Ada Palu Arit di Al Quds
Cari Berita

Advertisement

Ada Palu Arit di Al Quds

Sabtu, 30 Desember 2017

Iustrasi (foto Bombastis)
Indikatorbima.com - Ali Khamenei pemimpin tertinggi Syiah Iran dengan gaya sarkasme mengatakan, di negeri dimana Al Quds berdiri dan diperebutkan sebagai kota paling suci, tak satupun partai yang berideologi Islam hidup". Khamenei tak salah, empat partai berkuasa di Palestina semuanya berideologi sekuler-sosialis bahkan ada yang ber manhaj kiri.

Sebut saja Palestine People Party atau Partai Rakyat Palestina (Hizb Al Sha'ib Al Filastini) berhaluan nasionalis-kiri, Partai Ftont Rakyat bagi Pembebasan Palestina (Al Jabhah al Sha'biyyah li Tahrir Filastine), Partai Komunis Palestina Revolusioner (al Hizb Al Syuyu'i Al Thawri Al Filastine). Semuanya berhaluan nasionalis kiri, sosialis dan Leninisme.

Sementara Partai Fatah atau PLO (Harakat at Tahrir Al Filastine), yang pernah di tokohi Yasser Arafat berhaluan nasionalis-kiri. Partai terbesar yang pernah mendapat banyak dukungan umat Islam internasional. Partai Hamas (Harakat Al Muqawwamah Al Islamiyah) penganut paham Islam kiri.

Hampir semua partai yang kuat dan ikut Pemilu diatas adalah penganut paham komunis, atau nasionalis kiri. Partai berhaluan kiri banyak diikuti anak muda Palestina yang gerah dengan slogan dan janji para pengkhotbah. Palestine People Power misalnya, menjadi partai paling banyak diminati terutama anak-anak muda. Gerakan nya dinamis dan sesuai dengan selera muda.

Fenomena ini sangat menarik, di salah satu tanah suci ketiga setelah Mekkah dan Madinah, paham atheis demikian diminati dan menjadi kekuatan ampuh untuk membebaskan Al Quds dari penjarahan Israel. Mereka adalah kelompok yang sangat militan menentang Israel sekaligus egois dengan teman sesama pejuang. 

Palestina demikian rumit karena isu pembebasan Al Quds dan pemindahan ibukota Israel ke Yerusalem bukan pyur soal agama (Yahudi-Kresten-Islam) tapi lebih pada soal politik dan aliran. Tak urung Yasser Arafat pun harus menyerah pada tajamnya konflik internal sesama pejuang Palestina. Dan selama itu pula Yasser Arafat gagal menyatukan visi gerakan di negerinya. Bahkan Hizbut Tahrir pun tidak mendapat tempat di tempat lahirnya, Palestina dan harus pergi karena diusir.

Sosialisme, Komunisme, Leninisme demikian kuat mencengkeram ideologi di sebagian besar rakyat Palestina, setidaknya menjadi alternatif para pejuang muda Palestina ditengah kebuntuan akut. Karena berharap bantuan dari saudaranya sesama Arab-Muslim hanya mimpi. Mungkin tidak semua pendapat sebagian anak muda pemberontak ini benar atau hanya ungkapan kejenuhan karena sudah bosan dan capek bertempur.

Democratic Front for The Liberation of Palestine, partai ketiga terbesar mengusung paham liberal-sekuler, juga harus berjibaku tidak saja melawan serdadu Israel yang bengis tapi juga harus bersaing dengan teman sesama pejuang yang egois. Sebuah fenomena intrik antar ideologi dan aliran yang kuat.

Disamping banyaknya aliran juga banyaknya kumpulan pergerakan yang sulit disatukan. Dan mungkin pula Israel sudah tahu dan tepat mengukur kekuatan lawan sehingga dengan mudah selama bertahun-tahun mengacak-acak negeri suci tanpa lawan sepadan.

Lalu dimanakah pergerakan Islam itu .... 'Ruhul Jihad' tak boleh surut apalagi digantikan dengan semangat Dialektika Hegel yang di usung komunisme. 

Baca juga : Dukungan Syeikh Abdurrahman Sudais Terhadap Trump 


Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar