Dukungan Syeikh Abdurrahman Sudais Terhadap Trump
Cari Berita

Advertisement

Dukungan Syeikh Abdurrahman Sudais Terhadap Trump

Minggu, 31 Desember 2017

Foto : Syeikh Abdurrahman Sudais (guardian.ng)
Indikatorbima.com - Kita boleh tidak bersetuju dengan pernyataan dukungan Imam Haramaian Syaikh Abdurrahman as Sudais terhadap Trump. Tapi itulah hikmah dan siapapun bisa saja berbeda termasuk saya atau siapapaun dengan Yang Mulia Imam Haramain.

"Dua negara ini (Amerika Serikat dan Kerajaan Saudi) sedang membawa dunia dan kemanusiaan. ke arah keamanan, perdamaian, dan kesejahteraan", kata Imam besar masjid Al Haram di sela kunjunganya ke New York. Di wawancarai televisi Al Ikhbiriyya yang mulia Syeikh As Sudais menyatakan keyakinannya.

Amerika dan Kerajaan Saudi memang berbeda pandang dengan sebagian besar negara yang tergabung dalam OKI dan liga Arab bahkan menlu Saudi beberapa kali mangkir dalam pertemuan OKI yang digagas Turkey menyikapi klaim Israel dan pengakuan Amerika atas Yerusalam sebagai ibu kota Israel.

Belakangan malah kerajaan Saudi begitu gencar merancang proposal serangan terhadap Yaman dan pembrontak Houthy yang konon di dukung Iran. Saudi beralasan untuk menumpas sumber radikalisme dan terorisme dalam Islam. Begitu pula sikap kerasnya terhadap Qatar.

Saya yakin Yang mulia Syaikh Abdurahman as Sudais tak sembarang 'ngendikan'. Dukungannya terhadap raja Salman dan Trump sungguh menarik. Meski harus dihujat ribuan orang yang menentang, tapi Yang Mulia Syaikh tetap kokoh dengan pandangannya itu.

Pandangan kasat mata memang kerap rancu dan tidak obyektif. Sebagaimana pandangan Musa terhadap kelakuan nabi Chaidhir as yang kerap di luar logika. Kebenaran memang tak semudah membilang seperti deret hitung. Ada banyak variabel dan kita tak bakal bisa merangkum semua. Dan kebenaran ada dimanapun meski terlihat buruk.

Termasuk pengakuan yang mulia Syaikh Abdurrahman as Sudais meski jujur saya sangat tidak bersetuju. Saya yakin dengan kejernihan dan kebeningan cara berpikir dan pandangan-pandangan beliau tidaklah bisa dipandang hitam putih. Bahwa pengakuan dan klaim atas Yerusalem sebagai Ibukota Israel dan penolakan migran muslim dari negara timur tengah tidaklah sepenuhnya salah meski harus melawan kebenaran publik Islam, negara-negara OKI dan liga Arab.

Ada saat dimana kita harus mengalahkan kebiasaan logika dalam memandang sebuah soal. Melihat sejenak kepada siapapun yang berbeda pandang. Kemudian belajar memahami dan mendengar kenapa as Sudais berkata demikian. Dengan tidak serta merta menjauh, membenci, menghujat apalagi membuat stigma-stigma negatif karena kebetulan Syaikh as Sudais punya pandangan beda terhadap Trump soal Yerusalam.

Itulah keniscayaan, pandangan berbeda bisa terjadi pada siapapun, dalam konteks apapun. Kearifan juga bisa datang dan dimiliki siapapun. Jika hikmah adalah barang hilang kaum mu'minin maka pungutlah hikmah dari manapun asalnya demikian Rasulullah saw berujar. Wallahu a'lam

Baca juga : Ada Palu Arit di Al Quds 


Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar