Transformasi Filosofi “Maja Labo Dahu” Melalui The Seven Great Actions
Cari Berita

Advertisement

Transformasi Filosofi “Maja Labo Dahu” Melalui The Seven Great Actions

Selasa, 14 November 2017

Ilustrasi

Dulu Bung Karno berada di negeri terjajah, karena pemikirannya bebas dia mengharapkan merdeka. Sekarang, kita hidup di negeri merdeka tapi membiarkan pemikiran dan diri kita terjajah. Mengapa demikian? Setuju tak setuju, alasannya karena kita tidak memikirkan cara untuk merawat Bumi Seribu Mesjid umumnya dengan melalui “Dana Mbari, Dana Mbojo” khususnya untuk Indonesia. Sejalan dengan penuturan Bapak Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila UGM pada kegiatan kepemudaan IYD Camp 2016 silam di Yogjakarta.[1] Hasil Kongres Pancasila VIII di UGM 31 Mei - 1 Juni 2016 butir 14.
• Kepentingan 'ego-sektoral' dan golongan pengelolaan negara tumpang-tindih.
• Rekrutment Anggota Dewan kurang kompeten.
• Kekuasaan menghasilkan kepemimpinan kepentingan bisnis, bukan untuk kepentingan negara.

Artinya, orang terdahulu berada di negeri terjajah tapi jiwanya merdeka. Hari ini kita berada di negeri merdeka tapi jiwa kita terjajah. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Ir. Soekarno.

Perspektif filosofi “Maja Labo Dahu” sebagai falsafah budaya dan agama masyarakat Bima yang menjadi bagian Bumi Seribu Mesjid. Terkhusus, bagi masyarakat pemuda Bima yang tersebar diseluruh Indonesia bahkan seantero dunia. Mencintai kampung halaman harus disertai perjuangan memegang teguh nilai kearifan lokal di manapun kita berada. Lantas, akan dikemanakan nilai yang kita pegang di Kota Metropolis? Melebur menjadi polusi di tengah keramaian kota ataukah menjadi lilin untuk menebar cahaya inspirasi? Kehilangan tradisi jati diri di tanah rantauan menjadi persoalan pemuda di luar kota. “Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, peribahasa itu diperlu diingan sebagai pemuda saudagar. Berkelana karena banyak akal.

Degradasi moral dewasa ini sangatlah kompleks, menurut data Lembaga Perlindungan Anak Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Bima merupakan daerah tertinggi kasus kekerasan terhadap anak di NTB. Ketua Divisi Penguat Organisasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Syafrin mengungkapkan, dari tahun ke tahun kasus kekerasan dengan korban anak terus meningkat di Kabupaten Bima. Lembaganya mencatat, selama periode Januari hingga Oktober 2015 ada 53 kasus yang sudah masuk proses hukum. [2] Peristiwa yang terjadi sekitar tujuh kali dalam dua tahun terakhir ini (aborsi dan pembuangan bayi) di Kota Bima, ditudingnya sebagai terminologi dari terjadinya degradasi moral di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. [3] Disusul dengan, peredaran narkoba sudah masuk tahap mengkhawatirkan melibatkan pengguna berumur 17 sampai 35 tahun. [4].

Awal November, kejadian yang memilukan tentang prahara kemanusiaan terjadi di sudut Bima yaitu di Kec. Lambu. Tragedi anarkis dengan menghakimi sendiri tanpa dilandasi bukti hanya memakai insting praduga membuat manusia tak bernyawa bak binatang, seorang pelajar tewas mengenaskan.[5] Hanya Allah yang Mengetahui segala sesuatu dengan rinci dan jelas terhadap kejadiaan tersebut. Maraknya perampokan, pembunuhan, kekerasan pada anak, seks bebas dan konsumsi obat-obatan terlarang membuat akhlak generasi kian terkikis dan sangat memprihatinkan. Lantas, siapa yang bersalah? Kami, Institusi Pendidikan, Pemangku Kebijakan Hukum, Pemuda atau orang tua? Yang salah adalah tukang tempe kacang buruk di jalan. Tak etis rasanya saling menyalahkan.

Langkah seperti apakah yang dibutuhkan? Berkaca dalam sejarah dunia ketika Hirosima dan Nagasaki dibom atom oleh musuh, Perdana Mentri saat itu John F. Kennedy membuat strategi dan bertanya, ada berapa guru yang tersisa? Dalam konteks Bima dan khususnya Lambu, pertanyaan yang muncul. Ada berapa sisa anak muda sebagai generasi perubahan? Mari kita galakkan persatuan pemuda-pemudi Bima dari Sabang sampai Merauke untuk kembali memaknai nilai filosofi “Maja Labo Dahu” dalam tatanan tingkah laku sehingga menjadi landasan hidup dalam bermasyarakat dan standar kebijakan hukum kearifan lokal.

Apa yang harus dilakukan? Menopang yang lemah (rakyat) mengendalikan yang kuat (pemuda) dan menghubungkan yang terpisah (filosofi; Maja Labo Dahu).

Pemuda sebagai generasi millenial dan pewaris peradaban. Dipundaknyalah tanggung jawab ummat. Tidak inginkah pemuda-pemudi Bima mengambil bagian untuk menjadi salah satu Uswatun Hasanah bagi pemuda lainnya? Pertumbuhan dunia kedepan akan ditentukannya oleh pemuda, yaitu bonus demografi.

Sebenarnya, ada banyak pemuda hebat yang lahir dari Bumi Seribu Mesjid, pun demikian di Bima, tetapi bermasalah dengan hati nurani. Watak yang akan menjadi karakter sangat diperlukan untuk mencegah pemuda dalam melakukan pelanggaran moral. Seyogianya karakter “Maja Labo Dahu” dapat mengalir dalam jiwa pemuda. Olehnya, pembinaan watak merupakan tugas utama untuk melahirkan jiwa yang berkarakter sehingga jati dirinya harus ditempa, dibentuk serta dikembangkan melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik. Julukan Bumi Seribu Mesjid dan Islam mayoritas akan selaras dengan tertanamnya karakter yang kuat dalam diri pemuda untuk memberikan kontribusi terhadap masa depan Indonesia yang beradab dan bermartabat. 

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tergerak untuk menawarkan sebuah solusi kreatif; Transformasi Filosofi “Maja labo dahu” Melalui The Seven Great Action; Inspirasi Pemuda Bumi Seribu Mesjid.

Secara epistimologi “Maja Labo Dahu” diartikan dengan “malu dan takut”. Kata "Maja" berarti malu, "labo" berarti dan, serta "dahu" berarti takut. Jika ditinjau frasa ini secara semantik, "Maja" atau malu adalah pengejewantahan nilai tersirat, yang hampir sama dengan "Dahu" atau takut yang bermaknakan bahwa masyarakat Bima perseorangan maupun sekelompok orang akan malu ketika dilihat bertingkah laku di luar kaidah norma-norma adat yang berlaku dan sedangkan takut ketika Allah melihat tingkah laku di luar dari kaidah-kaidah fiqih Islam. Persamaan dari kedua kata tersebut, yaitu malu dan takut ketika melakukan perbuatan pelanggaran norma-norma yang berada dan aturan yang berlaku secara hukum fiqih dalam Islam.

Gagasan ini sendiri menurut Hilir berasal dari buah pikiran Sultan Abdul Khair Sirajuddin, Sultan Bima II (1640-1682) bersama ulama keturunan Minangkabau yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Nuruddin, Sultan Bima III (1682-1687) bersama Syekh Umar Al-Bantami dan para ulama lainnya.[6] Harapannya, pemuda-pemudi Bima menjadikan prinsip nilai kearifan lokal filosofi “maja labo dahu” sebagai identitas jati diri mereka saat dimanapun mereka berpijak.

Nah, caranya seperti apa? Melahirkan yang dzohir secara batiniah. The seven great actions adalah lahir dari kajian surah al-mu’minuun ayat 1-11. Ayat ini mengajarkan kita bagaimana melakukan suatu aksi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri terlebih kepada orang lain. Ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya manusia itu berbuat hal-hal yang berguna dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga termasuklah mereka orang-orang yang beruntung. Untuk itulah, maka terdapat tujuh langkah sikap utama (the seven great actions) yang harusnya dimiliki oleh setiap pemuda yang menginginkan puncak kesuksesan dan kemenangan sebagai bangunan karakter (character building) [7]. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT, Q.S. Al.Mu’minuun (23) ayat 1-11 yaitu antara lain:
• Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. BANGUN KETAJAMAN VISI.
• (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. BANGUN KOMPETENSI DIRI.
• Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada guna. CIPTAKAN HIDUP EFEKTIF.
• Dan orang-orang yang menunaikan zakatnya. LATIHAN KEPEDULIAN SOSIAL
• Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka adalah hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. JADILAH TERDEPAN, LAKUKAN PERUBAHAN.
• Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. BERSIKAPLAH PROFESIONAL.
• Dan orang-orang yang memelihara shalatnya KEMBANGKAN TERUS DIRI ANDA DAN JADILAH PEMIMPIN DENGAN HATI NURANI.

Ketujuh sikap The seven Great Actions di atas, terinspirasi oleh surah Al- Mu’minun ayat 1-11 dengan pengembangan aplikasi sikap yang memungkinkan seseorang pemuda lebih mudah memahami bagaimana langkah menggapai puncak kemenangan. Ketujuh sikap tersebut dapat diintisarikan dalam empat tangga menuju kemenangan (the winning stage model of character building), di antaranya Basic Winning, Personal Winning, Social Winning, dan Great Winning.

Basic Winning

Ketika Anda menginginkan sebuah puncak kesuksesan sebagai pemenang sejati dalam hidup ini, maka landasan utama sebagai modal dasar kemenangan itu haruslah Anda miliki (Basic Winning), yaitu ketajaman anda dalam membangun visi ke depan tentang apa yang akan anda capai. Disaat anda berpikir menang maka anda menang, begitu sebaliknya.

