Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Literasi Kritis
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Literasi Kritis

Kamis, 02 November 2017

Foto : Penulis
Keberhasilan sebuah pendidikan dapat dilihat dari sebuah perubahan setelah melaksanakan pendidikan. Berawal dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak mengerti menjadi mengerti.

Masyarakat Indonesia mengidentikkan pendidikan dengan keformalan. Sehingga tanggung jawab mendidik diserahkan pada dunia formal yaitu sekolah. Padahal seharusnya tanggung jawab mendidik tidak hanya diserahkan pada lembaga formal. Semua orang dapat mendidik dan melakukan pendidikan.

Pada era global, keluarga sebagai tulang punggung pendidikan karakter sulit diwujudkan. Salah satu penyebabnya tuntutan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan hidup. Padahal keluarga yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pendidikan karakter terhadap anak. Akan tetapi, menjadi tidak terpenuhi karena faktor-faktor tersebut. Oleh sebab itu, peran signifikan dari sekolah untuk mengganti peran keluarga sebagai tempat pendidikan karakter anak.

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat menjadi salah satu sarana pendidikan karakter di sekolah. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mengembangkan pembelajaran pada tiga ranah. Tiga ranah tersebut yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif.

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia meliputi lima aspek keterampilan, yaitu membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, dan menyimak. Lima aspek tersebut dapat dijadikan sarana untuk pembelajaran karakter pada anak, yaitu dengan penggunaan ancangan literasi kritis. Pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini bertumpu pada teks. Kesempatan ini dapat dioptimalkan oleh guru dengan memilih teks yang mampu mengajak siswa berpikir kritis.

Secara tidak langsung teks yang digunakan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mampu mengajarkan siswa untuk berkarakter. Pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kecemasan berbagai pihak terkait dengan kerusakan moral generasi muda yang saat ini telah sampai pada tahap mengkhawatirkan.

Perilaku menyimpang para generasi muda, seperti mengonsumsi narkoba, minuman keras, mencuri, tindak kekerasan, seks bebas, pornografi, dan sopan santun yang memudar sungguh perlu penanganan yang tepat dari berbagai pihak termasuk sekolah.

Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Secara umum, kegiatan literasi identik dengan kegiatan membaca dan menulis. Dunia pendidikan identik dengan dunia literasi.

Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di sekolah. Harapannya, gerakan literasi akan berujung pada sebuah kebiasaan membaca. Membaca tidak lagi menjadi sebuah paksaan namun kebutuhan.

Setelah membaca menjadi budaya, hendaknya hasil bacaan yang telah kita baca dapat dipahami dengan baik. Bahkan harus kita kritisi isinya. Artinya, kita harus mulai menanamkan budaya berliterasi secara kritis. Penggunaan literasi kritis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentunya diharapkan mampu menjadi jembatan untuk membentuk karakter siswa.

Teks sastra dan faktual yang digunakan dalam pembelajaran dapat disesuaikan oleh guru untuk mencapai tujuan pendidikan karakter tertentu. Terkait hal ini, peran guru sangat diperlukan karena guru harus memiliki wawasan tentang bacaan yang lebih. Hal ini selaras dengan pembelajaran kurikulum 2013 yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator.

Pembelajaran Bahasa Indonesia seharusnya memberikan kontribusi lebih terkait dengan pendidikan karakter. Materi kurikulum 2013 untuk mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang berbasis teks memungkinkan guru untuk menyelipkan materi karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui teks yang dipergunakan dalam pembelajaran.

Teks sastra ataupun faktual dapat dipilihkan yang bermuatan pendidikan karakter. Literasi kritis tidak hanya berbicara tentang pemilihan teks namun juga tentang menyusun pertanyaan kritis untuk menggali informasi dalam teks. Setelah memilih teks yang mengandung unsur pendidikan karakter hendaknya guru mampu menyusun pertanyaan yang mampu menggali kemampuan berpikir kritis siswanya. Sehingga siswa mampu menerjemahkan teks secara kritis.

Dengan demikian pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan mampu memfasilitasi berbagai kepentingan terutama kepentingan utama dunia pendidikan saat ini, yaitu pendidikan karakter.

Penulis : Imro’atul Hasanah (Mahasiswa Jurusan PBSI FKIP UMM)