Pahlawan Selanjutnya
Cari Berita

Advertisement

Pahlawan Selanjutnya

Sabtu, 11 November 2017

Foto : Penulis
Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati momentum sebuah pergerakan pasca kemerdekaan, itu dikenal sebagai hari Pahlawan.

Sejarahnya sangat begitu membekas, saat itu bangsa Indonesia benar-benar diuji nasionalismenya oleh negara lain. Belanda datang lalu mengibarkan bendera merah, putih, dan birunya disalah satu hotel yang ada di Surabaya. Hal itu memancing emosi rakyat Surabaya dan sekitarnya dan tokoh-tokoh perjuangan. Sebab mereka tidak terima bendera lain berkibar di negeri tercinta ini.

Mereka kemudin merobek warna biru dari bendera Belanda. Bukan asal merobek, banyak nyawa melayang untuk merobek salah satu warna pada warna bendera Belanda tersebut. Kobaran semangat Nasionalisme yang saat itu masih tinggi, tentu menghasilkan sebuah perjuangan yang sangat berarti.

Pejuang seperti bung Tomo berdiri kokoh untuk membela Nusantara, ribuan korbanpun berjatuhan karena tidak menerima jika bendera lain berkibar di tanah Nusantara.

Kita tidak bisa tahu seberapa tetes darah pahlawan untuk memprtahankan bangsa ini, mungkin bisa ribuan atau bahkan jutaan tetes.

Mereka mempertaruhkan hidup dan matinya untuk bangsa. Lalu, bagaimana dengan kondisi nasionalisme bangsa Indonesia saat ini?, jawabannya sungguh ironi. Kondisi bangsa Indonesia dulu dengan saat ini tidaklah sama. Jika dulu setiap orang harus mempertahankan kemerdekaan agar mendapat pengakuan dari negara lain. Tentu diera milinium ini cara menunjukan nasionalisme juga berbeda.

Kita bukan lagi mengangkat senjata, membunuh penjajah untuk memepertahakan kemerdekaan lagi. Melainkan kita harus ikut bersiap diri dan ikut serta menjaga identitas tanah Ibu Pertiwi. Mencintai segala sesuatu yang ada di dalamnya. Namun nyatanya, melihat keadaan yang terjadi sekarang. Kemajuan teknologi dan zaman membuat sebagian orang lebih tertarik untuk melihat keluar dari bangsanya sendiri. Ingatan-ingatan tentang pahlawan kemudian mulai luntur dan hilang di tengah-tengah generasi sekarang.

Saat ini Indonesia kembali dijajah dengan gaya baru, yaitu kebudayaan. Lihat saja remaja perempuan lebih memilih mempelajarai budaya K-POP asal Korea dari pada budaya sendiri. Begitu juga remaja laki-laki lebih hafal pemain-pemain bola luar negeri, anak-anak kecil lebih hafal bintang-bintang sinetron ketimbang pahlawan sendiri. Sungguh kondisi yang ironis, disaat bangsa membutuhkan kontribusi mereka.

Parahnya lagi, kita bisa lihat ditiap-tiap sekolah bagaimana siswa-siswa dan guru-guru terasa seperti ingin melupakan jasa pahlawan. Apa yang diharapkan dari generasi seperti itu jika mengikuti upacara setiap hari senin saja malas.

Diakhir tulisan singkat ini. Untuk menyikapi hari pahlawan, mari kita sama-sama menumbuhkan rasa nasionalisme kita. Mari kita sama-sama untuk mencintai segala sesuatu yang ada di dalam bangsa kita.

Pahlawan kita tidak akan pernah mati, dia akan terus hidup untuk memperbaiki bangsa ini. Pahlawan adalah sebuah pohon, dan kita adalah pohon baru yang tercipta dari biji-bijian pohon itu sendiri, dan kitalah yang akan menajdi pahlawan selanjutnya.

Penulis : M. Fahrurozy
Editor   : Muh. Ainul B