Ribuan Jam Menghapusmu
Cari Berita

Advertisement

Ribuan Jam Menghapusmu

Jumat, 03 November 2017


Ilustrasi (foto : Habib Asyrafy)

Segunung benci di kepalamu tidak akan pernah
cukup untuk membunuh rindu di dadamu
Berhentilah menyiksa dirimu
__suci indriyani__


Membeci adalah cara tersempurna untuk melupakan saat lapang, rela, dan ikhlas hanya mampu kutempatkan pada lidah, sedang di hati gagal. Terlukanya aku atas fakta kamu berbalik arah memunggungiku bukanlah alasan utama aku membenci, melainkan karena sialnya aku setiap kali harus gagal melupa. Aku tidak berusaha, hanya tak ingin berlama-lama menyelam pada segala tentangmu. Tak adil kan jika aku saja yang mengenang sedangkan kamu tidak?

454 hari yang lalu sudah kuputuskan untuk menata puing-puing hati yang bertebaran akibat ledakan besar yang kusebut perpisahan. Semua potremu dalam ponselku kuhapus tanpa tersisa. Kubersihkan segala hal yang beromakan kamu. Nomor telepon, media sosial dan apapun yang membuat kita terhubung. Semua tentangmu harus kubuat lenyap. Aku sungguh ingin menjauhi duniamu tanpa pengecualian. 

Pelan-pelan kurekatkan patahan hatiku sendiri. Menenangkan gundahku sendiri. Bahwa aku lebih kuat berpijak tanpamu. Aku telah menikmati semua kesedihan sampai pada tetesan terakhir di ujung mata. Hatiku tak lagi selemah yang kamu kira. Pada akhirnya aku lega. Aku lega kita tak lagi bersama. Aku lega bisa mengatakan dengan tenang, aku tak lagi mencintamu.

Pernahkah kamu bertanya apakah aku baik-baik saja?

Sebelum sampai pada tahap ini, aku pernah berada pada posisi paling berat untuk sembuh pada patah hati. Aku pernah ada di antara perasaan ingin menahanmu pergi, tetapi aku tertahan ego yang amat tinggi. Aku terluka, tak perlu ditanya. Pada saat memutuskan untuk membeci, aku dihadapkan pada rindu yang paling pilu. Aku tak kuasa untuk menolak. Sekuat apa pun aku ingin keluar dari rindu yang membuat aku muak, semakin kuat pula seluruhku terisap. Aku hilang kendali. Inginku berlari ke arahmu. Bersandar di bahumu. Memintamu untuk tetap tinggal hingga rindu tak lagi menjadi prasasti.

Namun, haruskah aku datang mengemis hanya agar satu rindu terobati? Pantaskah aku menjadi manusia sehina itu? Aku memilih diam. Memilih membiarkan terbunuh rindu atau membunuh rindu. Kemudian, kedatangan rindu berikutnya tak pernah lagi kuladeni. Aku mendiaminya, sampai ia bosan dan menghilang dengan sendiri.

Kepadamu, terimakasih telah mengantarkanku dengan sengaja pada fase sebelumnya hingga aku harus mengorbankan 10.992 jam waktu dalam hidupku untuk melakukan petualangan menghapus luka. Hingga aku menyadari betapa tangguhnya aku bisa berjuang sampai pada titik ini, berdamai dengan masa lalu dan memaafkanmu tanpa dipinta. 

Tahukah kamu?
Mendengar namamu disebut tak lagi bisa menggetarkan hatiku seperti dahulu.