Suara Tuhan Dari Pikiran Buruk
Cari Berita

Advertisement

Suara Tuhan Dari Pikiran Buruk

Minggu, 19 November 2017

Socrates (foto : Imgur)
Tapi Plato, seperti halnya Socrates, tetap memandang cemas rakyat yang terhormat itu. Baik di Sovyet maupun di China, pada dua negeri yang katanya rakyat berkuasa, tetap saja para pemimpin memandang bahwa rakyat tak bisa dibiarkan tanpa kediktatoran pucuk pimpinan partainya. Rakyat hanyalah sekumpulan orang dungu kalau dibiarkan tanpa arahan.

Rakyat butuh cemeti agar tak menyimpang dan berjalan sesuai tujuan. Sedikit paksaan dan keras suara perintah agar tetap berjalan di arah yang dikehendaki.

Di Iran yang Islam, Ayatullah Khomaini dan Ali Shariati sama-sama menggaris bawahi, demokrasi adalah kepemimpinan dengan asumsi bahwa para demos itu hanyalah anak-anak yang butuh bimbingan dan pencerahan.

Bagaimana suara rakyat bisa menjadi suara Tuhan bila rakyat pemilih tidak punya pengetahuan dan hikmah. Cara milihnya digiring amplop para bandar dan cukong. Inilah yang dilawan Socrates, menjajakan suara Tuhan di gang sempit dan pikiran kumuh. Socrates tak bermaksud melawan demokrasi jika dilakukan dengan cara benar, dan rakyat dibiarkan mengetahui kenapa memilih.

Socrates adalah penentang demokrasi paling masyhur, dihukum mati dengan cara minum racun, karena tidak berada pada posisi demokrasi yang menang.

Socrates adalah contoh seorang pemikir yang meneriakkan kebebasan dan kemerdekaan berpikir, karena tidak sehaluan dengan penganjur kebebasan dan kemerdekaan yang lain. Kebebasan itu juga menindas yang lemah.

Dan kita tetap harus hati-hati dengan semangat populis Pan Islamisme, Wahabi-isme atau vox populi Adolf Hitler dan Mussolini, membuktikan sebuah gerakan yang awalnya baik menjadi merusak dan ganas dapat terjadi karena kepedihan, prasangka dan kebencian yang dibagi dan membiarkan pikiran buruk dan kecemburuan para pengikut yang dikibarkan sebagai panji.

Mereka yang beragama sambil terus membenci, merawat dendam dan permusuhan sebagai bukhul. Orang-orang dengan alasan menegakkan sunah tapi menebar kebencian pada kelompok yang disebutnya ahli bid'ah pun sebaliknya tanpa kecuali, mereka saling membalas dan menyakiti. Awalnya adalah kebebasan yang ditawarkan demokrasi. Lalu semua boleh bersuara tanpa tatakrama.

Demokrasi pada akhirnya hanyalah alat bukan tujuan, karenanya tak pantas diberhalakan, demokrasi juga bukan satu-satunya cara mengurai segala soal, memilih dan mendapatkan seorang pemimpin, jadi tak elok merawat kebencian dengan alasan nilai dan kemanusiaan, bukankah demokrasi itu sendiri juga konsep yang absurd.

Maka tidak sepantasnya menafikkan sistem yang lain karena siapa tahu dia lebih baik dari demokrasi yang dibanggakan. Dan rakyat tak harus pongah berdiri pada podium tinggi sambil berkata :" Ini aku para 'demos' .. pemegang suara Tuhan ... lantas pergi tanpa permisi... ". Terinspirasi tulisan GM.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar