Globalisasi Budaya dan Pencarian Indentitas Kaum Muda
Cari Berita

Advertisement

Globalisasi Budaya dan Pencarian Indentitas Kaum Muda

Selasa, 12 Desember 2017

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Globalisasi berasal dari bahasa Inggris yakni Globalization. Global memiliki arti universal dan “ilzation” adalah proses. Menurut M. Waters(1883-1979). Globalisasi adalah sebuah proses sosial di mana halangan-halangan bersifat giografis pada tatanan sosial dan budaya semakin menyusut dan setiap orang kian sadar bahwa mereka semakin dekat satu sama lain.

Pada era milenial seperti saat ini di mana ekspansi globalisasi yang menembus batas-batas ruang dan waktu, memberikan dampak positif- negatif bagi kaum muda Indonesia. Menurut penulis setidaknya ada dua poros arus globalisasi budaya yang sangat mempengaruhi kaum muda Indonesia. Pertama globalisasi budaya barat dengan gaya hidup bebasnya. Kedua globalisasi budaya timur tengah (arab) dengan budaya religiusnya.

Dalam merespon globalisasi kedua kebudayaan besar di atas, kaum muda dalam pencarian indentitasnya seringkali kehilangan jati diri sebagai anak muda bangsa Indonesia. Mereka cenderung ekstrim “kebarat-baratan” dan ekstrim “kearab-araban”. Hal ini dapat dilihat dari kaum muda yang banyak menggemari budaya barat. Serperti gaya hidup bebas, free sex, narkoba dan lain sebagainya. Selain itu, pemikiran-pemiran radikal yang di impor dari timur tengah hasil dari perang dingin pasca Arab spring (revolusi arab) telah merasuki pikiran segelintir anak muda Indonesia. Bahkan yang paling ekstrim banyak kaum muda Indonesia berangkat ke timur tengah menjadi simpatisan ISIS (Islamic Steate in Irak and Surya). Ditulisan ini penulis ingin ingatkan bahwa kita bukan pemuda “Barat” atau pemuda “Arab” tapi kita adalah pemuda dan pemudi Indonesia putra dan purti Ibu Pertiwi kita memiliki kebudaayan sendiri yang harus di jaga dan di lestarikan.

Pemuda Funky Cinta Ilahi

Ekstrim “kebarat-baratan” dan ekstrim “kearab-araban” adalah sebuah khilaf tafsir dalam merespon globalisasi kedua kebudayaan besar tersebut. Hal yang bisa dilakukan adalah mengambil jalan tengah dengan memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari kedua kebudayaan asing tersebut.

Misalnya, barat yang dikenal dengan kemajuan teknologi muktahirnya bisa menjadi peluang kaum muda milenial Indonesia dalam penggunaan teknogi secara produktif. Pada era digital dan IT (Ilmu Teknologi) seperti saat ini. Dimana sudah tidak ada jarak lagi antara orang dari daerah satu dengan daerah yang lain atau dari negara satu dengan negara lain semuanya dapat terintergrasi dan terinterkoneksi dengan jejaring internet melalui telepon pintar(Gudget). Hal ini dapat memberikan kesempatan pada kaum muda milenial dengan membangun misalnya, bisnis yang berbasis jejaring internet (online) yang terkoneksi dengan pasar domestik dan global untuk mempromosikan produk-produk dan karya-karya anak bangsa, kearifan lokal (lokal wisdom) dan pariwisata Indonesia ke pasar nasiolan maupun internasional.

Begitupun dengan globalisasi budaya timur tengah juga harus dipilih dan dipilah sebagaimana memilih-memilah kebudayaan barat. Pemikiran-pemikiran radikal yang menggunakan kacamata kuda (kebenaran tunggal) dan menganut teologi “maut” istilah Buya Syafi’i, harus dibuang jauh-jauh dari pemikiran anak muda Indonesia. Tetapi harus mengambil yang positif yaitu religiusme yang menghargai dan menjujung tinggi perbedaan dan toleransi antar umat beragama, sesuai dengan konteks Indonesia yang multikultural.

Akulturasi budaya lokal dengan budaya barat dan budaya timur tengah yang diadopsi secara selektif, menjadikan kaum muda Indonesia mampu mengaplikasikan teknologi-teknologi canggih tetapi tetap menjaga dan melestarikan budaya lokal dan nilai-nilai moral agama. Inilah yang dimaksud dengan “pemuda funky cinta ilahi” meminjam istilah Noorhaidi Hasan. “Funky” sebagai simbol barat, karena kaum muda mampu merespon kemajuan teknologi-teknologi canggih. Disisi lain mereka juga “cinta ilahi” dengan tetap mempertahankan budaya lokal dan nilai moral agama. Misalnya masih menjaga tatakrama, sopan dan santun, menghargai orang yang lebih tua masih mengenakan peci bagi laki-laki, jilbab dan kebaya bagi perempuan serta menjunjung tinggi toleransi antara umat beragama. Dengan seperti itu kaum muda Indonesia akan tampil sebagai pemuda yang “ Funky” dan “Cinta Ilahi” bukan pemuda yang esktrim “kebarat-baratan” atau ekstrim “kerab-araban”.

Penulis : Gafur Dou Mbojo (Mahasiswa Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta).