Di Senja ini Cinta Kita Purna
Cari Berita

Advertisement

Di Senja ini Cinta Kita Purna

Minggu, 31 Desember 2017

Ilustrasi : (foto : pune365.com)

Suatu sore bakda Asar, langit kota Semarang menangis tebal. Sore muram hitam di sana. Sepasang muda mudi tergesah menepikan sepeda motor Jupiter silvernya. Mereka lalu meringsut ke halaman masjid.

"Aku tunggu di sini saja," kata si pria.

"Mas, ndak shalat?" Tanya si wanita.

"Ndak, aku kuyup begini. Celana dan bajuku gini. Sana kamu saja. Aku tunggu di sini ya,"

"Iya,"

"Ita ..."

Gadis itu membalikkan tubuhnya saat kaki kanannya menginjak undakan kedua. Dia menatap lelaki itu dengan memicingkan matanya.

"Jaga diri ya. Jangan lama-lama." Perempuan bermata sipit itu memiringkan kepalanya lalu menganggut. Tak lupa ia juga senyum.

"Mmm ... Mas Rizal ..."

Kira-kira pukul empat. Setelah tujuh menit berlalu. Ita terbit dari mulut masjid sisi kanan atau utara. Mata pria kuyup yang duduk di undakan masjid itu membelalak. Dia mengamati kekasihnya itu bak bidadari dari nirwana. Putih, anggun, dan lembut ucap dan tindak tanduknya.

Semilir angin mengusir airmata langit dan gelap sore kota. Rizal dan Ita meneruskan perjalanan.

"Aku akan berhenti kuliah saja," suara Rizal bercampur bising jalanan.

"Kenapa, Mas."

"Aku mau bekerja,"

"Kerja apa? Di mana? Sebaiknya selesaikan kuliah kita."

"Bila kamu mencintaiku ikhlaskan aku." 

"Kita sudah semester akhir, Sayang. Sebentar lagi lulus. Sabarlah. Aku mau lari sama kamu bila papaku akhirnya tak merestui kita."

Rizal menginjak rem Jupiter silver itu. Dan menepi segera. Ada pembahasan penting yang harus dibereskan. Di depan ruko yang tutup Rizal membalikkan tubuhnya.

"Cinta kita tak harus melukai orang lain. Apalagi orang tuamu. Aku akan melamarmu secepatnya, Sayang. Aku akan punya uang cukup secepatnya." Ucap Rizal dengan sedikit gemetar. Matanya berkaca-kaca. Dan meleleh akhirnya di kedua pipi Rizal.

"Mas..." Ita merengek, wajahnya memerah ibah. Tangannya mengusap pipi kekasihnya.

"Pokoknya jangan bunuh janin kita." Tegas Rizal serius. Tangannya diarahkan dan meraba perut Ita.
"Janji, Sayang,"

"Iya, Mas." Nanar Ita menerawang masa depannya.
Janin hasil cinta mereka sudah tiga bulan. 

Suasana hening. Lalu Rizal menghadap depan lagi dan menarik gas perlahan. Sang kekasih memeluk erat dari belakang dan merebahkan pipi kanannya di pundak Rizal.

Pukul setengah lima mereka masih di jalanan kota. Senja berwarna jingga merona di ufuk barat. Lalu merayap ke ufuk timur. Aspal-aspal masih basah.

300 meter di depan Rizal menepikan sepeda motornya ke pom bensin dekat kampus. Di depannya masih lima sepeda mengantre.

Ita melonggarkan pelukannya dan hendak turun. Namun tak direstui Rizal.

Siapa sangka sebuah truk box mengamuk dan menyeruduk Rizal-Ita dan kendaraan lain di depannya hingga mereka terpelanting tiga meter ke depan. Tak luput mesin pengisian bensin pun dihantam truk gila itu dengan beringas.

Kemudian.

Deeeeeeeem ...

SPBU meledak, semua menjadi serpihan dan hangus.    

Penulis : Mulyanto (Novelis)