Pendidikan Tuna Moral, Nasib : Imam Malik dan Mpu Gandring
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Tuna Moral, Nasib : Imam Malik dan Mpu Gandring

Minggu, 19 November 2017

Ilustrasi (foto : Muwatta.com)
Sejak awal, Mpu Gandring seorang maha guru, pertapa digdaya di desa Palimbangan-Doko Blitar, itu sudah meragukan niat Ken Arok saat datang memesan keris. Meski inden dengan harga khusus, spesifikasi yang rumit dan njelimet, belum lagi deadline yang diberikan juga sangat mepet untuk ukuran keris spesial dengan tingkat kesulitan tinggi.

Padepokan Gandring begitu populair dan mempesona di tlatah Singhasari, Balitar dan Kadiri. Mpu Gandring masyhur dikalangan pendekar saat itu. Ia kerap menjadi referensi berbagai disiplin ilmu termasuk keahliannya membuat mata tumbak, pedang dan keris nyaris tanpa tanding. Tak heran banyak santri yang 'ngangsu kaweruh' berharap keberkahan ilmunya yang berlimpah.

Namun demikian Mpu Gandring tetap rendah hati, zuhud dan wara. Bahkan Gandring memilih hidup uzlah menyendiri di tengah hutan, menjauh dari hiruk pikuk keramaian Singhasari yang di sembur prilaku hedonis dan materialis para penguasa dan bangsawan.

Sambil berkacak pinggang di atas kuda. Arok memesan keris yang di-inginkan. Ia sebut beberapa spesifikasi, besaran harga sekaligus deadline yang dia tentukan sendiri, lalu pergi tanpa pamit diiringi para pengikut setianya terdiri para begal, pencoleng, kecu dan perompak. Sudahlah jamak bahwa Arok adalah seorang pencuri profesional yang meninggalkan tanda gigitan di kuping sebelah kiri pada setiap kurbannya.

Suaranya keras menggelegar, matanya merah tanda ambisi besar yang tak bisa dikendalikan dan nafsu angkara yang kuat menggelora. Ada banyak mau yang tak bisa dibenam dan Arok meraih dengan segala cara.

Waktu setahun yang dijanjikan Gandring terlalu lama bagi Arok, ia datang mengambil keris pesanan. Kecewa, karena keris masih setengah jadi dan rangka juga belum ada. Arok marah, ia bunuh Gandring gurunya lalu pergi. Tak peduli ketika Gandring yang sekarat mengutuk semua keturunannya bakal mengalami nasib sama.

Al Atha' salah seorang santri bersabar menunggu sepi hingga seluruh temannya pulang ketika ia hendak menyampaikan sebuah hadits tentang sunahnya menyelai jemari ketika Imam Malik bin Anas gurunya berkata: Tak ada tuntunan menyela jemari tangan dan kaki saat berwudhu. Pada kuliah malam di serambi masjid depan rumahnya.

Hadits tentang sunah menyela jari belum sampai kepada gurunya, tapi Al Atho tak lancang berkata, apalagi di depan orang banyak. Ia menahan diri menunggu saat yang tepat dan menyampaikan dengan santun. Pun dengan Imam Malik yang dengan senang hati menerima kabar dan segera mengubah fatwanya tentang sunah menyelai jemari saat berwudhu yang sebelumnya ia bantah.

Imam Malik bin Anas lahir tahun 711 Masehi atau tepatnya tahun 93 Hijriah. Sementara Mpu Gandring berada di kisaran Ken Arok yang lahir tahun 1182 Masehi menurut catatan dalam pararaton. Bisa dibandingkan perbedaan keduanya dalam kurun yang jauh berbeda.

Di tahun itu Imam Malik bin Anas sudah membukukan kodifikasi hadits, kitab sunan, men-syarah hadits, mendalami kalam, fiqh, tafsir dan sastra yang hingga hari ini masih menjadi referensi para mahasiswa menyusun tesis ataupun desertasi.

Adab seorang murid dan gurunya, mulai pupus dan hilang ditelan gadget. Imam Malik dan Mpu Gandring memang tak harus sama apalagi dibandingkan. Tapi kedua guru itu hanya ingin mengajarkan adab dan kesantunan kepada murid yang bakal menerima pengajaran darinya. 

Kedua guru itu tak ingin ilmu yang diajarkan disalah-gunakan. Imam Malik berpesan agar para santrinya menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan orang banyak begitupun dengan Mpu Gandring yang wanti-wanti agar kerisnya tak dipakai untuk membunuh.

Sebagaimana kita juga telah berpesan kepada semua murid di awal mengajar agar tak menggunakan ilmu yang kita ajarkan dipakai sebagai alat untuk menipu dan perbuatan tak patut lainnya.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar