Pengajian atau Kampanye itu Beda Tipis
Cari Berita

Advertisement

Pengajian atau Kampanye itu Beda Tipis

Kamis, 09 November 2017

Saat kampanye Anis-Sandi pada acara senam pagi, pengajian dan kampanye akbar yang digelar oleh PKS (Foto : Sorotnews.co.id : Indonesian Political News)
Sulit membedakan antara kampanye dan pengajian. Ketika salah seorang bertanya apakah yang dilakukan seorang ustadz itu kampanye atau pengajian. Yang saya tahu keduanya sama-sama mengundang pembicara, sama-sama didengarkan orang ramai, sama-sama bahas soal. Dan sama-sama disuguh sekotak kue yang dibawa pulang, dimanakah bedanya.

Beberapa mengatakan materi kajiannya yang membedakan, apakah kampanye atau pengajian. Lantas, apa tak boleh agama dikampanyekan. Kebaikan dikampanyekan, bahkan kampanye masuk surga kenapa tidak. Sehingga harus dilarang atau dibubarkan.

Kampanye dan pengajian hanya istilah. Keduanya hanya metode dan cara menyampaikan sebuah kebajikan. Keduanya hanya soal selera dan olah rasa. Soal teste saya menyebutnya. Orang boleh datang dan pergi sesuai selera masing-masing. Lantas kenapa ribut.

Ramai soal ormas kerap membubarkan berbagai "kampanye" tentang khilafah oleh seorang ustadz (jurkam) sebuah ormas tanpa bentuk (OTB) memang menarik. 'Kampanye' itu alasan tepat kenapa harus dibubarkan. Alasan lainnya karena dianggap intoleran dan penyebar benci. Black campaign orang banyak menyebut. 

Kampanye, intoleran, penyebar benci, menjaga NKRI atau apapun hanya alasan untuk mengusir. Karena sejatinya kita belum mampu hidup berbeda. Ini alasan diberlakukan kepada siapapun yang dianggap mengganggu ke-Bhinnekaan. Lantas siapa pemegang otoritas tafsir keragaman dan toleransi itu. Sehingga berhak mengatakan ini boleh dan itu tak boleh.

Pada sisi lain ada kekuatan kelompok yang memaksakan menjadi yang paling kuat. Merasa paling berjasa dan membuat stigma kebenaran hanya yang datang dari lisan pemimpinnya. Mengaku sebagai pendiri dan soko guru bangsa sendirian tanpa yang lain. Seakan umat Islam selain kelompoknya tidak penting bahkan ditiadakan.

Soal besarnya adalah kita belum terbiasa berbeda. Pikiran kita tak sampai untuk bisa hidup bersama dalam perbedaan. Keragaman hanya jargon biasa, tak cukup membuat kita mampu menerima keragaman dalam kasunyatan.

Ini adalah soal kedewasaan berpikir, baik dalam berpolitik, bersosial, keberagamaan dan kemampuan mengelola negara. Tentang siapa yang layak menjadi guru bangsa. Tentang siapa pecundang, tentang siapa kelompok upportunis yang menunggu kesempatan dan tentang siapa yang bakal jadi tumbal.

Apapun yang terjadi, kapal besar tetap berlayar menuju Tanjung Harapan. Ini negara memuat berbagai manhaj dan pandangan hidup. Masing-masing sedang bertarung berebut kuat.

Masih perlukah berdebat soal keabsahan Pancasila sebagai falsafah bangsa, NKRI sebagai bentuk negara atau fundamen negara lainnya yang sudah susah payah diputuskan para foundhing father kita. 

Sikap NU dan Muhammadiyah pada muktamar Makasar sangat jelas, Negara sebagai Daarul Aqdy Was Syahadah. Negara adalah Perjanjian luhur para ulama, kaum nasionalis para pejuang dan seluruh bangsa Indonesia. Lalu ada sekelompok yang mencoba mengganti dengan sistem lain. Itu makar namanya!

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar