Siapa Guru di Zaman Now?
Cari Berita

Advertisement

Siapa Guru di Zaman Now?

Sabtu, 25 November 2017

Ilustrasi (foto : Harian Analisa - Analisadaily)
Pada awalnya guru digambarkan sebagai sosok pintar dan serba tahu, tempat rujukan segala soal. Hidup menyendiri di pesanggrahan atau padepokan tempat di mana para murid belajar dan mendapat pengalaman hidup. Guru dikelilingi para murid yang membawa pensil dan kertas catatan.

Guru adalah manusia linuwih dengan berbagai ketrampilan dan kesaktian yang dimiliki. Mengajar dan memberi banyak pengalaman kepada para murid yang kelak berguna setelah turun di masyarakat.

Guru, sosok yang digugu dan ditiru. Dipercaya kemudian diteladani. Meski tidak demikian maksudnya. Dalam mitologi Jawa, guru adalah personifikasi manusia linuwih baik dalam aspek fisik maupun non fisik. Guru ditagih mampu mengelola batin dan nalar sekaligus. Kedewasaan berpikir dan menalar juga kematangan mengelola batin. Guru adalah sosok sentral dan fundamen ditengah perubahan masyarakat yang terus berubah.

Peran guru demikian penting saat pengetahuan berjumlah masih sangat sedikit dan terbatas, seakan guru berikut padepokan atau pesanggrahan yang dikelola menjadi satu-satunya gerbang ilmu pengetahuan. Kemudian ilmu yang masih terbatas itu diberikan dengan cara "mencicil", sedikit demi sedikit kemudian dievaluasi dan dilakukan proses uji untuk mengetahui seberapa banyak murid menyerap ilmu guru.

Pada kurun ini murid tak boleh menatap wajah sang guru apalagi bertanya, agar ilmu yang di dapat tidak kehilangan berkah. Dalam bahasa Al Quran disebut 'qaulan tsaqila' kata-kata sang guru begitu mantab berkesan tak mudah dilupakan para murid. Metode belajar tak penting. Sebab kata guru adalah 'idu geni' tak mudah dilupa. Sebab guru bukan hanya piawai dalam olah nalar tapi juga kuat dalam olah rasa dan olah batin. Dua hal yang saat ini sangat langka.

Pada masa sekarang nilai itu telah berubah. Pengajaran mengalami modernisasi meski hilang sakral. Untuk mempermudah proses transformasi ilmu pengetahuan dari guru kepada murid yang kemudian disebut "proses belajar mengajar" diperlukan berbagai metode belajar. Maka dikembangkanlah berbagai riset dengan biaya tinggi untuk "inovasi pengajaran'".

Saat ini telah terjadi "ledakan ilmu pengetahuan". Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bahkan sekolah juga bukan lagi satu-satunya gerbang ilmu pengetahuan lagi. Sebaran ilmu pengetahuan tak lagi bisa dikendalikan, peran guru dan sekolah mengalami krisis kepercayaan dan de-legitimasi.

Guru sekarang berada di jaman krisis moral akut. Nilai kemanusiaan kehilangan imun. Sementara guru masih sibuk dengan sumber belajar, media atau materi yang akan diajarkan. Di luaran perubahan berlangsung kencang. Siapa bisa mengejar. 

Bahkan guru sering kali ditinggal oleh pengetahuan itu sendiri, dalam beberapa kasus, peran guru tak lebih hanya sekedar tukang memberi angka-angka pada raport yang dibagi setiap satu semester sekali. Dan sosok sibuk karena tuntutan administrasi sertifikasi. Selamat hari guru ... Barakallah. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar