Sang Kyai : Quo Vadis Taqlid Buta
Cari Berita

Advertisement

Sang Kyai : Quo Vadis Taqlid Buta

Rabu, 08 November 2017

Kyai Hasyim Asy'ari (foto : Tirto) 
Sejak kecil diajarkan untuk menjadi muttabi bukan muqqalid. Tidak mengikut membabi buta kepada sang guru, maka kami diajarkan untuk sering bertanya. Menyimak dan menyoal yang tidak jelas. Apalagi dalam hal urusan agama. Taqlid sesuatu yang ditabukan di Persyarikatan kami, meski kenyataannya jamaah kami juga tak beda jauh dengan jamaah yang dibilang taqlid. Sama-sama lama mengerti dan sama-sama gagal paham.

Menjadi muttabi atau muqqalid memang beda tipis bahkan kerap dipandang keliru sebab keduanya saling menyisakan bentuk pikiran rumit. Tidak ada batasan jelas kecuali definisi normatif, lalu apa bedanya muttabi dan muqqalid, berapa diantara kita yang sudah muttabi dan berapa yang masih menyandang muqqalid. Lalu apa implikasinya. Pemetaan ini terkesan deskriminatif dan dipaksakan hanya digunakan untuk kebanggaan dan sebatas tembok untuk membedakan.

Apalagi ketika informasi tengah terbuka tanpa batas maka taqlid menjadi sesuatu yang absurd. Siapapun dapat mengakses informasi darimanapun. Siapa muttabi dan siapa muqalid tak lagi mudah dibedakan. Kita memasuki era tanpa adab, berilmu tanpa guru lantas apa yang kita lihat.

Kyai Hasyim Asyaari datang melamar sebagai murid kepada Kyai Kholil Bangkalan guru alim, zuhud dan wara', para santri menyebutnya wali. Dengan ta'dzim disampaikan maksud kedatangannya. Kyai Cholil Bangkalan tidak langsung menerima tapi harus melakukan beberapa uji terhadap calon santri nya termasuk Hasyim Asyari muda.

Setelah perjanjian disepakati calon murid dan guru bertemu di kebun belakang rumah yang ditumbuhi bambu. Kyai Cholil memanggil Hasyim Asyaari muda dan menyuruhnya memanjat bambu. Hasyim melompat memanjat hingga pucuk. Sesampainya di pucuk ia pun melompat ke bawah sesuai perintah sang guru. Bambu tak patah dan Hasyim Asyaari muda selamat tanpa terluka.

Mungkin tak masuk di nalar tapi jangan lupa bahwa ilmu tak selamanya harus bersandar pada nalar semata. Seperti halnya ilmu hikmah yang diajarkan nabi Chaidhir pada nabi Musa as semuanya melawan logika.

Melawan logika taqlid dengan cara ekstrim juga tak baik. Ada nilai kesantunan yang kemudian menghilang, ilmu tanpa berkah saya menyebutnya. Yang dikejar hanya konten materi tapi menghilangkan nilai substantif ke ilmuan.

Kyai Hasyim bukannya mengikut buta apa perintah guru. Juga bukan berarti tidak tahu akan bahaya memanjat bambu hingga pucuk dengan resiko patah kaki atau terluka ketika melompat dari ketinggian. Kyai Hasyim hanya ingin menunjukkan ketaatan tanpa syarat. Keta'dziman yang tulus pada sang guru. Kesetiaan dan kerelaan.

Nilai inilah yang kita hilangkan sekarang dalam setiap pengajaran yang kita laksanakan. Semua hanya berorientasi pada materi akibatnya bisa kita rasakan, kita menciptakan sekumpulan orang pintar tanpa adab. Kawanan berilmu tanpa akhlaq.

Mereka tak malu berebut makan di depan sang guru. Atau menduduki kursi gurunya tanpa merasa bersalah. Akhirnya lahir seorang guru yang ketika mengajar mengumbar kata-kata penuh cela dan umpatan. Lalu apa yang sudah kita ajarkan.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar