Pembodohan Berkedok Cinta
Cari Berita

Advertisement

Pembodohan Berkedok Cinta

Selasa, 21 November 2017

Foto : Ilustrasi

Sahabat, aku ingin membocorkan sebuah rahasia, tentang pembodohan yang sangat sulit disadari dan dimengerti.

Kata orang cinta itu indah, namun berhati-hatilah terkadang yang indah itu justru merusak.

Cinta dimulai sejak aku duduk dibangku SMA, masa putih abu-abu yang bisa dibilang usia labil beranjak dewasa. Dimana pola pikirku masih sempit, penuh gejolak pemberontakkan, sangat mudah dipengaruhi dan diombang ambingkan oleh emosi.

Saat aku duduk dibangku SMA, Allah mempertemukanku dengan seorang anak, yang tidak usah saya sebutkan namanya. Dia adalah teman sekelasku, tampangnya biasa saja, cukup populer, playboy, tutur katanya sedikit tidak sopan, dan keras kepala pula. Tak ada yang spesial dari dirinya, namun ada sesuatu yang membuatku ingin dekat dengannya. Aku takut dia jodohku.

Kami mulai dekat sejak ia dan aku duduk berkumpul dan ngobrol-ngobrol bareng teman-teman sebangkuku, kemudian ia sering memberiku pesan singkat melalui SMS. Lalu berlanjut hingga saling menelepon, hingga akhirnya kami saling dekat. Dia mulai menyukaiku, tapi aku belum menyukainya. Hal ini dikarenakan aku tipe orang yang tidak gampang suka dan menaruh hati kepada cowok disamping itu ia memiliki watak yang buruk sehingga membuatku ilfeel. Namun aneh aku semakin takut bahwa dia adalah jodohku, entah dari mana asalnya pikiran semacam itu. Hingga akhirnya kuputuskan untuk berusaha mengubahnya.

Makin lama kami semakin dekat, tapi aku merasa ini tak salah, yang ada dipikiranku hanya rasa ingin memperbaiki sifat dan karakternya. Bahkan ingin memperbaiki agamanya sesuai dengan tipe suami idamanku karena sekali lagi aku takut dia adalah jodohku.

Aku mulai menasehati serta menyuruhnya melakukan banyak hal, memarahinya ketika apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan keinginanku. Aneh, semakin aku tidak menyukainya kami semakin dekat. Lama-kelamaan aku mulai terjangkit oleh virus merah jambunya. Memang benar, kelemahan wanita ada pada telinganya. Wanita sangat mudah dirayu, dipuji dan tersanjung meskipun oleh kepalsuan.

Aku mulai menyukainya, dan niat awalku untuk merubahnya mulai melenceng. Hubungan kami mulai tak normal, inikah yang dinamakan kasmaran? Teman-teman mulai mengompor-ngompori kami untuk berpacaran. Katanya pihak wanita akan dirugikan jika tidak ada hubungan yang jelas.

Hubungan kami benar-benar semakin aneh, dan kamipun melakukan hal-hal aneh seperti berkirim SMS mesra yang sangat tak penting, menelepon tanpa tujuan yang jelas, bahkan berusaha sesering mungkin untuk bertemu. Aku tak biasanya seperti ini. Ini bukan diriku. Aku kehilangan jati diriku. Dan diapun tak kunjung berubah.

Tahun mulai berganti hingga kami sama-sama lulus dan diterima di Universitas yang berbeda. Aku diterima disalah satu Universitas Swasta di Malang, sedangkan ia diterima disalah satu Universitas Negeri yang tak perlu saya sebutkan kotanya. Dan inilah awal kami memutuskan untuk berpacaran meskipun cukup sulit untuk kami melakukan hubungan jarak jauh. Sejak menginjak bangku kuliah aku mulai menyibukkan diri dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa. Tapi itu tidak membuatku untuk berhenti menasehatinya dan memikirkannya.

Disela kesibukanku aku menyempatkan untuk menghubunginya tak lupa pula disetiap waktu sholat tiba aku selalu mengingatkan agar ia tak melupakan lima waktunya. Begitupun seterusnya. Suatu ketika tanpa disengaja aku mulai jarang menghubunginya, dia selalu marah-marah ketika aku tidak memberinya kabar seberapa menit sekali. Kujelaskan padanya bahwa ini sungguh murni karena memang aku sibuk. Dia masih saja tak mau mengerti. Dan dia benar-benar tidak berubah. Sehinggan tanpa aku sadari ia telah menduakanku dan kembali lagi dengan mantan kekasihnya dulu.

Begitu sakit rasanya didada ini ketika aku mengetahui kenyataan itu sehingga rasanya ku ingin mati saja. Dan disinilah aku benar-benar menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya dan benar-benar merasa takut kehilangan. Tapi meskipun aku menyadari akan hal itu, aku lebih memilih untuk mengakhiri hubungan dengannya alias putus walaupun sebenarnya bukan hal itu yang kuinginkan.
Tahun mulai berganti lagi dan aku mulai diluluhkan oleh rayuan manis darinya, dan beribu janji yang ia tawarkan kepadaku, ia memohon kepadaku untuk bisa kembali lagi denganku sambil mengutarakan janjinya bahwa ia akan berubah, dan benar-benar berubah, sehingga akupun memutuskan untuk kembali dengannya lagi.

Waktu terus berjalan dan hubungan kami berjalan dengan mulus-mulus saja. Aku kembali mempercayaianya seperti dulu. Singkat cerita, kejadian seperti itupun terulang kembali, hubungan kami lagi-lagi tergoyahkan karena orang ketiga. Tapi ia tak ingin mengakuinya, ia mengatakan kepadaku bahwa aku terlalu cemburu, aku terlalu egois dan bla bla bla... hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hubungannya denganku secara sepihak. Ia meninggalkanku tanpa kata maaf, tanpa merasa bersalah dan malah banyak menuntut kepadaku untuk aku berubah membuang jauh-jauh sifat cemburuku itu, bahkan ia pun memintaku untuk menuruti apapun yang ia inginkan, sehingga kalau aku menurutinya ia mau kembali lagi denganku. Dan dengan bodohnya akupun mengiakan semuanya itu karena aku masih benar-benar tulus mencintainya, dan menginginkan dia berubah, diapun kembali lagi bersama denganku.

Selepas 2 minggu yang lalu setelah kami nyambung lagi, kejadian yang sama terulang kembali yaitu tentang orang ketiga. Benar firasatku bahwa ia belum berubah. Lagi-lagi aku diputuskan secara sepihak olehnya. Disini aku benar-benar merasa menjadi perempuan paling bodoh karena aku mengemis cinta darinya, mengemis untuk dimaafkan olehnya, rela menangis demi ia kembali lagi denganku, bahkan mengatakan rela melakukan apapun yang ia mau bahkan rela untuk diduakan olahhnya asal ia kembali lagi denganku tapi ia hanya menertawakanku dan tak kunjung mau kembali denganku. Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menangis 2 hari 2 malam tanpa mau makan sedikitpun, pertama kalinya mengemis-ngemis maaf kepada orang, mengemis-ngemis memintanya kembali, tak ada semangat untuk melakukan aktivitas apapun.

Disini aku benar-benar merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan benar, Kali ini ia benar-benar keluar dari kehidupanku, tanpa ingin menengok lagi untuk melihatku. Tanpa sepatah kata perpisahan yang terucap dari mulutnya, ia melangkah pergi meninggalkan banyak luka, tanpa mengucapkan kata maaf. Lagi-lagi dia pergi dengan seenaknya, pergi dengan sikap keras kepalanya dan egonya yang sangat tinggi, ia pergi tanpa ingin kembali lagi.

Aku mulai merenung dan mulai sadar betapa bodohnya aku telah melakukan semua ini. Aku mulai mengerti tak mungkin ada seseorang yang bisa mengubah orang lain. Betapapun ia adalah seorang motivator terkenal, betapapun ia adalah seorang sosok yang paling berpengaruh dalam hidup orang tersebut, bahkan betatapun ia memaksanya hingga mengancam untuk membunuhnya, seseorang takakan pernah berubah jika ia tak ingin. Ia tak akan pernah berubah jika tak ada niat dan kemauan dalam dirinya. Karena hanya dirinya sendirilah yang memiliki hak dan tanggung jawab penuh terhadap pilihannya. Karena berubah adalah pilihan hidup. Dan karena dirinya sendirilah yang akan menanggung konsekuensi dari pilihan yang telah ia buat.

Selepas dari kejadian tersebut aku menyadari bahwa Allah telah mengeluarkanku dari cinta buta, Allah telah membukakan mata hatiku bahwa ia tidak akan pernah berubah, ia bukanlah yang terbaik untukku, aku telah membuang-buang waktuku yang sangat berharga. Ia hanya menghalangi-halangi jodohku yang bahkan lebih baik daripada dia. Kini aku benar-benar ikhlas dan ridho melepaskannya.

Menurutku ini adalah cara terbaik untukku memperbaiki diri. Aku tak lagi khawatir mengenai masalah jodoh, karena Allah maha adil dan jodoh takkan mungkin ketukar. Aku juga mulai mengerti untuk memperbaiki diri, mulai berusaha untuk memantaskan diri untuk siapapun jodohku kelak. Aku selalu percaya bahwa wanita shalihah pasti akan mendapatkan pria yang shalih, pria yang baik akhlaknya pastilah untuk wanita yang baik pula akhlaknya.

Aku mulai belajar dengan giat, lebih gencar mencari ilmu, dan lebih dekat lagi dengan Allah. Akupun mulai membenahi hubunganku dengan orang-orang terdekatku (orang tuaku, adik-adikku, keluargaku, dan sahabat-sahabatku) karena mereka lebih berhak mendapatkan cinta dan kasih sayangku lebih daripada orang lain.