Personal winning

Kunci kemenangan kedua adalah kemenangan individual anda. Sebuah kemenangan awal sebelum memenangkan kompetisi dengan pihak luar. Keberhasilan anda mengenal dan mengelola diri anda sendiri mengantarkan anda pada kemenangan dihadapan public. Pengenalan diri dan pembangunan kompetensi diri yang akhirnya mengantarkan anda dalam penciptaan hidup yang efektif merupakan modal dasar dalam melakukan interaksi dengan kehidupan.

Social Winning

Kemenangan sosial akan diraih manakala mampu bersikap peka, selanjutnya mampu melakukan perubahan sosial dan menjadi yang terdepan dalam perubahan sosial tersebut. Eksistensi dalam kehidupan sebenarnya dapat di lihat pada sejauh mana peran yang anda mainkan di tengah-tengah kehidupan itu sendiri. Akan di akui dalam kehidupan di saat mampu turut serta membangun sejarah peradaban masa depan terbaik.

Great Winning

Puncak kemenangan yang terakhir adalah kemenangan yang hebat (Great winning) puncak kemenangan anda di saat anda mampu istiqomah, ajang dalam menampilkan sikap-sikap dan kebiasaan terbaik yang mampu mengantarkan sebagai pemimpin kehidupan. Istiqomah adalah sebuah proses perjalanan panjang menampilkan sikap terbaik yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan karakter dalam kehidupan menuju pribadi yang anggun sebagai pemenang yang sejati. 

Kompetensi The Winner Character dengan tujuh langkah utama The seven Great Actions dan beberapa kompetensi sikap (The Competences) ini merupakan totalitas sikap yang mengantarkan seseorang ke puncak sukses sebagai pemenang sejati. Adapun maksud dari The seven Great Actions ini adalah setiap ayat memilik makna dan penjelasan yang memang manusia itu harus melakukannya ketika ingin benar-benar melakukan suatu tindakan menuju keberhasilan dan kesuksesan dari apa yang direncanakan. Kompetensi adalah kandungan sikap yang dimiliki dalam setiap langkah tindakan utama. Kandungan sikap ini merupakan sikap-sikap yang mestinya dimiliki dalam membangun masing-masing kebiasaan utama.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa The seven Great Actions adalah kajian dalam surah Al-Mu’minun dengan visi yang berkompetensi mencapai nilai-nilai Al-Qur’an yang ditransformasikan dari maja labo dahu. Sehingga tercapailah pembentukan pengembangan karakter pemuda (Youth Development) sesuai dengan Al-qur’an dan transformasi nilai-nilai filosofis “Maja Labo Dahu”. Apabila pemuda mampu mengorientasikan nilai-nilai tersebut akan menjadi akhlaq “Maja Labo Dahu”.

Maja Labo Dahu itu merupakan merawat Indonesia melalui Cinta Bumi Seribu Mesjid yang berada didaerah masing-masing dengan berawal dari diri sendiri melalui tatanan tingkah laku. Melahirkan pemuda yang berjiwa nasionalis tranformasi filosofi Maja Labo Dahu menjadi the seven great action akan berpengaruh dalam pembangunan berkelanjutan dan sebagai pendongkrak peradaban masa depan terbaik Indonesia di masa Indonesian Millenium Goals yang beradab dan bermartabat. Olehnya, para pemuda mampu memberikan kontribusi positif dan berpartisipasi dalam aksi nyata yang bermula di lingkungan sekitar. Semoga kita adalah salah satu diantara 10 pemuda yang telah diikrarkan oleh Bung Karno. 

Berusaha memadamkan api walau setetes air tidak akan mampu memadamkan api besar, tapi kita tahu kalau Allah selalu menilai hambanya yang melakukan kebaikan meski dari hal-hal terkecil. Dengan tanpa melakukan apapun kita semua akan tahu bahwa kita ada di pihak yang mana. Nah, sekarang dimanakah Anda berpihak sebagai Pemuda Bima? Tetap menjadi pendukung membiarkan keburukan merajalela atau pejuang kebaikan dimanapun kita berada? Bangkit dan terjemahkan zamanmu!

Tulisan ini menjadi salah satu perjuangan menginternalisasikan kembali nilai yang pudar sebagai pegangan hidup kaum muda. Pun sosialisasi kembali nilai yang hampir terlupakan sebagai gerakan Bima Ramah dan agar meminimalisir konflik yang terjadi dari Bima Marah. Karna konsep Bima Ramah bukan hanya slogan dan visi politik semata, tapi itu adalah tanggungjawab semua elemen masyarakat untuk mengaktualisasikan dengan program nyata. Sehingga nilai-nilai "Maja Labo Dahu" menjadi pioner utama dalam setiap pijakan langkah masyarakat Bima. Semoga!

Penulis : Nurrahmah (mahasiswa Pasca Sarjada Pendidikan Bahasa Inggris UNES).
Editor   : Muh. Ainul B