Puisi "Suara Hati" SubComandan Ilmidin
Cari Berita

Advertisement

Puisi "Suara Hati" SubComandan Ilmidin

Senin, 27 November 2017

Foto : Penulis
Mereka bersuara bahwa nuklir adalah senjata paling mematikan di dunia. Kekuatan dan seranganya dapat menghancurkan dunia beserta isinya. Namun, hal ini tak berlaku karena senjata paling mematikan bagiku adalah kata-kata. Dengan kata, dunia yang ada saat ini tercipta.

Segala sesuatu ada karena kata dan dengan kata juga, pengetahuan seseorang dapat terisi. Hal ini juga ditegaskan Subcomandante Marcos pimpinan EZLN "Sejanta utama mereka adalah kata yang bisa mengubah dunia berserta isinya. Kata adalah senjata,” ucapnya.

Bumi Dan Bulanku

Kekuatanmu tertutupi kabut hitam itu Selimut awan tak menghilang dari pandangan Pimpinan terang ketakutan dengan malam
Padahal engkau adalah cahaya yang menandai terang dalam gelap itu 

 Wahai bumi yang berseblahan dengan matahari 
Wahai bulan yang memimpin malam sehingga terlihat terang
Kemanakah engkau berlari 

Kembalilah………….!! 
 Dunia membutuhkanmu saat ini

Wahai temanku…………!!
 Terangkanlah kami malam ini bulanku
Janganlah engkau bermusuhan dengan bumi 

 Wahai bumiku………!!
 Berhentilah menutupi terang itu dengan awanmu 
Biarkan bulan menyentuhmu dengan cahayanya
 Biarkanlah dia menerangimu saat malam itu tiba 
 Kenapa kalian saling bermusuhan 

Berbaikanlah………….!! 
Tidakkah kalian melihat betapa menderitanya kami tanpamu 
Tadakkah kalian lihat betapa tersiksanya kami tanpamu 
Wahai matahariku, jadilah penengah diatara bumi dan bulan itu 
Jangan biarkan mereka bermusuhan Kepada siapa lagi kami memohon pertolongan ini 
Kalau bukan hanya kepadamu matahariku

 Ibarat Dalam Penjara 

 Dalam penjara itu mereka bersandar
 Jiwa yang kosong menyelimuti si miskin 
Dalam penjara itu mereka terdiam
 Warna merah itu belum bergerak

 Sajian makanan itu terlihat dari kejauhan 
Dituangkan dalam gelas-gelas elit
 Disajikan dalam piring-piring mahal Akankah simiskin bergerak 

 Sajian makanan itu direbutkan 
Para penjaga mulai memanas 
Para pemilik mulai mencari celah pengamanan 
Pimpinan penjarapun diuntungkan

 Dipisahkanlah mereka dalam penjara 
Sel-sel dalam penjara dibedakan
Kau sang miskin dan engkau sang kaya Kalian begitu berbeda karna ekonomi 

 Si miskin mulai kelaparan mereka mulai melawan 
Dengan keyakinan mendapatkan makanan
Dengan kepercayaan akan kebersamaan
Namun apalah daya para penjaga diturunkan 

 Si miskin melawan para penjaga
Memberontak karna kebutuhan 
Mengamuk karna kelaparan
 Darah dan air mata menyelimuti penjara 

 Si kaya mulai memainkan peranya Tersiarlah pemberontakan si miskin Terdengarlah kabar kejahatan 
Gossip murahanpun dibenarkan 

 Si miskin disalahkan dan diasingkan Dibuang dalam sel bawah tana
 Disiksa dan dicaci oleh penonton dan pelaku gossip 
Perlawananpun dianggap kejahatan

 Pemikat Rasa 

 Dalam sebuah gelas kosong itu Dituangkanlah sang hitam pekat dan beraroma 
Ditambahkanlah manis dalam dirinya 
Gelas yang tak bertuan karna hitam dan pahit manisnya 

 Disimpanlah sebuah candu asap didekatnya 
Makin beraroma dan memikat yang disekitarnya
 Bersama dan berjuang menikmati kehangatan 
Kehangatan asap dan hitam pahit manis menjadi satu dalam rasa

 Berjuta pemikat silih berganti
 Tanpa bosan sang hitam pahit manis meluangkan diri 
Bersatu dengan mereka yang menikmati
 Dan menjadi dasar perjuangan bagi para menikmatnya 

 Sang asap tak lupa dengan fungsinya Menjadi candu penikmat rasa yang tak hilang dalam hitam pahit manis itu 
Keangkuhan dan kesombongan luluh lantah dengan hadirnya mereka Kebersamaan dan kenikmatan perjuangan itu akan dirasakan bagi mereka yang menikmatinya

 Disini Tanah Kita 

 Dari tahun ke tahun 
Dari abad ke abad
 Aku dan kalian disini
 Di atas tanah ini 

 Rentetan keluarga dan sanak saudara Bermukim dan bersama disini 
Berkerja dan mencari nafkah disini 
Belajar dan dewasa disini

 Disini aku dan kalian berbenah 
Berdiri bersama membela tanah air tercinta 
Berjuang atas dasar Negara 
Bahkan berkorban demi sebuah cita-cita

 Tibalah saatnya Negara merdeka 
Merdeka atas dasar perjuangan nenek moyang kita 
Merdeka atas jajahan Kolonial 
Namun tunduk dengan kekayaan 

 Aku dan kalian kembali berjuang
 Berjuang atas dasar pergerakan nenek moyang 
Berjuang atas dasar perampasan paksa
Perampasan paksa oleh Negara terhadap tanah kita

 Para pemilik mulai resah
 Menurunkan pengaman-pengaman negeri kita 
Merampas tanah milik kita
 Merampas kekayaan nenek moyang kita 

Para pengaman mengeluarkan tembakan 
Aku dan kalian mengeluarkan semangat perlawanan
 Darah dan air mata bercucuran ditanah Korban itu adalah bumi putra 

 Komandan dan Bumi Putera 

 Dibelantara hutan mereka bernyanyi Bersuara dengan keras
Berteriak dengan nada mengayat hati
 Mengharap simpati dengan irama perjuangan

 Suara-suara perjuangan dilantunkan 
Lantunan indah dengan kebersamaan para komandan
 Teriakan perlawanan dengan simponi pembebasan
 Perjuangan para komandanpun dimulai

 Hutan berubah menjadi merah
 Irama berubah menjadi keras 
Teriakan kesakitan mulai terdengar
 Nada-nada indah berubah menjadi api 

Para komandan berteriak perlawanan dengan bantuan rakyat 
Memperjuangkan tanah dari penjajah 
Menduduki tanah para bumi putra 
Tanah asli milik mereka 

 Para komandan bukan menginginkan apa-apa
 Para komandan murni menginginkan pembebasan 
Kebebasan lahan garapan Sekiranya bumi putra merasakan hasilnya

Penulis : SubComandan Ilmidin