita selama ini. 

Bukankah hari ini berdoa tulus saja juga sudah langka karena banyak yang sibuk berdebat dan diskusi tanpa muara. Bersatu dalam doa agar hati dan jiwa kita saling bertaut dan saling menggenapi. Apapun ujian yang menimpa umat Islam bisa menjadi media agar kita bisa kembali rekat bersatu.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar