Pembelajaran Sastra Klasik Sebagai Wahana Pembentuk Karakter Peserta Didik
Cari Berita

Advertisement

Pembelajaran Sastra Klasik Sebagai Wahana Pembentuk Karakter Peserta Didik

Kamis, 02 November 2017

Ilustrasi (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM) calon Guru.
Karakter merupakan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaaan (feeling), dan tindakan (action). Karakter juga merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa atau peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang paripurna.

Pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan siswa sehari-hari di lingkungan masyarakat.

Namun, dalam pembentukan karakter siswa masih terdapat permasalahan dimana pendidikan karakter di sekolah selama ini masih pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai dan belum mencapai tingkatan internalisasi maupun tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diperlukan strategi pembelajaran yang dilakukan guru demi mengembangkan pendidikan yang berkarakter.

Menurut Kosasih, sastra klasik merupakan sarana pembuka pintu-pintu penemuan jati diri asli bangsa dan memberikan petualangan-petualangan atas kebenaran-kebenaran masa silam. Sastra klasik juga menyimpan nilai-nilai moral dan dipenuhi dengan nilai-nilai didaktis yang mampu memotivasi siswa.

Dengan membaca atau minyimak sastra klasik, siswa seolah berpetualang bersama pengalaman imajinatif yang herois bersama dengan sentuhan-sentuhan nilai-nilai spiritualitas yang sangat kental dan apabila disuguhkan dengan baik, sastra klasik bisa menjadi pengalaman pembelajaran yang mengasyikkan. Dengan mengapresiasi sastra klasik berarti mengenalkan siswa pada berbagai karakter yang sebagian besar merupakan refleksi dari realitas kehidupan bangsanya yang asli.

Pembelajaran sastra klasik dapat membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, serta mengembangkan cipta dan rasa. Kebermanfaatan dari sastra klasik dapat tercapai apabila sastra itu disajikan dengan ilustrasi yang menarik. Dengan sastra klasik, pertama, siswa dapat membentuk karakter yang positif dari tokoh-tokoh dalam karya sastra klasik tersebut, seperti mengajari siswa dalam mengendalikan emosi, misalnya benci, marah, cemas, khawatir dan sebagainya. Kedua, sastra klasik mampu mengembangkan imajinasi siswa dan memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada siswa.

Seperti yang diketahui bahwa sastra klasik memiliki banyak pesan di dalamnya seperti nilai keberanian, ketaqwaan, kesabaran, kesetiaan, persahabatan, kejujuran dan lain-lain. Ketiga melalui sastra klasik siswa memperoleh berbagai persepsi pribadi sendiri mengenai kehidupan tokoh yang perlu diteladaninya. Dengan demikian, pemahaman tentang sosok tokoh yang berkarakter ideal bisa menjelma menjadi perilaku siswa itu sendiri di dalam kehidupannya yang nyata.

Berdasarkan pemaparan di atas, kedudukan guru juga sangat penting dalam tercapainya pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu, peran guru di sini ialah memperkanalkan lebih banyak jenis karya sastra klasik kepada siswa, membantu siswa dalam menemukan daya tarik atau kebermanfaatan dari karya sastra klasik bagi diri siswa.

Selain perlunya memotivasi siswa untuk melakukan kreasi-kreasi sastra dari karya sastra klasik tersebut, guru juga harus mampu memunculkan problema yang mendorong daya apresiasi dan daya kritis siswa atas karya sastra klasik tersebut dengan berbagai kegiatan pembelajaran, tidak hanya membaca atau menyimak, namun juga bisa berdiskusi, studi literatur maupun bermain peran.

Penulis : Lilia Sari (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang)